Perkembangan Penelitian, Dampak dan Pola Komersialisasi Kawasan Konservasi: Kajian Pustaka Sistematis
Danis Syahroni, Prof.Dr.Ahmad Maryudi; Dr.Ir.Muchammad Taufik Tri Hermawan S.Hut.,M.Sc.,IPU
2025 | Tesis | S2 Ilmu Kehutanan
Biaya pengelolaan yang tinggi dan tuntutan agar kawasan
lindung berkontribusi pada pengentasan kemiskinan telah mendorong pertumbuhan
komersialisasi kawasan konservasi secara pesat. Narasi ini terus berkembang,
seolah-olah komersialisasi adalah solusi mutlak untuk berbagai masalah dan
tantangan yang dihadapi oleh kawasan konservasi. Namun, degradasi lingkungan
dan persaingan yang berorientasi ekonomi antar pihak terkait menjadi perhatian serius
sebagai akibat komersialisasi kawasan konservasi. Oleh karena itu, penelitian
ini bertujuan untuk merangkum perdebatan mengenai komersialisasi kawasan konservasi
dengan menganalisis lanskap ilmiah dan faktor-faktor pembeda dalam dampaknya.
Menggunakan pendekatan tinjauan literatur sistematis, penelitian
ini menganalisis artikel yang diterbitkan dalam jurnal terindeks Scopus hingga
tahun 2024. Dilakukan pencarian kata kunci, diikuti dengan penyaringan abstrak
dan penilaian kelayakan, yang menghasilkan 275 artikel terpilih. Lanskap ilmiah
menunjukkan minat akademis yang kuat di bidang ini, terutama pada topik-topik
seperti mata pencaharian dan pariwisata, pembayaran jasa ekosistem (PES), serta
relasi kuasa dan penguasaan sumber daya. Dampak positif yang paling sering
diidentifikasi meliputi penciptaan lapangan kerja, peningkatan persepsi lokal
terhadap kawasan konservasi, pembentukan institusi yang efektif, tersedianya mata
pencaharian alternatif, dan pertumbuhan ekonomi regional. Sebaliknya,
konsekuensi negatif yang paling sering disebutkan meliputi ketidaksetaraan
ekonomi, gangguan mata pencaharian, partisipasi komunitas yang terbatas,
pengelolaan dana konservasi yang buruk, dan gentrifikasi. Meskipun masih kurang
dieksplorasi, dampak diskriminasi gender terkait dengan komersialisasi mulai
mendapat perhatian. Faktor pembeda terkait meliputi pola komersialisasi,
kondisi sosial ekonomi lokal, dan fase perkembangan komersialisasi kawasan
konservasi.
The high cost of management and the demand for conservation
areas to contribute to poverty alleviation have made the commercialization of conservation
areas grow rapidly. This narrative continues to be built, as if the
commercialization of conservation areas is an absolute solution to various
issues and problems of conservation areas. However, environmental degradation
and economic-oriented competition between parties are concerned due to the
commercialization of conservation areas. Therefore, This study aims to
summarize the debate on conservation commercialization by examining the
scientific landscape and analyzing differentiating factors in its impacts.
Using a systematic literature review approach, we
analyzed articles published in Scopus-indexed journals until 2024.
Keyword-based searches were conducted, followed by abstract screening and
eligibility assessments, resulting in 275 selected articles. Science mapping
reveals strong scholarly interest in this field, particularly in themes such as
livelihoods and tourism, payment for ecosystem services (PES), and the power
relations of resource control. The most frequently identified positive impacts
include job creation, improved local perceptions of conservation areas, the
establishment of effective institutions, alternative livelihood options, and
regional economic growth. Conversely, frequently cited negative consequences
include economic inequality, disruption of livelihoods, limited community
participation, poor management of conservation funds, and gentrification. While
still underexplored, gender discrimination risks linked to commercialization
are gaining attention. Key correlated differentiating factors include state-led
commercialization patterns, local socioeconomic conditions, and the stage of
commercial activity development.
Kata Kunci : Commercialization, Conservation Area, Science Mapping, Consequence, Impact