ANALISIS KEBERLANJUTAN PENGELOLAAN HUTAN RAKYAT DI KALURAHAN GIRITIRTO, KAPANEWON PURWOSARI, KABUPATEN GUNUNGKIDUL
Yanuar Wibowo, Prof. Dr. Ir. Ronggo Sadono, IPM.
2025 | Skripsi | KEHUTANAN
Hutan rakyat di Kalurahan Giritirto, Kapanewon Purwosari, Kabupaten Gunungkidul memberikan manfaat yang signifikan dari aspek produksi, sosial, dan ekologi. Masyarakat menggantungkan hidupnya pada hasil agroforestri dari hasil pertanian untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari hingga hasil kehutanan untuk tabungan jangka panjang melalui tebang butuh. Namun, keberlanjutan pengelolaan hutan rakyat tersebut menghadapi berbagai ancaman, seperti kekeringan akibat kondisi geologi karst, banjir di wilayah yang lebih rendah, dan aktivitas penambangan batu gamping. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat keberlanjutan pengelolaan hutan rakyat di lokasi tersebut.
Standar penilaian yang digunakan dalam analisis keberlanjutan ini adalah Standar LEI 5000-3 (2002) yang telah termodifikasi oleh Tohirin (2021). Standar ini mengombinasikan aspek, kriteria, dan indikator secara hierarki dalam proses penilaiannya. Modifikasi tersebut dilakukan dengan tujuan untuk lebih representatif dalam menggambarkan keberlanjutan sesuai dengan karakteristik hutan rakyat. Dalam proses pengambilan data, dikombinasikan berbagai cara seperti observasi lapangan, wawancara, kuesioner, studi literatur, hingga analisis citra. Selanjutnya, analisis dalam penelitian ini melibatkan para pakar untuk memberikan pembobotan kriteria dan indikator dengan metode Analytical Hierarchy Process (AHP).
Nilai akhir kinerja keberlanjutan hutan rakyat di Kalurahan Giritirto adalah 74,70% yang tergolong berpredikat Cukup menurut LEI (2002). Ditinjau dari Tohirin (2021), nilai total indikator baik adalah 33,33%, sedang 45,83%, dan buruk 20,83?n masuk dalam kategori Sedang. Lebih spesifik, aspek produksi berpredikat sedang, sosial baik, sementara ekologi buruk. Terdapat lima indikator dengan nilai buruk, khususnya pada aspek ekologi dan produksi. Maka dari itu, pengelolaan hutan rakyat di Kalurahan Giritirto belum memenuhi syarat minimum keberlanjutan.
Community forest in Giritirto Village, Purwosari Subdistrict, Gunungkidul Regency provide significant benefits across production, social, and ecological aspects. Local communities rely on agroforestry systems, utilizing agricultural outputs for daily needs and forest resources as long-term savings through a selective logging practice. However, this sustainability is increasingly threatened by challenges such as drought due to karst geology, downstream flooding, and limestone mining. This study aims to assess the sustainability level of community forest management in the area.
The analysis uses a modified version of the LEI 5000-3 (2002) sustainability standard, adapted by Tohirin (2021), which structures assessment through a hierarchical combination of aspects, criteria, and indicators. Data collection involved field observations, interviews, questionnaires, literature reviews, and remote sensing analysis. Furthermore, expert judgment was incorporated using the Analytical Hierarchy Process (AHP) to assign weightings for the criteria and indicators.
The final sustainability performance score of community forests in Kalurahan Giritirto was 74.70%, which falls into the "Moderate" category according to the criteria set by LEI (2002). Based on the assessment framework by Tohirin (2021), the proportion of indicators rated as good was 33.33%, moderate 45.83%, and poor 20.83%, placing the overall performance in the "Moderate" category. More specifically, the production aspect was rated as moderate, the social aspect as good, and the ecological aspect as poor. There were five indicators that received poor ratings, particularly within the ecological and production dimensions. Therefore, the management of community forests in Kalurahan Giritirto has not yet met the minimum requirements for sustainability.
Kata Kunci : Keberlanjutan, Hutan Rakyat, Tebang Butuh, Analytical Hierarchy Process (AHP)