Preferensi Petani Hutan Rakyat Terhadap Skema Kredit Karbon di Kabupaten Gunungkidul, Yogyakarta
Ratna Mutiarini, Ir. Dwiko Budi Permadi, S.Hut., M.Sc., Ph.D., IPU ; Dr. Pandu Laksono., SP., M. GFAB
2025 | Tesis | S2 Ilmu Kehutanan
Perubahan iklim menjadi tantangan global yang mendorong perlunya upaya mitigasi melalui pendekatan berbasis lahan, salah satunya melalui proyek penyerapan karbon yang dikembangkan ke dalam skema kredit karbon. Tren pasar karbon sukarela menunjukkan adanya peningkatan permintaan terhadap proyek yang menawarkan co-benefit yang membuka peluang bagi petani hutan kecil di negara berkembang. Hutan rakyat di Indonesia khususnya di Gunungkidul, memiliki potensi besar untuk pengembangan proyek simpanan karbon. Meski demikian, keterlibatan petani kecil dalam skema ini seringkali terhambat, yang disebabkan oleh ketidaksesuaian skema yang ditawarkan dengan kondisi lokal. Oleh karena itu, studi ini bertujuan untuk menganalisis preferensi lokal petani hutan rakyat di Kabupaten Gunungkidul terhadap atribut-atribut terhadap skema kredit karbon dengan menggunakan pendekatan Choice Experiment (CE).
Survei dilakukan terhadap 190 petani hutan rakyat yang tersebar secara proporsional dari berbagai zona wilayah Gunungkidul. Hasil analisis menggunakan model Conditional Logit menunjukkan bahwa secara umum petani hutan rakyat lebih tertarik dengan skema kredit karbon daripada kondisi saat ini. Petani hutan rakyat lebih menyukai desain skema kredit karbon dengan durasi yang lebih pendek, memberikan dukungan teknis tambahan, memberikan fleksibilitas dalam penebangan, dan mampu memberikan kompensasi pendapatan yang lebih tinggi. Temuan ini memberikan informasi pentingnya menyusun skema kredit karbon yang adaptif terhadap konteks sosial-ekonomi petani dan menawarkan insentif yang tidak hanya bersifat finansial, guna meningkatkan partisipasi dan keberlanjutan program
limate change is a global issue that demands mitigation action through land-based approaches, one of which is through carbon sequestration projects developed under carbon credit schemes. Trends in the voluntary carbon market show an increasing demand for projects that offer co-benefits, opening up opportunities for smallholder forest farmers in developing countries. Community forests in Indonesia, particularly in Gunungkidul, have significant potential for the development of carbon storage projects. However, the involvement of smallholder farmers in these schemes is often hindered by the misalignment of the offered schemes with local conditions. Therefore, this study aims to analyze the local preferences of smallholder forest farmers in Gunungkidul Regency regarding the attributes of a carbon credit scheme using a Choice Experiment (CE) approach.
The survey was conducted among 190 forest farmers selected proportionally from various regional zones within Gunungkidul. Analysis using a Conditional Logit model reveals that community forest farmers are generally more interested in participating in a carbon credit scheme than maintaining the status quo. They prefer carbon credit scheme designs with shorter contract durations, the inclusion of additional technical support, greater flexibility in harvesting, and higher income compensation. These findings highlight the importance of designing carbon credit schemes that are adaptive to the socio-economic context of smallholders and offer incentives that extend beyond financial rewards to enhance participation and ensure program sustainability.
Kata Kunci : kredit karbon, hutan rakyat, choice experiment, preferensi petani