Laporkan Masalah

Memori dan Identitas Kolektif Komunitas Keluarga Repatrian Suriname di Tongar dan Kampung Suriname, 1954-2004

Suparmi, Dr. Widya Fitria Ningsih, S.S., M.A.

2025 | Tesis | S2 Sejarah

Penelitian ini mendiskusikan memori dan identitas kolektif komunitas keluarga repatrian Suriname di Tongar dan Kampung Suriname pada  1954 sampai 2004, dengan tujuan memahami bagaimana pengalaman dan memori kolektif para repatrian Suriname tahun 1954 membentuk identitas kolektif mereka dan keturunannya pasca kembali ke tanah air. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah, dengan memanfaatkan sejumlah sumber primer seperti sejarah lisan, dokumen ego, khususnya album foto, majalah dan koran sezaman, serta arsip tekstual dan visual. Analisis ini menggunakan konsep memori dan identitas sebagai alat untuk memeriksa rekonstruksi identitas kolektif di antara para repatriat Suriname dan keturunan mereka di Tongar dan Kampung Suriname. Penelitian ini menunjukkan bahwa solidaritas mereka telah terbentuk sejak ketika menjadi diaspora di Suriname masa kolonial.

Tedapat empat kesimpulan dalam tesis ini. Pertama, narasi “tunggal sekapal” membentuk identitas simbolik sebagai saudara sekapal, yakni kekerabatan imajiner yang menyatukan para repatrian sebagai satu keluarga dengan identitas sebagai repatrian Suriname. Kedua, generasi kedua repatrian Suriname membentuk identitas khas sebagai keturunan repatrian Suriname sekaligus pewaris budaya Jawa-Suriname, dengan menyesuaikan unsur-unsur budaya terhadap konteks sosial lokal. Ketiga, identitas komunitas repatrian Suriname dan keturunannya secara spasial menunjukkan variasi, di mana di Tongar mereka kembali mengidentifikasi diri sebagai orang Jawa didukung oleh kehadiran transmigran Jawa, sementara di Kampung Suriname budaya Jawa-Suriname lebih berorientasi pada hiburan namun turut memudar, dan mereka mengidentifikasi diri sebagai komunitas yang lebih terbuka dan adaptif terhadap berbagai budaya. Keempat, repatrian Suriname dan keturunannya di berbagai wilayah, terutama saat perayaan HUT repatrian Suriname, disatukan kembali dan menegaskan identitas kolektif sebagai keluarga atau keluarga besar repatrian Suriname, di mana memori diaspora, perjalanan kepulangan 1954, dan perjuangan membangun Tongar menjadi sumber solidaritas dan identitas kolektif.

This research discusses the collective memory and identity of the Surinamese repatriate community in Tongar and Kampung Suriname from 1954 to 2004, with the objective of comprehending how the historical experiences and collective memory of the 1954 Surinamese repatriates influenced their collective identity and that of their descendants after returning to their homeland. This research employs historical research methods, drawing upon a range of primary sources, including oral history, personal documents, particularly photo albums, contemporary magazines and newspapers, as well as textual and visual archives. The analysis utilizes the concepts of memory and identity as tools to examine the reconstruction of collective identity among Surinamese repatriates and their descendants in Tongar and Kampung Suriname. This research shows that their solidarity has been formed since they became a diaspora in Suriname during the colonial period.

There are four conclusions in this thesis. First, the narrative of “tunggal sekapal” formed a symbolic identity as shipmates, an imaginary kinship that united the repatriates as one family with an identity as “repatrian Suriname”. Second, the second generation of Surinamese repatriates form a distinctive identity as descendants of Surinamese repatriates and heirs to Javanese-Surinamese culture, adapting cultural elements to the local social context. Third, the spatial identity of the Surinamese repatriate community and their descendants shows variation, where in Tongar they re-identify themselves as Javanese supported by the presence of Javanese transmigrants, while in Kampung Suriname, Javanese-Surinamese culture is more oriented toward entertainment but is also fading, and they identify themselves as a community that is more open and adaptive to various cultures. Fourth, Surinamese repatriates and their descendants in various regions, especially during the Surinamese repatriation anniversary celebrations, are reunited and reaffirm their collective identity as “keluarga repatrian Suriname”, where diaspora memories, the 1954 return journey, and the struggle to build Tongar serve as sources of solidarity and collective identity.

Kata Kunci : memori, repatrian Suriname, Keluarga repatrian Suriname, Tongar, Kampung Suriname/memory, repatrian Suriname, keluarga repatrian Suriname, Tongar, Kampung Suriname

  1. S2-2025-495619-abstract.pdf  
  2. S2-2025-495619-bibliography.pdf  
  3. S2-2025-495619-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2025-495619-title.pdf