Evaluasi Stabilitas Lereng Terhadap Fondasi Kolom Pier Penyambung Girder Abutment Pada Akses Jalan Tol Jembatan Brambang STA 6+388 Proyek Pembangunan Jalan Tol Solo - Jogja - NYIA Kulon Progo Paket 1.1 PT. Adhi Karya (Persero), Tbk.
Taufiq Wibowo, Ir. Dian Sestining Ayu, S.T., M.T.
2025 | Tugas Akhir | D4 TEKNIK PENGELOLAAN DAN PEMELIHARAAN INFRASTRUKTUR SIPIL
Kelongsoran lereng merupakan fenomena geoteknik yang seringkali menimbulkan
kerusakan pada infrastruktur jembatan. Penelitian ini bertujuan untuk
mengidentifikasi faktor-faktor utama yang berpotensi mempengaruhi kelongsoran
lereng pada Proyek Pembangunan Jalan Tol Solo – Yogyakarya – NYIA Kulon Progo
Paket 1.1 PT. Adhi Karya (Persero), Tbk. di pier
kolom penyambung girder Jembatan Brambang STA 6+388. Evaluasi
stabilitas lereng memiliki urgensi cukup tinggi karena bertujuan untuk
membandingkan kondisi eksisting lereng dengan kondisi saat beban jembatan sudah
bekerja serta jika tidak mampu memenuhi nilai faktor aman kestabilan lereng
yang diinginkan maka perlu dilakukan penambahan perkuatan lereng pada area
lereng jembatan.
Metode pengumpulan data seperti data geoteknik, topografi, dan data
struktur jembatan ditentukan dari 2 tipe data yaitu data primer dan sekunder.
Data primer melalui survey langsung ke lokasi secara bertahap dan melakukan
wawancara dengan supervisor terkait
di lokasi. Data sekunder didapatkan dari data borelog, dan gambar kerja atau
detail engineering design
(DED) Jembatan Brambang. Metode analisis dilakukan dengan pemodelan numerik baik
untuk analisis struktur yang digunakan untuk mendapat nilai joint reaction Jembatan Brambang dengan
ketentuan yang mengacu pada SNI 1725:2016 tentang Pembebanan pada Jembatan
dibantu dengan software berbasis
analisis numerik struktur maupun untuk analisis geoteknik menggunakan finite element method (FEM) dibantu
dengan software finite element method
(FEM) untuk mendapatkan angka keamanan lereng, serta hitungan manual untuk
perhitungan kontrol stabilitas dinding penahan tanah (DPT).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor seperti ketinggian
lereng, data penyelidikan tanah (uji SPT), dan faktor beban struktur jembatan memiliki
pengaruh signifikan terhadap kecenderungan kelongsoran. Pada kondisi eksisting
saat lereng belum dilakukan konstruksi jembatan didapat nilai SF sebesar 0.99
(lereng tidak stabil) dan kondisi eksisting saat struktur bawah jembatan
dilakukan konstruksi memiliki nilai SF sebesar 1.015 (lereng tidak stabil)
sehingga disimpulkan bahwa struktur bawah (fondasi dan pilecap) jembatan hanya dapat menahan beban jembatan Hasil analisis
perkuatan lereng menggunakan sistem gabion didapat nilai faktor aman (SF)
sebesar 1.627 (kondisi lereng stabil), dari hasil ini memperlihatkan kenaikan
SF dari kondisi eksisting 2 sebelum dilakukan perkuatan. Hasil analisis untuk
kontrol stabilitas diperoleh nilai SF sebesar 2.349 terhadap bahaya guling dan
2,794 terhadap bahaya geser. Untuk stabilitas terhadap keruntuhan kapasitas
dukung tanah diperlihatkan bahwa qmaks yang terjadi kurang dari qmaks all yaitu
167.916 kN/m2 kurang dari 249.120 kN/m2.
Slope failure is a geotechnical phenomenon that often causes
damage to bridge infrastructure. This research aims to identify the main
factors potentially influencing slope failure at the Solo – Yogyakarta – NYIA
Kulon Progo Toll Road Project Package 1.1 by PT. Adhi Karya (Persero), Tbk.,
specifically at the pier column connecting the girder of Brambang Bridge STA
6+388. Evaluating slope stability is highly urgent to compare the existing
slope conditions with those under the bridge's operational load. If the slope
stability factor of safety criteria are not met, additional slope reinforcement
may be necessary in the bridge slope area.
Data collection methods
include geotechnical data, topography, and bridge structure data obtained
through primary and secondary sources. Primary data involves progressive
on-site surveys and interviews with relevant supervisors. Secondary data is
derived from borelog data and detailed engineering design (DED) drawings of
Brambang Bridge. Analytical methods include numerical modeling for structural
analysis to determine Brambang Bridge joint reaction values per SNI 1725:2016 “loading
requirements for bridge” using structural numerical analysis software.
Geotechnical analysis involves finite element method (FEM) using finite element
method (FEM) software to assess slope safety factors and manual calculations
for retaining wall stability analysis.
Research findings indicate
that factors such as slope height, soil investigation data (SPT test), and
structural bridge loading significantly influence the tendency for slope
instability. In the existing condition before bridge construction, the safety
factor (SF) was found to be 0.99 (unstable slope). After the construction of
the bridge substructure, the SF improved to 1.015 (unstable slope). This
suggests that the bridge substructure (foundation and pilecap) can only support
the bridge loads. Analyzing the slope reinforcement using gabion systems yielded
a safety factor (SF) of 1.627 (stable slope), showing an increase from the
existing condition (SF 1.015) before reinforcement, a difference of 0.612.
Stability control analysis resulted in SF values of 2.349 against overturning
and 2.794 against sliding hazards. Regarding soil bearing capacity collapse, it
was observed that the maximum allowable bearing pressure (qmaks) of 167.916
kN/m² was less than the all-maximum bearing pressure (249.120 kN/m²).
Kata Kunci : stabilitas lereng, jembatan, gabion, stabilitas DPT