PENGENDALIAN Fusarium oxysporum PENYEBAB PENYAKIT TANAMAN BAWANG MERAH (Allium cepa L.) DENGAN Trichoderma asperellum DAN Rhizophagus aggregatus
Cindy Adisty Rudi Ananda Putri, Prof. Rina Sri Kasiamdari, S.Si., Ph.D.
2025 | Skripsi | BIOLOGIBawang merah (Allium cepa L.) merupakan komoditas hortikultura penting di Indonesia, namun produksinya sering menurun akibat penyakit moler yang disebabkan oleh Fusarium oxysporum. Penggunaan fungisida sintetis yang berlebihan menimbulkan dampak negatif, sehingga diperlukan alternatif ramah lingkungan seperti agen hayati Trichoderma asperellum dan Rhizophagus aggregatus. Penelitian ini bertujuan menguji potensi kedua agen dalam mengendalikan F. oxysporum. Metode meliputi identifikasi morfologi patogen, uji daya hambat T. asperellum secara in vitro, serta uji efektivitas kombinasi agen hayati secara in vivo. Hasil menunjukkan bahwa T. asperellum menghambat pertumbuhan patogen hingga 93,26?n kombinasi dengan R. aggregatus menurunkan kolonisasi patogen hingga 66,68%. Kombinasi ini juga meningkatkan pertumbuhan tanaman, khususnya jumlah daun dan biomassa tajuk. Temuan ini menunjukkan efektivitas agen hayati dalam menekan penyakit serta mendukung pertumbuhan bawang merah secara berkelanjutan.
Shallot
(Allium cepa L.) is an important horticultural commodity in Indonesia,
but its production is often reduced by moler disease caused by Fusarium
oxysporum. Excessive use of synthetic fungicides has led to negative
impacts, highlighting the need for eco-friendly alternatives such as the
biocontrol agents Trichoderma asperellum and Rhizophagus aggregatus.
This study aimed to evaluate the potential of these agents in controlling F.
oxysporum. Methods included morphological identification of the pathogen,
in vitro inhibition assay of T. asperellum, and in vivo effectiveness
tests of the combined agents. Results showed that T. asperellum
inhibited pathogen growth by up to 93.26%, while its combination with R.
aggregatus reduced pathogen colonization by 66.68%. The combination also
improved plant growth, particularly leaf number and shoot biomass. These
findings demonstrate the effectiveness of biological agents in suppressing the
disease and promoting sustainable shallot cultivation.
Kata Kunci : Bawang merah, Fusarium oxysporum, Rhizophagus aggregatus Trichoderma asperellum.