Laporkan Masalah

Mencipta Ruang, Menumbuhkan Daya: Studi tentang Praktik Pemberdayaan Kelompok Difabel Pelita Bersama Garut

Diona Marva Leilani, Agus Indiyanto, S.Sos., M.Si.

2025 | Skripsi | ANTROPOLOGI BUDAYA

Masyarakat difabel masih sering ditempatkan dalam posisi pasif, sekadar penerima bantuan, tanpa ruang untuk menunjukkan bahwa mereka sebenarnya mampu mengelola hidupnya sendiri. Praktik pemberdayaan yang bersifat karikatif kerap menimbulkan ketergantungan dan justru semakin memperkuat ketidakberdayaan itu sendiri. Pelita Bersama, salah satu mitra CSR PLN Indonesia Power UBP Kamojang, hadir sebagai ruang kolektif yang menawarkan model pemberdayaan di mana anggotanya menjadi aktor aktif dalam mengelola proses pemberdayaan. Karenanya, penelitian ini berangkat dari pertanyaan utama mengenai mengapa pemberdayaan di Pelita Bersama bisa berhasil hidup dan bertahan di tangan anggotanya? Untuk menjawabnya, penelitian ini juga melihat bagaimana program-program di dalamnya dirancang, dijalankan, dimaknai, serta dipertahankan oleh anggotanya. Metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan observasi non-partisipatif dan wawancara mendalam.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa keberhasilan pemberdayaan yang utuh dalam kelompok Pelita Bersama bukan hanya karena desain program CSR yang terstruktur, tetapi juga dari kemampuan anggota menghidupi ruang kerja kolektif melalui kerjasama partisipatif, solidaritas sosial, dan keberanian untuk menjaga keberlanjutan usaha dengan skema koperasi sederhana. Praktik pemberdayaan ini memunculkan perubahan dalam tiga dimensi: (1) kekuatan sosial, berupa akses pada pengetahuan, jejaring, dan organisasi; (2) kekuatan politik, berupa keberanian menyuarakan aspirasi dan arah kelompok; (3) kekuatan psikologis, berupa meningkatnya rasa percaya diri dan pengakuan sosial. Temuan ini menegaskan pentingnya menempatkan difabel sebagai subjek aktif pembangunan dan mendukung praktik pemberdayaan berbasis komunitas yang inklusif dan berkelanjutan.

Difable people are still often placed in a passive position, merely as recipients of aid, without the space to demonstrate that they are in fact capable of managing their own lives. Charitable empowerment practices tend to create dependency and, paradoxically, reinforce disempowerment itself. Pelita Bersama, one of the CSR partners of PLN Indonesia Power UBP Kamojang, emerged as a collective space offering a model of empowerment where its members become active agents in managing the process themselves. This research therefore departs from the main question: why does empowerment in Pelita Bersama continue to thrive and endure in the hands of its members? To answer this, the study also examines how the programs were designed, implemented, interpreted, and sustained by the members. This study employs a qualitative approach, combining non-participant observation and in-depth interviews.

The findings show that the success of empowerment in Pelita Bersama stems not only from well structured design of the CSR program, but also from the members' ability to sustain the collective work space through participatory collaboration, social solidarity, and the courage to maintain continuity via a simple cooperative scheme. This practice of empowerment has generated changes across three dimensions: (1) social power, manifested in access to knowledge, networks, and organizational resources; (2) political power, in the form of courage to voice aspirations and influence the group's direction; and (3) psychological power, seen in improved self-confidence and social recognition. These findings reaffirm the importance of positioning difable people as active subjects of development and of supporting inclusive, community-based empowerment practices that are sustainable and transformative.

Kata Kunci : CSR, difabel, pemberdayaan, Pelita Bersama, program partisipatif

  1. S1-2025-476865-abstract.pdf  
  2. S1-2025-476865-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-476865-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-476865-title.pdf