Laporkan Masalah

Dari Malan ke Bagawi : Perubahan Mode Produksi Petani Bakumpai di Lahan Pasang Surut Provinsi Kallimantan Selatan

NASRULLAH, Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa-Putra, M.A., M.Phil

2025 | Disertasi | S3 Antropologi

Orang Bakumpai  sebagai bagian dari suku bangsa Dayak memiliki mata pencarian primer bertani (malan) dan mata pencarian  sekunder  yakni bekerja (bagawi) di padang. Orang Bakumpai mulai meninggalkan mata pencarian bertani (malan) dan bertumpu pada bekerja (bagawi) di padang yang membuat mereka  harus memenuhi kebutuhan primer dan sekunder sekaligus.  Oleh karena itu, disertasi ini mengajukan pertanyaan (1) Mengapa orang Bakumpai mulai meninggalkan mata pencarian bertani (malan)? (2) Mengapa orang Bakumpai bekerja (bagawi) di padang sebagai ganti mata pencarian bertani? Dan (3) Mengapa terjadi perubahan mode produksi dari bertani (malan) ke bekerja (bekerja)? Pengumpulan data dilakukan dengan observasi lapangan di desa Jambu Baru kecamatan Kuripan selama dua semester yakni tahun 2021 hingga tahun 2022. Peneliti tinggal di desa, pergi ke sawah dan padang untuk mengamati, mewawancarai dan tentu saja menghimpun catatan lapangan.
Temuan penelitian memperlihatkan Orang Bakumpai yang pada mulanya memiliki teknik ampbihian atau mode produksi ganda yakni bertani (malan) dan bekerja (bagawi). Pertama, ternyata orang Bakumpai meninggalkan bertani (malan) disebabkan berkurangnya tenaga kerja, perubahan persepsi petani, kemarau panjang hingga gagal panen. Faktor penarik terbukanya aksesibilitas pendidikan dan hadirnya bantuan sosial. Kedua, bagian terpenting dari penelitian ini, orang Bakumpai bertumpu dalam bekerja (bagawi) karena terjadi diversifikasi berbagai mata pencarian. Kelebihan bekerja (bagawi)  di Padang yakni  fleksibilitas pada perpindahan (shifting) pekerjaan. Ketiga, terjadi perubahan mode produksi dari bertani (malan) ke bekerja (bagawi) karena  munculnya berbagai perubahan yang tidak dapat dihindari oleh orang Bakumpai sehingga mereka memilih kembali ke kampung (return home).  Proyek pemerintah melalui PLG Sejuta Hektar  di Kalimantan Tengah. Menjadi tenaga harian di perkebunan sawit berada pada struktur hierarkis perkebunan yang membuat orang Bakumpai tidak bisa bekerja secara mandiri. Tersedianya peluang bekerja di desa sendiri melalui proyek infrastruktur desa yang menggunakan dana desa dikelola oleh pemerintahan desa. 

Kata kunci: bekerja, bertani, moda produksi


The Bakumpai people, as part of the Dayak ethnic groups, have farming (malan) as their primary livelihood and working (bagawi) in the fields (padang) as their secondary livelihood. However, the Bakumpai people have begun to abandon farming (malan) and rely on working (bagawi) in the fields (padang), which requires them to fulfill both primary and secondary needs simultaneously. Therefore, this dissertation poses the following questions: (1) Why have the Bakumpai people begun to abandon farming (malan)? (2) Why do the Bakumpai people work (bagawi) in the fields (padang) as a substitute for farming? And (3) Why has there been a shift in the mode of production from farming (malan) to working (bagawi)? Data collection was conducted through field observations in the village of Jambu Baru, Kuripan sub-district, over two semesters from 2021 to 2022. The researcher lived in the village, visited the rice fields and grasslands to observe, conduct interviews, and compile field notes. 
The findings of the study show that the Bakumpai people originally had a dual mode of production, namely farming (malan) and working (bagawi). Firstly, it is evident that the Bakumpai people abandoned farming (malan) due to a decline in labor, changes in farmers' perceptions, prolonged droughts, and crop failures. The pull factors were improved access to education and the availability of social assistance. Secondly, the most significant aspect of this research is that the Bakumpai people's reliance on working (bagawi) in fields (padang) stems from the flexibility in job shifting. Thirdly, the shift in production mode from farming (malan) to working (bagawi) occurred due to various unavoidable changes faced by the Bakumpai people, leading to their return to their villages. Working as daily laborers in oil palm plantations places the Bakumpai people within the hierarchical structure of the plantation, preventing them from working independently. Opportunities for work in their own villages are available through village infrastructure projects funded by village budgets, which are managed by the village government.


Kata Kunci : work, farming, mode of production

  1. S3-2025-468279-abstract.pdf  
  2. S3-2025-468279-bibliography.pdf  
  3. S3-2025-468279-tableofcontent.pdf  
  4. S3-2025-468279-title.pdf