The Role of Hutu Women in the 1994 Rwandan Genocide
Nadia Jasmine Alexandra, Ririn Tri Nurhayati, S.IP., M.Si., M.A., Ph.D.
2025 | Skripsi | Ilmu Hubungan Internasional
Genosida Rwanda 1994, juga dikenal sebagai Genosida terhadap Suku Tutsi, merupakan periode kekerasan massal yang mengerikan dan mengakibatkan hilangnya sekitar setengah juta jiwa. Penelitian sebelumnya telah berfokus pada aspek budaya, ekonomi, dan sosial-politik sebelum genosida, akan tetapi, aspek gender seringkali terabaikan. Mengingat jumlah korban jiwa yang signifikan, hal ini mencerminkan sifat partisipasi yang meluas, sehingga mencakup semua lapisan masyarakat Rwanda, termasuk perempuan Hutu. Meskipun perempuan kerap digambarkan sebagai korban selama periode kekerasan massal, Genosida Rwanda 1994 menunjukkan bahwa perempuan bukan hanyalah korban, tetapi juga pelaku genosida.
Oleh karena itu, skripsi ini berupaya mengkaji peran perempuan Hutu dalam Genosida Rwanda 1994 dengan menggunakan sepuluh tahap genosida (the Ten Stages of Genocide model) oleh Gregory Stanton (2016), dengan penjelasan lebih lanjut mengenai pergeseran peran perempuan Hutu yang terjadi sebelum dan selama genosida dipandu oleh feminisme pasca-struktural. Skripsi ini mengeksplorasi bagaimana gender digunakan untuk memobilisasi perempuan Hutu untuk melakukan kekerasan terhadap Suku Tutsi, dan bagaimana atau mengapa perempuan Hutu mengambil peran tersebut selama genosida. Skripsi ini berupaya menyoroti peran perempuan Hutu sebagai pelaku Genosida Rwanda 1994, dan untuk menarik perhatian lebih lanjut dalam mengkaji peran perempuan sebagai pelaku dalam kasus-kasus genosida maupun konflik kekerasan lainnya. Pada akhirnya, temuan menunjukkan bahwa meskipun perempuan Hutu melakukan kekerasan langsung (direct violence) yang minimal, peran mereka dalam memperparah genosida melalui kekerasan tidak langsung (indirect violence) sangatlah maksimal.
The 1994 Rwandan Genocide, also known as the Genocide against the Tutsi, was a horrific period of mass violence that resulted in the loss of an estimated half a million lives. Previous studies have focused on the cultural, economic, and socio-political aspects preceding the genocide, however, the gendered aspect is often overlooked. Given the significant death tolls, it reflects the widespread nature of the participation, with it encompassing all levels of Rwandan society, including Hutu women. Although women are often portrayed as victims during periods of mass violence, the 1994 Rwandan Genocide demonstrated that women were not only victims, but also perpetrators of the genocide.
This thesis therefore seeks to examine the role of Hutu women in the 1994 Rwandan Genocide utilizing Gregory Stanton's (2016) Ten Stages of Genocide model, with further explanations on the shifts that occurred in the roles of Hutu women before and during the genocide guided by post-structural feminism. It explores the way gender is used to mobilize Hutu women to perpetrate violence against the Tutsi, and how or why Hutu women adopted such roles during the genocide. The thesis endeavors to highlight the roles that Hutu women played as perpetrators of the 1994 Rwandan Genocide, and to draw further attention to assessing women's roles as perpetrators in other cases of genocide and violent conflict. Ultimately, the findings show that although Hutu women committed minimal direct violence, their roles in exacerbating the genocide through indirect violence were maximal.
Kata Kunci : Pelaku Perempuan, Perempuan Hutu, Feminisme Pasca-Struktural, Genosida Rwanda, Sepuluh Tahapan Genosida