UJARAN ISLAMOFOBIA MARINE LE PEN DALAM DEBAT CALON PRESIDEN PRANCIS 2022: ANALISIS SOSIOPRAGMATIK
Az Zahra Alifa Fernanta, Dr. Merry Andriani, S.S., M.L.C.S.
2025 | Skripsi | SASTRA PERANCIS
Penelitian ini menganalisis ujaran Marine Le Pen dalam debat calon presiden Prancis tahun 2022 dengan menggunakan teori tindak tutur dari Searle dan pendekatan sosiopragmatik dari Haugh, Kádár, dan Terkourafi. Fokus utama penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi ujaran-ujaran islamofobia yang muncul secara tersirat dalam wacana politik, khususnya melalui diksi seperti “islamisme” dan retorika seputar pelarangan hijab. Marine Le Pen menggunakan bahasa politik yang tampaknya netral namun mengandung muatan pandangan politik tertentu, dengan menyampaikan pesan yang menganggap umat Muslim sebagai kelompok yang mengancam nilai-nilai Republik Prancis. Ujaran-ujaran tersebut membentuk citra negatif terhadap umat Muslim, baik melalui pelabelan ideologis maupun penggambaran simbol keagamaan sebagai ancaman bagi keamanan dan kesatuan nasional. Secara pragmatik, tuturan Le Pen banyak mengandung tindak tutur asertif yang menyampaikan opini seolah sebagai fakta. Sementara itu, secara sosiopragmatik, penelitian ini mengungkap bagaimana kekuasaan dan posisi sosial Le Pen sebagai politisi kanan jauh memengaruhi cara ia membentuk citra kelompok lain di ruang publik. Hasil analisis menunjukkan bahwa ujaran tersebut secara implisit mendukung kebijakan diskriminatif terhadap simbol keagamaan Islam, yang dikemas dalam narasi perlindungan terhadap identitas nasional dan sekularisme. Penelitian ini menyoroti pentingnya membaca bahasa politik secara kritis karena ujaran yang tampak netral dapat mengandung bias ideologis yang memperkuat diskriminasi terhadap minoritas agama.
This study analyzes Marine Le Pen’s utterances during the 2022 French presidential debate using Searle’s speech act theory and the sociopragmatic approaches of Haugh, Kádár, and Terkourafi. The primary focus is to identify implicitly Islamophobic statements embedded in political discourse, particularly through terms such as “Islamism” and rhetoric surrounding the ban on the hijab. Marine Le Pen employs political language that appears neutral but is loaded with specific ideological stances, framing Muslims as a threat to Republican values. These utterances construct a negative image of Muslims by ideologically labeling them and portraying religious symbols as a danger to national security and unity. From a pragmatic perspective, Le Pen’s statements predominantly consist of assertive speech acts that present opinions as if they were facts. Sociopragmatically, the analysis reveals how her power and social position as a far-right politician influence the way she shapes public perceptions of marginalized groups. The findings show that her discourse implicitly supports discriminatory policies against Islamic religious symbols, all under the guise of protecting national identity and secularism. This study underscores the importance of critically examining political language, as seemingly neutral statements can carry ideological biases that reinforce discrimination against religious minorities.
Kata Kunci : Islamofobia, Hijab, Marine Le Pen, Tindak Tutur, Sosiopragmatik