Fear and Interethnic Relations in Post-conflict Society: A Study of Ethnic Struggle Groups in West Kalimantan
Ningsih Sepniar Lumban Toruan, Dr. M. Iqbal Ahnaf
2025 | Tesis | S2 Agama dan Lintas BudayaKalimantan Barat terus bergulat dengan persoalan keberagaman yang berakar dari sejarah kompleks sejak era kolonial hingga kedatangan para transmigran, yang kemudian diperparah oleh kekerasan berkepanjangan dan berulang di antara empat kelompok etnis utama: Melayu, Madura, Tionghoa, dan Dayak. Identitas-identitas ini sangat terkait erat dengan afiliasi keagamaan. Saat ini, kelompok pejuang atau laskar dapat ditemukan di setiap komunitas etnis tersebut, dengan peran yang beragam dalam masyarakat—mulai dari keterlibatan sosial hingga politik. Contoh pentingnya adalah Pasukan Merah (Tariu Borneo Bangkule Rajakng, TBBR) untuk etnis Dayak dan Persatuan Orang Melayu (POM) untuk etnis Melayu.Tulisan ini mengkaji narasi-narasi yang mempertahankan dan memperkuat rasa takut dalam masyarakat pasca-konflik, dengan fokus pada dinamika pembentukan kelompok peruang berbasis etnis dan aktivitas mereka di Kalimantan Barat. Selain itu, penelitian ini juga melihat bagaimana kelompok-kelompok tersebut melegitimasi gerakan mereka dengan menghadirkan memori kekerasan yang menonjol dalam pidato-pidato publik mereka. Penelitian ini menggunakan teori siege mentality dari Daniel Bar-Tal untuk mengeksplorasi bagaimana pertikaian etnis dan konflik tetap bertahan dan berkontribusi pada siklus kekerasan yang berulang.
West Kalimantan continues to struggle with issues of diversity, rooted in its complex history from the colonial era to the arrival of transmigrants, and exacerbated by prolonged and repeated violence among its four major ethnic groups: Malay, Madurese, Chinese, and Dayak. These identities are closely intertwined with religious affiliations. Today, struggle groups, or "laskar" can be found in each of these ethnic community, which plays varying roles in society—from social to political involvement. Notable examples include Pasukan Merah (Tariu Borneo Bangkule Rajakng, TBBR) for the Dayak and Persatuan Orang Melayu (POM) for the Malays. The paper examines the narratives that perpetuate and intensify fear in post-conflict societies, focusing on the dynamics of the formation of ethnic-based struggle groups and their activities in West Kalimantan. Moreover, to see how the group legitimize their movement by bringing the prominent memory of violence to their public speeches. This research applies the theory of siege mentality by Daniel Bar-Tal exploring how ethnic strife and civil conflict persist and contribute to cycles of conflict.
Kata Kunci : struggle group, post-conflict, memory of violence, narratives, siege mentality.