EKOSENTRISME DAN TANTANGAN PELESTARIANNYA: STUDI ATAS PERTEMUAN TRADISI DAN MODERNITAS DI KASEPUHAN CIBARANI
Ayu Maun Nadhifah, Dr. Samsul Maarif, M.A. dan Dr. Leonard Chrysostomos Epafras, M.Th.
2025 | Tesis | S2 Agama dan Lintas Budaya
Penelitian ini mengeksplorasi dinamika sosial, budaya, dan keagamaan masyarakat adat Kasepuhan Cibarani. Ia menyoroti tradisi adat ekosentrisme, benturan, dan interaksinya dengan modernitas. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi, yang mencakup observasi partisipatoris, wawancara mendalam, serta dokumentasi berbagai praktik budaya dan ritual. Dalam menganalisis data, peneliti menggunakan pendekatan thick description, untuk mengungkap makna yang tersembunyi dalam praktik keseharian masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat adat Kasepuhan Cibarani terus berupaya melestarikan nilai-nilai adat yang ekosentris sebagai basis relasi sosial dan ekologis. Nilai-nilai tersebut tercermin dari sejarah, tradisi, dan ajaran yang diwariskan melalui oralitas, struktur kepemimpinan adat, dan ritual seperti Seren Taun dan praktik bertani yang berkelanjutan. Relasi masyarakat adat Kasepuhan Cibarani dengan alam dibingkai dalam paradigma ekosentrisme yang menempatkan alam sebagai subjek relasional, bukan objek eksploitasi. Namun demikian, penelitian ini juga menemukan porositas budaya akibat kehadiran modernitas dalam berbagai bentuk seperti dualisme kepemimpinan adat, penggunaan instrumen modernitas, hingga nilai-nilai yang menantang ekosentrisme. Bagian dari porositas budaya adalah dinamika konflik yang mengancam kohesi sosial dan keutuhan ekologis.
This study explores the social, cultural, and religious dynamics of the Kasepuhan Cibarani indigenous community. It highlights the ecocentrism tradition, its clashes, and its interaction with modernity. This study uses a qualitative method with an ethnographic approach, which includes participatory observation, in-depth interviews, and documentation of various cultural practices and rituals. In analyzing the data, the researcher uses a thick description approach to uncover the hidden meanings in the community's daily practices. The results show that the Kasepuhan Cibarani indigenous community continues to strive to preserve ecocentric traditional values as the basis for social and ecological relations. These values are reflected in history, traditions, and teachings passed down through orality, traditional leadership structures, and rituals such as Seren Taun and sustainable farming practices. The Kasepuhan Cibarani indigenous community's relationship with nature is framed within an ecocentric paradigm that positions nature as a relational subject, not an object of exploitation. However, this study also finds cultural porosity due to the presence of modernity in various forms such as the dualism of traditional leadership, the use of modern instruments, and values that challenge ecocentrism. Part of cultural porosity is the conflict dynamics that threaten social cohesion and ecological integrity.
Kata Kunci : Masyarakat Adat, Ekosentrisme, Dualisme, Kasepuhan Cibarani.