STRATEGI ALOKASI TEMPAT EVAKUASI SEMENTARA (TES) BERDASARKAN PEMODELAN HIDRODINAMIKA RUN-UP TSUNAMI DAN AGENT-BASED MODEL (Studi Kasus: Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah)
Irfa Destrayanti, Dr. Benazir, S.T., M.Eng. ; Prof. Ir. Radianta Triatmadja, Ph. D.
2025 | Tesis | S2 TEKNIK PENGELOLAAN BENCANA ALAM
Pesisir selatan Pulau Jawa, khususnya Kabupaten
Cilacap, memiliki tingkat kerentanan tinggi terhadap tsunami karena secara
langsung berhadapan dengan megathrust Sunda. Meskipun
demikian, infrastruktur evakuasi seperti Tempat Evakuasi Sementara (TES) masih
terbatas, sedangkan aspek aksesibilitas spasial dan perilaku masyarakat sering
kali belum menjadi pertimbangan utama dalam perencanaan evakuasi. Penelitian
ini bertujuan untuk (1) memodelkan run-up tsunami menggunakan COMCOT,
(2) mengevaluasi kesiapsiagaan masyarakat melalui survei kuesioner dan survei
lapangan, serta (3) melakukan simulasi evakuasi berbasis agen (Agent-Based
Modeling/ABM) guna mengevaluasi dan menentukan strategi penempatan TES.
Empat
skenario tsunami disimulasikan, mencakup dua skenario historis berbasis
kejadian tsunami Pangandaran 2006, serta dua skenario hipotetik terburuk dengan
magnitudo Mw 8.8 yang menggunakan konfigurasi geometri sesar berbeda. Waktu
tiba gelombang tsunami pada skenario terburuk berkisar antara 42 hingga 54
menit, dengan tinggi run-up maksimum mencapai 15.58 m. Sebanyak 14 titik
pengamatan digunakan untuk menganalisis fluktuasi muka air dan fase gelombang
tsunami. Survei terhadap 100 responden dilakukan untuk mengevaluasi pemahaman
risiko, waktu reaksi, dan kemampuan mobilitas evakuasi. Survei lapangan juga
dilakukan untuk menilai kesiapan infrastruktur evakuasi. Hasil survei digunakan
untuk membangun parameter dalam simulasi ABM yang terintegrasi dengan jaringan
jalan dan algoritma Dijkstra. Sebelas skenario evakuasi dijalankan dengan batas
waktu evakuasi aman selama 45 menit. Hasil menunjukkan bahwa TES dengan
hambatan terendah memiliki tingkat keberhasilan evakuasi lebih dari 90%.
Penelitian ini menyusun kriteria strategis penempatan TES yang adaptif, dapat
direplikasi di wilayah pesisir berisiko lainnya, serta mendukung edukasi
kebencanaan untuk meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat.
The southern coast of Java,
particularly Cilacap Regency, is highly vulnerable to tsunamis due to its
direct exposure to the Sunda megathrust. However, evacuation infrastructure
such as Temporary Evacuation Sites (TES) remains limited, and spatial
accessibility and community behavior are often neglected in evacuation
planning. This study aims to (1) model tsunami run-up using COMCOT, (2) assess
community preparedness through a questionnaire survey and field assessment, and
(3) simulate tsunami evacuation using Agent-Based Modeling (ABM) to evaluate
and determine TES placement strategies.
Four tsunami scenarios were
simulated, including two historical scenarios based on the 2006 Pangandaran
tsunami and two worst-case hypothetical scenarios (Mw 8.8) with different fault
geometry configurations. In the worst-case scenarios, wave arrival times ranged
from 42 to 54 minutes, with a maximum run-up height of 15.58 meters. Fourteen
observation points were used to analyze wave phases and fluctuations. A total
of 100 respondents were surveyed to evaluate risk awareness, evacuation
response time, and mobility. Field observations were also conducted to assess
the physical readiness of evacuation infrastructure. Survey results informed
the behavioral parameters used in the ABM simulation, which integrated local
road network data and evacuation route optimization using Dijkstra’s algorithm.
Eleven evacuation scenarios were simulated with a safe evacuation time limit of
45 minutes. Results indicate that TES with the lowest accessibility barriers
achieved evacuation success rates exceeding 90%. The study proposes adaptive,
transferable criteria for TES placement and offers data-driven insights to
support disaster education and enhance tsunami preparedness in coastal
communities
Kata Kunci : tsunami modeling, community preparedness, agent-based model, temporary evacuation shelter, tsunami mitigation