Potensi Simpanan Karbon Hutan Mangrove Sekunder Taman Wisata Alam Angke Kapuk, Kelurahan Kamal Muara, Pantai Indah Kapuk, Jakarta Utara
Nasywa Hani Atmaja, Prof. Dr. Ir. Ris Hadi Purwanto, S.Hut., M.Agr.Sc. IPU.
2025 | Skripsi | KEHUTANAN
Di Taman Wisata Alam Angke Kapuk, Jakarta Utara, tutupan lahan mencakup hutan mangrove sekunder yang vital sebagai penyimpan karbon. Mangrove berfungsi sebagai salah satu parameter blue carbon, yaitu kemampuan ekosistem pesisir menyerap dan menyimpan karbon dari atmosfer dan laut untuk mitigasi perubahan iklim. Pengukuran ini dilakukan dengan menggunakan metode sampling tanpa pemanenan dengan mengukur DBH pohon di sebaran titik sampel area kajian, kemudian dilakukan perhitungan dengan model allometric yang bersifat umum salah satunya diajukan oleh Komiyama et al. (2005) dimana Wtop = 0,251?D^2,46 (Wtop adalah biomasa di atas permukaan tanah, ? adalah kepadatan kayu dalam gram/cm3, D adalah diameter setinggi dada). Penelitian di Hutan Mangrove Sekunder Taman Wisata Alam Angke Kapuk bertujuan mengidentifikasi jenis tutupan lahan menggunakan metode MLC (Maximum Likelihood Classification) serta menghitung kontribusi simpanan karbon dan serapan CO2 terhadap emisi gas di Jakarta Utara. Pengukuran dilakukan dengan metode non- destructive sampling (tanpa pemanenan) menggunakan pengukuran DBH pohon dan model alometrik Komiyama et al. (2005): Wtop =0,251?D2,46. Simpanan karbon diasumsikan 50?ri biomassa, sesuai IPCC (2003). Hasil penelitian menunjukkan lima jenis tutupan lahan: hutan mangrove sekunder, lahan terbuka, permukiman, rawa, dan tambak. Ditemukan tujuh spesies mangrove, dengan total simpanan karbon 177,66 ton C/ha. Bakau Minyak (Rhizophora apiculata) memiliki simpanan karbon tertinggi (64,18 ton C/ha), sedangkan Cantigi (Ceriops tagal) terendah (0,02 ton C/ha). Total serapan CO2 mencapai 652 ton CO2/ha, dengan Bakau Minyak menyerap tertinggi (235,54 ton CO2/ha) dan Cantigi terendah (0,07 ton CO2/ha).
In Mangrove Forest of Angke Kapuk Nature Tourism Park, North Jakarta, the land cover encompasses diverse types, including mangrove forests that play a crucial role as carbon sinks. Mangroves are significant as a key parameter of blue carbon. The Secondary Mangrove Forest of Angke Kapuk Nature Tourism Park, located within the administrative area of North Jakarta, specifically in Kamal Muara, Pantai Indah Kapuk, possesses a mangrove ecosystem that is essential as a blue carbon parameter. Currently, the mangrove forest at Angke Kapuk Nature Tourism Park serves as a buffer zone to help reduce the potential impacts of global warming. The research at Angke Kapuk Nature Tourism Park's Secondary Mangrove Forest aimed to identify land cover types using the Maximum Likelihood Classification (MLC) method and quantify the contribution of carbon stock and CO2 absorption to North Jakarta's gas emissions. Measurements were taken using a non-destructive sampling method, involving tree DBH
measurements and the allometric model by Komiyama et al. (2005): Wtop =0.251?D2.46. Carbon stock was assumed to be 50% of biomass, as per IPCC (2003). Research results revealed five land cover types: secondary mangrove forest, open land, residential areas, swamps, and fishponds. Seven mangrove species were identified, with a total carbon stock of 177.66 tons C/ha. Rhizophora apiculata showed the highest carbon stock (64.18 tons C/ha), while Ceriops tagal had the lowest (0.02 tons C/ha). Total CO2 absorption reached 652 tons CO2/ha, with Rhizophora apiculata absorbing the most (235.54 tons CO2/ha) and Ceriops tagal the least (0.07 tons CO2/ha).
Kata Kunci : Tutupan lahan, Hutan mangrove, Simpanan Karbon, Serapan CO2