Penentuan Pola Suplesi Minimum Saluran Induk Mataram pada Sungai di Ruas MA20 sampai dengan MA30 untuk Memenuhi Kebutuhan Irigasi
Jenny Araselly Darulista, Dr. Murtiningrum, S.T.P., M.Eng., IPM. ASEAN Eng.; Dr.Eng. Ansita Gupitakingkin Pradipta, S.T., M.Eng., IPM.
2025 | Skripsi | TEKNIK PERTANIAN
Ketersediaan air irigasi yang berkelanjutan menjadi faktor penting dalam mendukung produktivitas pertanian, khususnya di daerah irigasi hilir yang bergantung pada debit aliran sungai. Namun, fluktuasi debit alami sungai, khususnya pada periode musim kemarau, sering kali menyebabkan terjadinya defisit air yang berdampak langsung terhadap keberlangsungan kegiatan pertanian. Ketidakseimbangan antara ketersediaan dan kebutuhan air irigasi ini dapat diatasi melalui strategi suplai tambahan, yang biasa disebut sebagai sistem suplesi. Penelitian ini dilakukan pada Saluran Induk Mataram yang berperan penting sebagai sumber suplesi dalam menjaga kestabilan pasokan air irigasi di Daerah Istimewa Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengoptimalkan pola pemberian suplesi air dari Saluran Induk Mataram ke sungai-sungai yang dilaluinya, sehingga kebutuhan irigasi di daerah hilir dapat tercukupi secara efektif dan efisien. Metode yang digunakan meliputi analisis neraca air pada setiap daerah irigasi, evaluasi debit sungai dengan dan tanpa suplesi, serta mempertimbangkan debit air yang harus tetap mengalir di sungai sesuai dengan ketentuan KP-02. Hasil analisis menunjukkan bahwa sebagian besar daerah irigasi yang memperoleh suplesi dari Saluran Induk Mataram mengalami surplus air. Sementara itu, tanpa suplesi, sebagian besar daerah irigasi mengalami defisit, terutama daerah irigasi yang dilayani oleh Sungai Tambak Bayan, Grojogan, Tepus, Wareng, dan Bening. Hanya daerah irigasi yang dilayani oleh Sungai Gajahwong dan Buntung yang mampu mencukupi kebutuhan air tanpa suplesi. Pola suplesi minimum yang direkomendasikan bervariasi pada setiap periode karena mempertimbangkan kebutuhan air pertanian, efisiensi distribusi, serta keberlanjutan ekosistem sungai. Studi lanjutan perlu dilakukan dengan memasukkan variabel hidrologis lain guna meningkatkan ketepatan dalam perencanaan pola suplesi.
Sustainable irrigation water availability is a crucial factor in supporting agricultural productivity, especially in downstream irrigation areas that depend on river flow discharge. However, natural fluctuations in river discharge, particularly during the dry season, often cause water deficits that directly impact the sustainability of the agricultural sector. The imbalance between the availability and demand for irrigation water needs to be addressed through supplementary supply strategies. This study was conducted on the Mataram Main Canal and the irrigation areas it serves, with the Mataram Main Canal playing an important role as a supplementary water source to maintain the stability of the irrigation water supply. The objective of this research is to optimize the pattern of supplementary water distribution from the Mataram Main Canal to the rivers it traverses, ensuring that irrigation needs in downstream areas are met effectively and efficiently. The methods used include water balance analysis for each irrigation area, evaluation of river discharge with and without supplementation, and consideration of the minimum river flow that must be maintained according to KP-02 regulations. The results of the analysis show that most of the irrigation areas that receive suppression from the Mataram Main Canal experience a water surplus. Meanwhile, without supplementation, most irrigation areas experience a deficit, especially irrigation areas served by Tambak Bayan, Grojogan, Kuning, Tepus, Wareng, and Bening Rivers. Only irrigation areas served by the Gajahwong and Buntung Rivers are able to meet water needs without supplementation. The recommended minimum supplementation pattern varies in each period because it considers agricultural water needs, distribution efficiency, and the sustainability of the river ecosystem. Further studies need to be conducted by incorporating other hydrological variables to improve the accuracy in planning the supplementation pattern.
Kata Kunci : suplesi air, irigasi, neraca air irigasi, pola tanam, daerah irigasi