Kajian Geografi Dialek Kabupaten Lamongan
Dewintan Prameshwari, Drs. Ridha Mashudi Wibowo, M.Hum.
2025 | Skripsi | S1 SASTRA INDONESIA
Penelitian ini bertujuan untuk menguraikan unsur fonologis dan leksikon pada dialek bahasa Jawa Kabupaten Lamongan secara rinci dan menjelaskan kesalingpahaman antar wilayah titik pengamatan berdasarkan perhitungan dialektometri yakni wilayah Lamongan, Brondong, Turi, Babat, dan Mantup melalui perhitungan dialektometri. Data yang diperoleh pada penelitian ini adalah dialek bahasa Jawa mengacu pada daftar 100 kata Swadesh sebagai daftar tanyaan untuk mengetahui bentuk variasi bahasa. Pengambilan data di lima titik pengamatan menggunakan teknik wawancara bersama narasumber. Kemudian dilanjutkan dengan menganalisis data dialek dengan komparasi data antar titik pengamatan. Selanjutnya, variasi bahasa yang ditemukan dijabarkan unsur fonologi dan leksikon nya dan mencari tingkat kesalingpahamanan antar titik pengamatan.
Hasil dari penelitian ini adalah dialek bahasa Jawa Kabupaten Lamongan dilihat unsur fonologi yang ditemukan berupa lengkapnya penggunaan vokal, konsonan, semivokal, nasal, kluster, dan bunyi pelancar. Lalu, pada unsur leksikon ditemukan 65 perbedaan dari 100 daftar swadesh yang ditanyakan. Perbedaan tersebut banyak dipengaruhi oleh faktor perkembangan bahasa, sosial-budaya, dan geografis wilayah. Tingkat kesalingpahaman antar wilayah terlihat dari perbandingan antar-TP. Babat:Brondong, Babat:Lamongan, Brondong:Lamongan, Brondong:Mantup, Lamongan:Turi, dan Lamongan:Mantup memiliki tingkat kesalingpahaman yang tinggi dengan status bahasa, yakni beda dialek, sedangkan perbandingan wilayah Babat:Turi dan Turi:Mantup memiliki tingkat kesalingpahaman yang rendah dengan status bahasa, yakni beda bahasa.
This study provides a detailed description of the phonological and lexical features of Javanese dialects spoken in Lamongan Regency and examines the degree of mutual intelligibility among five observation areas: Lamongan, Brondong, Turi, Babat, and Mantup, using a dialectometric approach. Data were collected through interviews with native speakers at each location, based on a 100-word Swadesh list designed to identify linguistic variation. The data were compared across the five observation points to identify phonological and lexical differences. These differences were then analyzed, and the level of mutual intelligibility between regions was calculated accordingly.
The results show that the Javanese dialects in Lamongan Regency utilize a complete range of phonological elements, including vowels, consonants, semivowels, nasals, consonant clusters, and glide sounds. In the lexical aspect, 65 out of 100 Swadesh words showed variation, influenced by linguistic evolution, socio-cultural conditions, and geographical factors. The dialectometric analysis indicates that the pairs Babat–Brondong, Babat–Lamongan, Brondong–Lamongan, Brondong–Mantup, Lamongan–Turi, and Lamongan–Mantup exhibit a high level of mutual intelligibility and are therefore classified as dialectal differences. Meanwhile, the pairs Babat–Turi and Turi–Mantup exhibit a low level of mutual intelligibility, thus confirming their classification as different languages.
Kata Kunci : Dialektologi, Geografi Dialek, Fonologi, Leksikal, dan Dialektometri.