Laporkan Masalah

ZONASI PENGEMBANGAN WILAYAH PERMUKIMAN BERDASARKAN ASPEK GEOLOGI LINGKUNGAN DI PERBUKITAN PAJANGAN, BANTUL, YOGYAKARTA

Mardo Alesandro Nilla Mahuse, Dr.rer.nat. Ir. Doni Prakasa Eka Putra, S.T., M.T., IPM. ; Ir. Nugroho Imam Setiawan, S.T., M.T., D.Sc., IPM.

2025 | Skripsi | TEKNIK GEOLOGI

Perbukitan Pajangan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta memiliki morfologi bukit, persebaran muka airtanah yang bervariasi, serta terdapat struktur sesar aktif yang berpotensi menyebabkan kelongsoran. Oleh karena itu, diperlukan kajian geologi pengembangan wilayah untuk mendukung perencanaan permukiman yang aman dari bencana geologi serta berada pada lahan yang stabil dan memiliki ketersediaan air memadai. Dalam pengembangan wilayah menjadi suatu kawasan pemukiman, terdapat persyaratan yang diatur pada Permen PU Nomor 20 Tahun 2007. Diluar peraturan tersebut, kajian geologi menjadi hal penting dalam menentukan kemampuan suatu wilayah. Penelitian ini mempertimbangkan aspek geologi dan non-geologi yang mencakup beberapa parameter berupa kemiringan lereng, kedalaman batuan dasar, kedalaman muka airtanah, sumber daya airtanah, potensi pondasi, bahaya geologi, dan jarak terhadap jalan. Pengambilan data dilakukan secara langsung di lapangan juga didapatkan dari studi pustaka berupa buku, jurnal, peta dan bahan peta. Parameter tersebut kemudian diolah dengan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) untuk mengetahui bobot masing- masing parameter yang membagi parameter menjadi tiga kelas meliputi most capable, capable, dan not capable. Setelah itu dilakukan overlay yang menghasilkan zona kemampuan wilayah. Dilakukan uji sensitivitas melalui tiga skenario dengan trial and error dalam penentuan bobot masing-masing parameter untuk dipilih secara logis sesuai dengan kebutuhan dan kondisi daerah penelitian. Skenario ketiga dipilih karena faktor bencana geologi, kelerengan, dan potensi pondasi menjadi fokus utama pada penelitian. Daerah penelitian terbagi menjadi tiga zona kemampuan. Zona most capable (12,15 km² atau 34,40%) di bagian utara dan selatan, zona capable (20,98 km² atau 59,40%) di bagian timur dan barat daya, dan zona not capable (2,19 km² atau 6,20%) di bagian barat daya dan barat laut.

The Pajangan Hills in Bantul Regency, Special Region of Yogyakarta, are characterized by hilly morphology, variable groundwater table distribution, and the presence of active fault structures that pose a landslide hazard. Therefore, a geological study for regional development is required to support the planning of residential areas that are safe from geological hazards, located on stable land, and have sufficient water availability. The development of the area into a residential zone must comply with the requirements set forth in the Ministry of Public Works Regulation No. 20 of 2007. Beyond these regulations, geological studies play a crucial role in determining the suitability of an area. This study takes into account both geological and non-geological aspects, including several parameters such as slope gradient, depth to bedrock, groundwater table depth, groundwater resources, foundation potential, geological hazards, and proximity to roads. Data were collected through direct field surveys and secondary sources such as books, journals, maps, and other cartographic materials. These parameters were then analyzed using the Analytical Hierarchy Process (AHP) method to determine the weight of each parameter, classifying the land into three capability categories: most capable, capable, and not capable. An overlay analysis was subsequently conducted to produce a map of land capability zones. A sensitivity test was performed using three different weighting scenarios through trial and error, selected logically based on the needs and conditions of the study area. The third scenario was chosen as the most appropriate, prioritizing geological hazards, slope, and foundation potential as the main focus of the study. The study area is divided into three capability zones: the most capable zone (12.15 km² or 34.40%) located in the northern and southern parts, the capable zone (20.98 km² or 59.40%) in the eastern and southwestern parts, and the not capable zone (2.19 km² or 6.20%) in the southwestern and northwestern parts.

Kata Kunci : Geologi pengembangan wilayah, Analytical Hierarchy Process, zona kemampuan wilayah

  1. S1-2025-431994-abstract.pdf  
  2. S1-2025-431994-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-431994-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-431994-title.pdf