Pandangan Masyarakat Beji tentang Hutan Wonosadi dalam Perspektif Paradigma Kultural Emile Durkheim
Della Azizah, Dr. Sartini, M.Hum. ; Drs. Budisutrisna, M.Hum.
2025 | Skripsi | ILMU FILSAFAT
Penelitian ini berjudul “Pandangan Masyarakat Beji tentang Hutan Wonosadi dalam Perspektif Paradigma Kultural Emile Durkheim”. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh munculnya anggapan bahwa hutan hanyalah sebuah ekosistem alam yang menyediakan fungsi ekologis semata. Adanya mitos-mitos yang ada di hutan hanyalah sebuah cerita yang menakut-nakuti masyarakat tanpa ada manfaat yang jelas. Pandangan tersebut tidak berlaku di Hutan Wonosadi, karena masyarakat Beji justru menganggap hutan mempunyai fungsi yang signifikan di tengah kehidupan mereka sampai saat ini. Selain memberikan fungsi ekologis, hutan menjadi pusat kehidupan sosial dan spiritual masyarakat setempat. Penelitian ini bertujuan untuk, pertama, mendeskripsikan pandangan masyarakat Beji tentang Hutan Wonosadi; kedua, menganalisis pandangan masyarakat Beji tentang Hutan Wonosadi dilihat dari paradigma kultural (the sacred, klasifikasi, ritus, dan solidaritas).
Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologi dan menggunakan beberapa unsur metodis filosofis, yaitu koherensi, internal, holistika, interpretasi, dan deskripsi.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa; pertama masyarakat Beji menganggap Hutan Wonosadi lebih dari sekadar ekosistem alam, namun hutan tersebut adalah entitas sakral yang penuh makna simbolik dan spiritual. Kesakralan ini berakar pada mitologi, mitos, tempat keramat, dan pengalaman mistis sehingga muncul ritual Sadranan dan Rasulan sebagai penghormatan atas kesakralan hutan yang menciptakan solidaritas. Kedua, Hutan Wonosadi dalam paradigma kultural Durkheim menunjukkan keterikatan antara The Sacred, klasifikasi, ritus, dan solidaritas yang menunjukkan keharmonisan antara manusia, Tuhan, dan alam. Masyarakat Beji meyakini nilai religius, nilai budaya, dan nilai sosial sehingga terjalin hubungan yang saling membangun untuk keberlanjutan Hutan Wonosadi
This study is titled “The Beji Community's View of the Wonosadi Forest in the Perspective of Emile Durkheim's Cultural Paradigm.” This research is motivated by the emergence of the notion that forest are merely natural ecosystems that provide ecological functions. The myths surrounding forests are seen as nothing more than frightening stories with no clear benefits. This view does not apply to the Wonosadi Forest, as the Beji community considers the forest to have significant role in their lives to this day. In addition to providing ecological functions, the forest serves as the center of social and spiritual life for the local community. This study aims to, first, describe the Beji community's perspective on the Wonosadi Forest; second, analyze the Beji community's perspective on the Wonosadi Forest from a cultural paradigm (the sacred, classification, rituals, and solidarity).
This study is a qualitative study with a phenomenological approach and uses several philosophical methodological elements, namely coherence, internal, holistic, and interpretation.
The results of this study indicate that, first, the Beji community views the Wonosadi Forest as more than just a natural ecosystem; it is a sacred entity rich in symbolic and spiritual meaning. This sacredness is rooted in mythology, myths, sacred sites, and mystical experiences, giving rise to the Sadranan and Rasulan rituals as expressions of reverence for the forest’s sacredness, which fosters solidarity. Second, the Wonosadi Forest, within Durkheim's cultural paradigm, demonstrates the interconnection between the Sacred, classification, rituals, and solidarity, reflecting harmony between humans, God, and nature. The Beji community upholds religious, cultural, and social values, fostering mutually reinforcing relationships for the sustainability of the Wonosadi Forest.
Kata Kunci : Hutan Wonosadi, masyarakat Beji, sakral, Emile Durkheim