Laporkan Masalah

Analisis Pengaruh Assymetric Auto Rejection Terhadap Aktivitas Perdagangan Saham: Studi Empiris Pada Saham Indeks LQ45 dan PEFINDO25 Periode 2018-2023

Komang Raditya Jayadiningrat, I Wayan Nuka Lantara, M.Si., Ph.d.

2025 | Skripsi | MANAJEMEN

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kebijakan Asymmetric Auto rejection terhadap volatilitas harga saham dan volume perdagangan pada indeks LQ45 dan PEFINDO25 selama periode 2018–2023, dengan mengontrol faktor fundamental perusahaan berupa total aset dan return on assets (ROA). Kebijakan tersebut diberlakukan oleh Bursa Efek Indonesia pada masa pandemi COVID-19 dengan tujuan menekan penurunan harga saham yang ekstrem serta menjaga stabilitas pasar saham. Studi ini penting untuk mengevaluasi efektivitas kebijakan terhadap kelompok saham berkapitalisasi besar (LQ45) dan kecil-menengah (PEFINDO25), yang memiliki karakteristik berbeda dalam hal likuiditas, profitabilitas, dan sensitivitas pasar. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif eksplanatori dengan data panel dan metode purposive sampling. Sampel terdiri dari 54 saham pada indeks LQ45 dan 46 saham pada PEFINDO25. Analisis data dilakukan dengan statistik deskriptif, uji beda non-parametrik Wilcoxon Signed Rank-Test, serta regresi data panel yang mengikutsertakan variabel kontrol total aset dan ROA, dengan pemilihan model menggunakan uji Chow, Hausman, dan Lagrange Multiplier. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kebijakan asymmetric auto rejection berpengaruh signifikan terhadap volatilitas dan volume perdagangan saham pada indeks LQ45, baik dalam uji beda maupun regresi panel, bahkan setelah mengontrol total aset dan ROA. Namun, pada indeks PEFINDO25, kebijakan tidak berpengaruh signifikan terhadap volatilitas maupun volume perdagangan berdasarkan hasil regresi panel yang memasukkan variabel kontrol, meskipun uji beda menunjukkan adanya perbedaan sebelum dan sesudah kebijakan. Selain itu, variabel kontrol, khususnya total aset, ditemukan berperan signifikan dalam memengaruhi volume perdagangan pada kedua indeks, yang mengindikasikan bahwa karakteristik fundamental perusahaan turut memediasi efektivitas kebijakan di pasar saham. Temuan ini mengindikasikan bahwa efektivitas kebijakan asymmetric auto rejection lebih terasa pada saham-saham berkapitalisasi besar dan likuid, sementara saham berkapitalisasi kecil-menengah cenderung kurang responsif terhadap kebijakan ini, terutama ketika faktor fundamental diperhitungkan. Implikasi dari penelitian ini adalah pentingnya mempertimbangkan segmentasi pasar dan karakteristik perusahaan dalam merancang kebijakan stabilisasi, karena variabel fundamental seperti ukuran dan profitabilitas perusahaan juga memengaruhi efektivitas kebijakan. Penelitian selanjutnya disarankan untuk menambah variabel seperti market depth, bid-ask spread, serta faktor eksternal lainnya agar memberikan gambaran yang lebih komprehensif mengenai stabilitas pasar.

This study analyzes the impact of the Asymmetric Auto rejection policy on stock return volatility and trading volume for the LQ45 and PEFINDO25 indices during 2018–2023, while controlling for company fundamentals such as total assets and return on assets (ROA). The policy was implemented by the Indonesia Stock Exchange during the COVID-19 pandemic to curb extreme price declines and maintain market stability. A quantitative explanatory approach with panel data and purposive sampling was used, comprising 54 LQ45 stocks and 46 PEFINDO25 stocks. Data analysis included descriptive statistics, the Wilcoxon Signed Rank-Test, and panel regression incorporating total assets and ROA as control variables, with model selection using the Chow, Hausman, and Lagrange Multiplier tests. The results show that the Asymmetric Auto rejection policy significantly affected both volatility and trading volume for LQ45 stocks, both in difference tests and panel regressions, even after controlling for total assets and ROA. However, for PEFINDO25 stocks, the policy did not have a significant effect on either volatility or trading volume in panel regression results with controls, although difference tests showed some changes before and after the policy. Total assets were also found to significantly affect trading volume in both indices, indicating that company fundamentals mediate policy effectiveness in the stock market. These findings indicate that the policy is more effective for large-cap, liquid stocks, while small- and mid-cap stocks are less responsive, especially when accounting for company fundamentals. The study highlights the importance of considering market segmentation and firm characteristics in designing stabilization policies, as fundamentals such as size and profitability also influence policy outcomes. Future research should include variables such as market depth, bid-ask spread, and other external factors to provide a more comprehensive picture of market stability.


Kata Kunci : Assymetric auto rejection, Volatilitas, Volume Perdagangan, LQ45, PEFINDO25, Bursa Efek Indonesia, Total Aset, Return on asset

  1. S1-2025-479763-abstract.pdf  
  2. S1-2025-479763-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-479763-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-479763-title.pdf