Nilai Ekonomi Pemanfaatan Hasil Hutan Bukan Kayu Di Kawasan Taman Nasional Gunung Merapi Oleh Masyarakat Desa Ngargomulyo, Kecamatan Dukun, Kabupaten Magelang
Suci Salsabila, Slamet Riyanto, S.Hut., M.Si
2025 | Skripsi | KEHUTANAN
Desa di daerah penyangga kawasan Taman Nasional Gunung Merapi sangat bergantung pada hasil hutan bukan kayu (HHBK). Meskipun HHBK berpotensi mendukung konservasi dan pemberdayaan masyarakat, tekanan ekonomi dan keterbatasan akses akibat zonasi dapat menimbulkan konflik antara masyarakat dan pengelola kawasan. Valuasi ekonomi HHBK menjadi penting untuk memberikan gambaran kuantitatif mengenai kontribusinya terhadap kesejahteraan masyarakat serta sebagai dasar dalam merancang kebijakan pengelolaan hutan yang berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi jenis HHBK yang dimanfaatkan serta mengkaji pola kreativitas pemanfaatannya oleh masyarakat dan mengestimasi nilai ekonominya sebagai upaya mendukung pengelolaan Sumber Daya Alam secara adil, legal, dan lestari.
Data dikumpulkan melalui studi literatur, observasi, wawancara tersruktur, dan dokumentasi. Sampel ditentukan dengan rumus Yamane (1967) yang menghasilkan 91 sampel. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik accidental sampling. Analisis data dilakukan secara deskriptif kualitatif dan secara kuantitatif melalui valuasi ekonomi menggunakan pendekatan revealed preference yaitu metode harga pasar barang pengganti, biaya pengumpulan dan residual value. Perhitungan proporsi nilai ekonomi dilakukan untuk menentukan kontribusi masing-masing jenis HHBK terhadap total nilai pemanfaatan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Desa Ngargomulyo memanfaatkan berbagai jenis HHBK seperti kayu bakar, aren, bambu, pakis, rebung, dan hijauan pakan ternak (HPT) sebagai kebutuhan subsisten dan komersial. Rata-rata nilai ekonomi pemanfaatan HHBK mencapai Rp22.897.726/KK/tahun dengan jumlah rumah tangga pemanfaat sebesar 607 KK, maka total nilai pemanfaatan HHBK dapat diestimasi sebesar Rp13,8 miliar /tahun
Villages in the buffer zone of the Merapi Mountain National Park rely heavily on Non-Timber Forest Products (NTFPs). While NTFPs can support conservation and community empowerment, economic pressures and restricted access due to zoning may create conflicts between the community and park managers. Valuing NTFPs is crucial for quantifying their contribution to community welfare and for informing sustainable forest management policies. This study aims to identify the types of NTFPs used, explore the patterns of their utilization by the community, and estimate their economic value to promote fair and sustainable natural resource management.
Data were collected through literature reviews, observations, structured interviews, and documentation. A sample of 91 was determined using Yamane's formula (1967) and accidental sampling techniques. Data analysis was conducted both qualitatively and quantitatively through economic valuation using the revealed preference approach, which included methods such as market prices of substitute goods, cost of collection, and residual value.
The findings indicate that the Ngargomulyo community utilizes various NTFPs, including firewood, sugar palm, bamboo, ferns, bamboo shoots, and fodder for subsistence and commercial purposes. The average economic value of NTFP (Non-Timber Forest Products) utilization reaches IDR 22,897,726 per household per year, with a total of 607 households involved. Therefore, the total estimated value of NTFP utilization is approximately IDR 13.8 billion per year
Kata Kunci : Desa Ngargomulyo, Hasil Hutan Bukan Kayu, Pemanfaatan Sumber Daya Alam, Taman Nasional, Valuasi Ekonomi; Ngargomulyo Village, NTFPs, Natural Resource Utilization, National Park, Economic Valuation