Laporkan Masalah

Language as Actant: The Actor Networks of the EU’s Language Technology Landscape

Nathania Amaris Pasaribu, Dr. Suci Lestari Yuana, S.I.P., M.I.A.

2025 | Skripsi | Ilmu Hubungan Internasional

??Bahasa selalu hadir namun kerap diabaikan. Dalam pengembangan Teknologi Bahasa (LT), perannya telah bergeser dari sekadar media interaksi manusia menjadi jembatan antara kode komputasi dan kognisi. Penelitian ini menerapkan Actor Network Theory (ANT) untuk melacak lanskap LT Eropa, dengan mengacu pada model translation Callon (1984) untuk mengurai bagaimana aktor-aktor yang berbeda menegosiasikan posisi mereka. Meskipun Uni Eropa mempromosikan LT sebagai alat untuk menjaga nilai multilingualisme, visi ini bertentangan dengan tuntutan praktis bersaing di dunia teknologi yang terus berkembang dan semakin berorientasi pada kecerdasan buatan (AI). Dengan melacak hubungan di dalam komunitas LT Eropa, studi ini menunjukkan bahwa identitas aktor, seringkali, bersifat dinamis dan kompleks. Dalam bidang LT, bahasa Inggris khususnya muncul sebagai Obligatory Passage Point (OPP) yang harus dilalui bahasa lain untuk tetap relevan secara digital–menciptakan apa yang penelitian ini sebut sebagai “tirani kemudahan.” Meskipun inisiatif Uni Eropa berusaha melawan hal ini melalui proyek seperti European Language Equality (ELE) dan European Language Grid (ELG), dominasi bahasa Inggris tetap mendalam tertanam dalam sistem-sistem LT. Mengurai dinamika ini melalui ANT mengungkapkan bagaimana bahasa memainkan peran vital dalam membentuk lanskap LT Eropa. Melihat bahasa sebagai aktan menantang kita untuk menafsirkan ulang cara kita menavigasi era digital ini.

Language has always been there yet is often overlooked. In the development of Language Technologies (LTs), its role has shifted from being a mere medium of human interaction to becoming the bridge between computational code and cognition. This research applies Actor-Network Theory (ANT) to trace the European LT landscape, drawing on Callon’s (1984) translation model to unpack how different actors negotiate their positions. While the European Union promotes LTs as tools to preserve the value of multilingualism, this vision clashes with the practical demands of competing in an evolving technological world increasingly oriented toward AI. By tracing the relationships within the European LT community, this study shows how actors’ identities, more often than not, are dynamic and complex. Within the LT field, English in particular emerges as the Obligatory Passage Point (OPP) through which other languages must pass to stay digitally relevant–creating what this research terms a “tyranny of convenience.” Even as European initiatives attempt to push back through projects like European Language Equality (ELE) and the European Language Grid (ELG), English’s dominance remains deeply entrenched in the LT systems. Reassembling these dynamics through ANT reveals how language plays a vital role in shaping the landscape of European LTs. Recognising languages as actants challenges us to reinterpret the way we navigate this digital age.

Kata Kunci : Language Technology, European Union, Multilingualism, Actor Network Theory, Actant

  1. S1-2025-480906-abstract.pdf  
  2. S1-2025-480906-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-480906-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-480906-title.pdf