Laporkan Masalah

Critical Discourse Analysis on Queer: Queerbaiting Content on Jefri Nichol's Instagram Account

Arkajendra Ardikanitra, Mashita Phitaloka Fandia Purwaningtyas, S.I.P., M.A.

2025 | Skripsi | Ilmu Komunikasi

Penelitian ini secara kritis mengkaji discourse queerbaiting dalam media Indonesia melalui studi kasus unggahan Instagram Jefri Nichol yang kontroversial pada bulan April 2022. Unggahan tersebut, yang menampilkan gambar Nichol mencium teman laki-laki tanpa penjelasan kontekstual, memicu perdebatan publik dan liputan media yang signifikan, menarik perhatian pada dinamika kompleks queer representation dalam masyarakat heteronormative. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan Critical Discourse Analysis (CDA) berdasarkan kerangka kerja Sara Mills, penelitian ini mengeksplorasi bagaimana konten bermuatan queer dikonstruksi, diterima, dan dinegosiasikan dalam ruang digital dan media di Indonesia. Analisis ini mengintegrasikan queer theory, khususnya konsep queerbaiting Nordin, untuk menyelidiki bagaimana ambiguitas dalam representasi dapat berfungsi sebagai bentuk visibilitas sekaligus mekanisme marginalisasi. Temuan menunjukkan bahwa meskipun unggahan tersebut menghasilkan visibilitas untuk queer discourse, hal itu sering kali mereduksi queerness menjadi tontonan dan kontroversi, daripada menawarkan representasi yang bermakna. Studi ini juga memasukkan resepsi audiens dari individu yang mengidentifikasi diri sebagai queer, menyoroti interpretasi yang bertentangan antara ekspresi diri dan eksploitasi. Selain itu, penelitian ini berkontribusi pada pemahaman yang lebih dalam tentang bagaimana identitas queer dibingkai dalam media Indonesia dan menawarkan wawasan kritis tentang tantangan queer representation dalam konteks budaya konservatif.

This research critically examines the discourse of queerbaiting in Indonesian media through a case study of Jefri Nichol’s controversial Instagram post in April 2022. The post, which featured an image of Nichol kissing a male friend without contextual explanation, sparked significant public debate and media coverage, drawing attention to the complex dynamics of queer representation in a heteronormative society. Using a qualitative approach with Critical Discourse Analysis (CDA) based on Sara Mills' framework, this study explores how queer-coded content is constructed, received, and negotiated within digital and media spaces in Indonesia. The analysis integrates queer theory, particularly Nordin’s concept of queerbaiting to investigate how ambiguity in representation may serve as both a form of visibility and a mechanism of marginalization. Findings reveal that while the post generated visibility for queer discourse, it often reduced queerness to spectacle and controversy, rather than offering meaningful representation. The study also incorporates audience reception from queer-identifying individuals, highlighting conflicting interpretations between self-expression and exploitation. Additionally, this research contributes to a deeper understanding of how queer identities are framed in Indonesian media and offers critical insights into the challenges of queer representation in culturally conservative contexts.

Kata Kunci : queerbaiting, queer theory, critical discourse analysis, subject positioning, queer representation.

  1. S1-2025-472869-abstract.pdf  
  2. S1-2025-472869-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-472869-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-472869-title.pdf