Laporkan Masalah

Geologi Pengembangan Wilayah untuk Permukiman Desa Ngoro-Oro, Kecamatan Patuk, Kabupaten Gunungkidul

Refa Rahma Putri Oktaviany, Dr.Eng.Ir. Wawan Budianta, S.T., M.Sc., IPM. ; Agus Hendratno, S.T., M.T.

2025 | Skripsi | TEKNIK GEOLOGI

Pembangunan jalan alternatif Sleman – Gunungkidul yang mendapat dukungan dari Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta dan Pemerintah Pusat hampir selesai pada akhir 2024. Jalan ini melewati beberapa desa, termasuk Desa Ngoro-Oro. Keberadaan jalan ini diperkirakan akan dapat meningkatkan jumlah wisatawan, mobilitas masyarakat, serta pertumbuhan ekonomi dan penduduk di desa tersebut. Selain itu, Desa Ngoro-Oro juga memiliki potensi positif yaitu memiliki menara pemancar dan potensi jaringan internet yang bagus. Namun, peningkatan penduduk di wilayah dengan luas tetap dapat berisiko menimbulkan masalah lingkungan jika pemanfaatan lahannya tidak tepat. Oleh karena itu, perencanaan kawasan permukiman yang mempertimbangkan aspek geologi sangat diperlukan dalam menentukan kemampuan lahan khususnya untuk permukiman. Penelitian ini menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) dengan bobot akhir parameter yaitu kerentanan gerakan tanah (29,6%), kerawanan gempa bumi (22,7%) kemiringan lereng (18,0%), kekerasan batuan (12,1%), kedalaman muka air tanah (7,4%), kembang-susut tanah (5,7%), dan nilai TDS air tanah (4,6%). Zonasi geologi pengembangan wilayah permukiman yang telah dihasilkan terbagi menjadi tiga zona, yaitu zona sangat mampu (34%) di bagian tengah dan barat, zona mampu (36,5%) tersebar merata, dan zona kurang mampu (29,5%) di utara. Hasil dari penelitian ini menjadi dasar penting bagi perencanaan permukiman berkelanjutan di Desa Ngoro-Oro. 


The construction of the Sleman – Gunungkidul alternative road, supported by the Special Region of Yogyakarta Government and the Central Government, will be completed by the end of 2024. This road passes through several villages, including Ngoro-Oro Village. The presence of this road is expected to increase the number of tourists, people's mobility, as well as economic and population growth in the village. Additionally, Ngoro-Oro Village has positive aspects due to the presence of transmission towers and a good internet network. However, population growth in a fixed area may pose environmental risks if land use is not managed properly. Therefore, planning of residential areas that considers geological aspects is essential in determining land capability, especially for settlements. This study uses the Analytical Hierarchy Process (AHP) method with final weights for parameters as follows: land movement vulnerability (29,6%), earthquake vulnerability (22,7%), slope gradient (18,0%), rock hardness (12,1%), groundwater table depth (7,4%), soil shrink-swell (5,7%), and groundwater TDS value (4,6%). The resulting geological zoning for settlement development is divided into three zones: highly capable (34%) in the central and western parts, capable (36,5%) evenly distributed, less capable (29,5%) in the north. These results provide an important basis for sustainable settlement planning in Ngoro-Oro Village. 

Kata Kunci : geologi pengembangan wilayah, Analytical Hierarchy Process, kemampuan lahan, permukiman

  1. S1-2025-473178-abstract.pdf  
  2. S1-2025-473178-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-473178-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-473178-title.pdf