Permodelan Variasi Longitudinal Sifat Fisika dan Mekanika Bambu Ampel (Bambusa vulgaris) dari Hutan Rakyat Kulon Progo, Yogyakarta
Karina Linggacahara, Agus Ngadianto, S.Hut., M.Sc., Ph.D.
2025 | Tugas Akhir | D4 PENGELOLAAN HUTAN
Bambu ampel (Bambusa vulgaris) merupakan salah satu jenis
bambu yang banyak ditemukan di Indonesia dan memiliki potensi besar sebagai
bahan baku pengganti kayu. Namun demikian, informasi mengenai variasi sifat
fisika dan mekanika bambu ini sepanjang batangnya (arah longitudinal) masih
terbatas. Penelitian ini bertujuan mengkaji sifat fisika dan mekanika bambu
ampel (Bambusa vulgaris) dari hutan rakyat di Kabupaten Kulon Progo,
Yogyakarta, berdasarkan variasi longitudinal sepanjang batang dengan pendekatan
pemodelan efek campuran linier dan nonlinier. Hasil
penelitian ini menunjukkan bahwa nilai rata-rata diameter, tinggi total, dan
tebal batang bambu masing-masing adalah sebesar 9,1 cm; 18,3 m; dan 0,81 cm. Sementra itu, nilai rata-rata kerapatan dasar, kadar air
segar, penyusutan radial dan tangensial pada setiap perubahan kadar air 1%, MOE
dan MOR berturut-turut adalah sebesar 0,68 g/cm3; 77,4%; 0,29%; 0,24%;
9,83 GPa, dan 99,7 MPa. Model pola variasi longitudinal menunjukkan bahwa Model
efek campuran linier (Model I) sesuai untuk nilai kerapatan dasar dan kadar air
segar. Sementara itu, model efek campuran non-linier (Model II) lebih sesuai
untuk nilai tebal bambu, penyusutan
radial dan tangensial pada setiap perubahan kadar air 1%, serta MOE dan MOR.
Terdapat korelasi yang sangat signifikan antara nilai kerapatan dasar dengan
kadar air dan sifat mekanika (MOE dan MOR) bambu ampel. Hal ini berarti bahwa
keraptan dasar dapat menjadi prediktor yang baik untuk mengetahui nilai kadar
air dan sifat mekanika (MOE dan MOR). Sementara itu, nilai MOE juga dapat
diprediksi dari nilai MOR.
Bambusa vulgaris is one of the bamboo species that
is widely found in Indonesia and has great potential as a raw material to
replace wood. However, information on the variation of the physical and
mechanical properties of this bamboo along its stem (longitudinal direction) is
still limited. This study aimed to examine the physical and mechanical
properties of Bambusa vulgaris naturally grown in the community forests of
Kulon Progo, Yogyakarta, Indonesia, based on longitudinal variations along the
stem with a linear and nonlinear mixed-effect modeling approach. The results showed
that the mean values ??of the diameter, total height, and thickness of the
bamboo stem were 9.1 cm; 18.3 m; and 0.81 cm, respectively. Meanwhile, the mean values ??of basic density, green
moisture content, shrinkage at 1% moisture content change in radial and
tangential directions, MOE, and MOR were 0.68
g/cm3; 77.4%; 0.29%; 0.24%; 9.83 GPa, and 99.7 MPa, respectively. The
longitudinal variation pattern model showed that the linear mixed effect model
(Model I) was suitable for the basic density and green moisture content.
Meanwhile, the non-linear mixed effect model (Model II) was suitable for the
bamboo thickness, shrinkage at 1% moisture
content change in radial and tangential directions, MOE, and MOR. The significant
correlation between basic density with green moisture content and mechanical
properties (MOE and MOR) was found in Bambusa vulgaris. This means that the basic density
can be a good predictor for determining the moisture content and mechanical
properties (MOE and MOR). In addition, the MOE can also be predicted by the MOR.
Kata Kunci : bambu ampel, hutan rakyat, sifat fisika, sifat mekanika, variasi longitudinal