Laporkan Masalah

Di Balik Penghancuran Eboni: Ekstraksi Kayu Hitam di Sulawesi Tengah Sepanjang Abad ke-20

Adi Setiawan, Dr. Farabi Fakih, M.Phil

2025 | Tesis | S2 Sejarah

Eboni, spesies endemik di wilayah tropis Afrika dan Asia, saat ini berstatus rentan akibat ekstraksi berlebihan. Sejak awal abad ke-20, Sulawesi Tengah telah menjadi salah satu penghasil eboni yang signifikan bagi pasar global. Studi ini bertujuan untuk merekonstruksi dan mengungkap relasi sosio-ekologis di balik proses ekstraksi komoditas tersebut dengan mengajukan sejumlah pertanyaan berikut: 1) mengapa eboni menjadi komoditas yang bernilai tinggi sehingga ekstraksinya terus menerus dilakukan?; 2) sejak kapan dan bagaimana proses munculnya Sulawesi Tengah sebagai situs produksi eboni bagi pasar global?; 3) siapa saja aktor atau pihak yang terlibat dalam praktik ekstraksi eboni di Sulawesi Tengah?; 4) relasi sosio-ekologis seperti apa yang terjadi di balik ekstraksi eboni?; 5) dampak lingkungan apa saja yang terjadi akibat munculnya komoditas tersebut? Menggunakan metode sejarah yang menggabungkan berbagai jenis sumber, baik yang tertulis maupun lisan, meliputi arsip, dokumen, surat kabar, majalah sezaman, serta wawancara dengan beberapa narasumber yang terkait langsung dengan topik penelitian, studi ini mengadopsi konsep akumulasi dan ekstraktivisme, serta mengaplikasikan pendekatan ‘frontir komoditas’ untuk menganalisis dinamika ekstraksi eboni yang terjadi di Sulawesi Tengah sebagai situs atau zona produksi. Studi ini mengungkapkan bahwa ekstraksi eboni didorong oleh selera dan hasrat manusia atas barang mewah, estetik, dan eksotis, khususnya oleh masyarakat Barat, yang muncul paling tidak sejak abad ke-16. Fenomena tersebut berhasil memicu munculnya zona inti dan pinggiran sebagai rantai komoditas global eboni. Kemunculan Sulawesi Tengah sebagai situs produksi pada abad ke-20 merupakan bagian tak terpisahkan dari ekspansi kapitalisme ke daerah frontir baru yang terus beradaptasi ketika populasi eboni di tempat lain menghadapi krisis. Ini menunjukkan adanya perubahan zona pinggiran. Akan tetapi, studi ini juga menemukan bahwa zona inti juga bisa berubah yang tercermin dari pergeseran pasar eboni dari Eropa ke Jepang. Pada akhirnya, tekanan pasar dan ekstraksi berskala besar telah menyebabkan krisis eboni dan degradasi lingkungan di Sulawesi Tengah. Studi ini berargumen bahwa akumulasi, ekstraktivisme, dan kehancuran ekologis merupakan kesatuan yang inheren dalam sistem kapitalisme.

Ebony, an endemic species found in tropical regions of Africa and Asia, is currently classified as vulnerable due to over-extraction. Since the early 20th century, Central Sulawesi has been a significant producer of ebony for the global market. This study aims to reconstruct and uncover the socio-ecological relationships underpinning the process of ebony extraction. This study addresses several key questions: 1) Why is ebony such a high-value commodity that its extraction is continuously carried out? 2) Since when and how is the process of the emergence of Central Sulawesi as a production site of ebony for the global market? 3) Who are the actors or parties involved in the practice of ebony extraction in Central Sulawesi? 4) What kind of socio-ecological relations occur behind ebony extraction? 5) What environmental impacts occur due to the emergence of this commodity? Employing a historical method that involved various written and oral sources, including archives, documents, newspapers, magazines, and interviews with individuals related to the research agenda, this study adopts the concepts of accumulation and extractivism. It applies the ‘commodity frontier’ approach to analyse the dynamics and processes of ebony extraction in Central Sulawesi as a site of production. This study reveals that ebony extraction has been driven by human taste and desire for luxury, aesthetic, and exotic goods, particularly among Western societies, which emerged at least since the 16th century. This phenomenon created the core and periphery zones within the global ebony commodity chain. Thus, this study argues that the emergence of Central Sulawesi as a site of ebony production in the 20th century was an integral part of capitalist expansion in the new frontier area, continually adapting as ebony populations elsewhere faced crises, indicating a shift in peripheral zones. However, this study also found that core zones can also change, as reflected in the market shift for ebony from Europe to Japan. Ultimately, market pressure and large-scale extraction have led to an ebony crisis and environmental degradation in Central Sulawesi. This study argues that accumulation, extractivism, and ecological destruction are inherent within capitalism. 

Kata Kunci : Eboni, Sulawesi Tengah, Ekstraktivisme, Frontir Komoditas, Kapitalisme

  1. S2-2025-527340-abstract.pdf  
  2. S2-2025-527340-bibliography.pdf  
  3. S2-2025-527340-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2025-527340-title.pdf