Evaluasi Keselamatan Bus Pariwisata di Indonesia
Chairul Fajar, Dr. Ir. Dewanti, MS. ; Mukhammad Rizka Fahmi Amrozi, S.T., M.Sc., Ph.D.
2025 | Tesis | S2 Mag. S. & T.Transportasi
Bus pariwisata menunjukkan tingkat kecelakaan yang mengkhawatirkan, dengan rasio korban fatal mencapai 67%. Data kecelakaan pada bus pariwisata menunjukkan bahwa lebih dari 80% penyebab kecelakaan melibatkan faktor manusia dan kendaraan. Oleh karena itu, perlu dilakukan analisis karakteristik kecelakaan, identifikasi faktor penyebab kecelakaan berdasarkan kesalahan manusia, serta perbandingan standar keselamatan untuk merumuskan rekomendasi yang tepat dalam meningkatkan keselamatan bus pariwisata di Indonesia.
Penelitian ini menggunakan pendekatan 5W+1H untuk menganalisis karakteristik kecelakaan. Klasifikasi faktor penyebab kesalahan manusia dalam kecelakaan dilakukan dengan metode Human Factor Analysis and Classification System (HFACS). Selanjutnya, perbandingan kesesuaian standar keselamatan dilakukan melalui metode komparasi. Berdasarkan hasil analisis, rekomendasi untuk peningkatan keselamatan disusun menggunakan metode SWOT. Metode yang digunakan dalam penelitian ini menggabungkan pendekatan kualitatif naratif interpretatif dan deskriptif kuantitatif. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan studi dokumen terhadap 43 kasus kecelakaan bus pariwisata yang terjadi pada periode 2020–2025.
Berdasarkan analisis karakteristik kecelakaan, diketahui bahwa kecelakaan paling sering terjadi pada perjalanan study tour (58%), dengan kecelakaan tunggal (44%) yang terjadi pada malam hari (56%), dan puncaknya pada hari Sabtu (28%). Lokasi kecelakaan yang paling banyak ditemukan adalah di jalan turunan menikung (37%). Hasil identifikasi faktor kesalahan manusia menunjukkan adanya 279 kasus kesalahan yang dikelompokkan ke dalam empat kriteria HFACS: Unsafe Acts (21%), Preconditions for Unsafe Acts (34%), Unsafe Supervision (27%), dan Organizational Influences (18%). Tinjauan lapangan juga mengungkapkan ketidaksesuaian antara kondisi bus yang beroperasi dan standar keselamatan yang berlaku. Berdasarkan temuan tersebut, rekomendasi peningkatan keselamatan meliputi penerapan standar keselamatan internasional seperti UNR14, UNR16, UNR66, UNR80, UNR107, UNR169, UNR29, dan UNR58 untuk mengurangi fatalitas kecelakaan. Selain itu, penguatan pelatihan pengemudi melalui sertifikasi berbasis e-SMK, integrasi sistem pemantauan digital untuk kelaikan kendaraan, penerapan sistem rating bus pariwisata, serta pemantauan kendaraan dan jam kerja pengemudi dengan teknologi GPS dan Event Data Recorders (EDR).
Tourist buses show an alarming accident rate, with a fatal casualty ratio reaching 67%. Accident data on tourist buses indicate that human and vehicle factors are involved in over 80% of accidents. Therefore, it is necessary to analyze accident characteristics, identify causal factors based on human error, and compare safety standards to formulate appropriate recommendations for improving tourist bus safety in Indonesia.
This study uses a 5W+1H approach to analyze accident characteristics. The classification of human error causal factors in accidents was performed using the Human Factor Analysis and Classification System (HFACS) method. Furthermore, a comparison of safety standard compliance was conducted using a comparative method. Based on the analysis results, recommendations for safety improvements were formulated using the SWOT method. The methodology in this research combines an interpretive narrative qualitative approach with a quantitative descriptive approach. Data was collected through in-depth interviews, field observations, and document studies on 43 tourist bus accident cases that occurred during the 2020–2025 period.
Based on the analysis of accident characteristics, it was found that accidents most frequently occurred during study tours (58%), were single-vehicle accidents (44%) that took place at night (56%), and peaked on Saturdays (28%). The most common accident location was on winding downhill roads (37%). The results of the human error factor identification showed 279 error cases grouped into four HFACS criteria: Preconditions for Unsafe Acts (34%), Unsafe Supervision (27%), Unsafe Acts (21%), and Organizational Influences (18%). Field reviews also revealed a discrepancy between the condition of operating buses and applicable safety standards. Based on these findings, recommendations for safety improvements include the implementation of international safety standards such as UNR14, UNR16, UNR66, UNR80, UNR107, UNR169, UNR29, and UNR58 to reduce accident fatalities. Additionally, strengthening driver training through e-SMK-based certification, integrating digital monitoring systems for vehicle roadworthiness, implementing a tourist bus rating system, and monitoring vehicles and driver working hours with GPS and Event Data Recorders (EDR) technology are also recommended.
Kata Kunci : Bus Pariwisata, HFACS, Kecelakaan, Keselamatan, UNECE R