Diplomasi Air: Transformasi Praktik Diplomasi Indonesia di Era Perubahan Iklim Global
Wita Katryna Ariane, Dr. Maharani Hapsari, S.IP., M.A.
2025 | Skripsi | Ilmu Hubungan Internasional
Skripsi ini membahas bagaimana diplomasi Indonesia berkembang
dari state-centric dan pendekatan historis yang fokus pada stabilitas
dan pertumbuhan ekonomi, menuju kepada tantangan diplomasi air yang kompleks
dan bersifat lintas batas, muti-sektor serta multi aktor. Pada dasarnya
Indonesia dikaruniai kekayaan alam yang melimpah, akan tetapi air permukaan
hanya mencukupi 73?ri kebutuhan untuk masyarakat dan pembangunan.
Ketidakseimbangan tersebut diperparah dengan adanya ancaman perubahan iklim
global yang mengubah pola hidrologi di seluruh daerah, serta memerlukan tata
kelola air yang lebih efektif. Berdasarkan teori linkage politics
yang dikemukakan Rosenau, penguatan tekanan domestik dan pengaruh
internasional, telah membuat Indonesia melakukan perubahan fokus dalam praktik
politik luar negeri, yaitu dari praktik yang secara historis berpaku pada
stabilitas regional untuk menjamin pertumbuhan ekonomi serta kedaulatan
nasional, menuju praktik diplomasi yang melibatkan isu sumber daya air. Praktik
diplomasi air ini memerlukan kolaborasi dengan aktor non-state, seperti
pakar di bidang sains, masyarakat madani serta komunitas akademisi agar
Indonesia bisa lebih baik dalam menangani isu air global. Pergeseran praktik
diplomasi ini sangat jelas ditunjukkan dari aksi dan keterlibatan Indonesia
dalam insiatif renasionalisasi PAM Jaya karena adanya tekanan masyarakat
madani, sampai dengan peran aktif Indonesia dalam menandatangani Paris Agreement.
Pada esensinya, linkage ini menunjukkan bagaimana politik luar negeri
saat ini cenderung mengikuti tren yang mengemuka dalam opini internasional, sekaligus
menjadi media uji besar kecilnya kekuatan dari cara suatu negara merespon tren
tersebut. Untuk agenda “non-high politics” (seperti isu lingkungan),
partisipasi dari aktor non-state sudah jamak dilakukan.
In this paper, we will discuss how Indonesian diplomacy
evolved from state-centric and traditional approaches that focus on stability
and economic growth to more complex water challenges into a new model that
addresses trans-boundary, multi-sectoral, and multi-actor issues, known as
water diplomacy. Indonesia is richly endowed with natural resources, yet
surface water supplies meet only 73% of the total required water supply for the
nation. This imbalance has been compounded by the effects of global climate
change that intensify extreme weather events and modify hydrological patterns
across the country and has raised the needs of adaptive approach to water
governance. Based on Rosenau’s linkage politics, these compelling domestic
pressures and international influences have led Indonesia to refocus its
approach to different foreign policy orientation: from one that historically
deals primarily with regional stability to ensure domestic economic growth and
state sovereignty toward one that involves in water related foreign policy that
engages more collaboratively with non-state actors, such as scientific experts
and local communities, in ways that are better able to address global issues.
This shift is becoming more apparent in recent actions and engagements by
Indonesia; from domestic initiatives such as remunicipalizing PAM Jaya through
to active participation in international agreements, such as the Paris
Agreement. In essence, these linkages
demonstrate how a country's foreign policy is increasingly influenced by global
issues that test national power, alongside the growing force of non-state
actors in areas traditionally considered outside "high politics"
(like water issue).
Kata Kunci : perubahan iklim global, diplomasi air, linkage politics, praktik diplomasi, aktor non-state