Laporkan Masalah

Frame Analysis Tantangan Adopsi Electric Vehicle (EV) di Asia Tenggara sebagai Karakteristik Transisi Energi Negara Selatan

Salsabilla Azzahra Octavia, Dr. Suci Lestari Yuana, S.I.P., M.I.A.

2025 | Skripsi | Ilmu Hubungan Internasional

Tingkat pemanasan iklim semakin tinggi akibat peningkatan emisi gas rumah kaca yang semakin tidak terkendali. Total partikel karbon dioksida (CO2) di udara meningkat hingga mencapai 413 bagian per juta sebagai dampak dari proses industrialisasi dan globalisasi (Qin et al., 2021). Maka dari itu, muncul agenda penggalakan transisi energi lewat adopsi electric vehicle (EV). Akan tetapi, adopsi EV sebagai agenda transisi energi tidak mudah diterapkan di Asia Tenggara. Meskipun secara per kapita emisi gas rumah kaca negara-negara Asia Tenggara lebih rendah dibandingkan negara-negara maju, setiap negara masih memiliki ketergantungan yang tinggi dengan bahan bakar fosil dan kurangnya kapasitas penyimpanan karbon dioksida di bawah permukaan atas adanya kesenjangan pengetahuan (Lau, 2022). Proses adopsi EV di Asia Tenggara memiliki banyak tantangan yang menjadi karakteristik khas dari transisi energi di negara Selatan.
Penelitian ini berupaya menggali bingkai yang diidentifikasi berdasarkan artikel berita mengenai eksistensi EV di Asia Tenggara sekaligus menemukan tantangan adopsi EV sebagai instrumen transisi energi negara Selatan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif untuk menggali informasi mengenai adopsi EV di Asia Tenggara dengan memilih dua negara, yaitu Indonesia dan Thailand. Informasi mengenai pengadopsian EV di Indonesia dan Thailand dikumpulkan melalui desk research, yakni dengan menggunakan artikel berita dari Indonesia dan Thailand sebagai sumber informasi primer dan artikel jurnal ilmiah sebagai sumber informasi sekunder. Informasi mengenai kontestasi penerapan EV di ASEAN diolah menggunakan  frame analysis yang berpatokan pada proses penyajian bingkai menggunakan sub-bingkai milik Snow dan Benford (1988), yaitu masalah, solusi, dan motivasi. Berdasarkan hasil penelitian,  adopsi EV di Indonesia dan Thailand sebagai negara di Asia Tenggara masih bergantung dengan investasi asing, memerlukan kebijakan insentif kuat dari pemerintah, menimbulkan kerusakan lingkungan atas tambang nikel, serta membutuhkan peningkatan daya listrik domestik yang lebih besar.

The rate of climate warming is increasing due to the uncontrolled increase in greenhouse gas emissions. The total carbon dioxide (CO2) particles in the air have increased to 413 parts per million as a result of industrialization and globalization (Qin et al., 2021). Therefore, there is an agenda to promote energy transition through the adoption of electric vehicles (EVs). Regardless, implementing the adoption of EVs as part of an energy transition agenda in Southeast Asia is not straightforward. Although Southeast Asian countries have lower per capita greenhouse gas emissions compared to developed countries, each country still has a high dependence on fossil fuels and a limited carbon dioxide storage capacity below the surface, due to knowledge gaps (Lau, 2022). The EV adoption process in Southeast Asia has many challenges that are characteristic of the energy transition in South country. 

This research aims to explore the frames identified by news articles on the existence of EVs in Southeast Asia and the challenges of EV adoption as an instrument of energy transition in the South. The research used a qualitative approach to gather information on EV adoption in Southeast Asia by selecting two countries, namely Indonesia and Thailand. Information on EV adoption in Indonesia and Thailand was collected through desk research, using news articles from Indonesia and Thailand as primary sources and scientific journal articles as secondary sources. Information on the contestation of EV adoption in ASEAN was analyzed using frame analysis based on Snow and Benford's (1988) sub-frame presentation process, namely problem, solution, and motivation. Based on the research results, EV adoption in Indonesia and Thailand, as Southeast Asian countries, remains dependent on foreign investment, requires strong incentive policies from the government, causes environmental damage due to nickel mines, and necessitates a significant increase in domestic electric power.

Kata Kunci : EV, electric vehicle, transisi energi, frame analysis, negara Selatan, Asia Tenggara, Indonesia, Thailand, tambang nikel, daya listrik

  1. S1-2025-473253-abstract.pdf  
  2. S1-2025-473253-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-473253-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-473253-title.pdf