Laporkan Masalah

A LINGUISTIC LANDSCAPE STUDY OF BANDAR GRISSEE: MULTILINGUALISM, MEMORY, AND LANGUAGE COMMODIFICATION IN A HERITAGE TOURISM PLACE

Hurrotul Firdausiyah, Prof. Dr. Suhandano, M.A.

2025 | Tesis | S2 Linguistik

INTISARI

Tesis ini mengeksplorasi lanskap linguistik Bandar Grissee, sebuah kota lama di Gresik, Indonesia, yang telah direvitalisasi menjadi tempat wisata heritage. Tesis ini didorong oleh kompleksitas lanskap linguistik di Bandar Grissee baik pada papan tanda top-down maupun bottom-up, yang kemudian menimbulkan ketegangan antara memori dan komodifikasi. Dengan menggunakan kerangka teori dari studi lanskap linguistik, khususnya geosemiotika dan ingatan multibahasa, tesis ini menyelidiki bagaimana multibahasa, ingatan, dan komodifikasi bahasa memainkan peran penting dalam mengingat ingatan historis dan menyajikan keaslian kepada pengunjung serta menarik pelanggan. Tesis ini menggunakan metode kualitatif, termasuk observasi lapangan dan dokumentasi untuk mengumpulkan data di Bandar Grissee. Analisis menunjukkan bahwa multilingualisme terlihat dalam lanskap linguistik Bandar Grissee yang melibatkan bahasa Indonesia, Jawa, Inggris, Arab, Cina, Belanda, Prancis, dan Hindi. Bahasa Indonesia mendominasi baik pada papan tanda resmi (top-down) maupun komersil (bottom-up) karena status resminya sebagai bahasa nasional dan kebijakan bahasa di Indonesia. Bahasa Arab, Cina, Belanda, Hindi, Prancis, dan Inggris digunakan dengan tingkat yang bervariasi, mencerminkan pengaruh kenangan sejarah dan pasar pariwisata kontemporer. Multilingualisme dalam lanskap linguistik Bandar Grissee ini juga muncul untuk mengingatkan pada kenangan sejarah masa lalu yang juga bisa dilihat dari sumber daya semiotik yang digunakan, terutama pada semiotika visual dan tempat. Namun, seiring dengan transformasi Bandar Grissee menjadi tempat wisata heritage, sebuah pengaruh yang berbeda antara memori dan komodifikasi di lanskap linguistik Bandar Grissee. Temuan menunjukkan bahwa ketegangan tersebut diciptakan untuk tujuan pemasaran, komersialisasi, dan komodifikasi. Studi ini menyarankan bahwa wisata heritage berkelanjutan memerlukan kebijakan bahasa dan praktik penandaan yang menyeimbangkan kepentingan ekonomi dengan pelestarian sejarah dan budaya. Pemerintah daerah, pengelola situs wisata heritage, dan peneliti didorong untuk berkolaborasi dalam mengembangkan pendekatan inklusif, sensitif budaya, dan berkelanjutan dalam penandaan publik di kawasan heritage yang direvitalisasi.

 

 

Kata kunci: lanskap linguistik; multilingualisme; memori; geosemiotik; komodifikasi bahasa

 

 

ABSTRACT

This thesis explores the linguistic landscape of Bandar Grissee, an ancient city in Gresik, Indonesia, that has been revitalized into a heritage tourism place. This thesis is prompted by a complexity of linguistic landscape in Bandar Grissee between top-down and bottom-up which spots a tension between memory and commodification. Drawing on theoretical frameworks from linguistic landscape studies, particularly geosemiotics and multilingual memories, this thesis investigates how multilingualism, memory, and language commodification play an important role in recalling historical memories and serving authenticity to visitors as well as attracting the customers. This thesis employs qualitative methods, including field observation and documentation to collect the data in Bandar Grissee. The analysis revealed that multilingualism is spotted in the linguistic landscape of Bandar Grissee involving Indonesian, Javanese, English, Arabic, Chinese, Dutch, French, and Hindi. The Indonesian language predominates in both official signs (top-down) and commercial signs (bottom-up) due to its official status and national language policy. Arabic, Chinese, Dutch, Hindi, French, and English are used to varying degrees, reflecting the influence of historical memories and contemporary tourism markets. The multilingualism in the linguistic landscape of Bandar Grissee also recalls the historical memories which are constructed with semiotic resources, especially the visual semiotics and place semiotics. However, along with the transformation of Bandar Grissee into a heritage tourism place, a tension between memory and commodification arises in the linguistic landscape. The findings reveal that the tension is created for marketability, commercialization, and commodification. The study suggests that sustainable heritage tourism requires language policies and signage practices that balance economic interests with historical and cultural preservation. Local governments, heritage site managers, and researchers are encouraged to collaborate in developing inclusive, culturally sensitive, and sustainable approaches to public signage in revitalized heritage areas.

Keywords: linguistic landscape; multilingualism; memory; geosemiotics; language commodification

Kata Kunci : linguistic landscape, multilingualism, memory, geosemiotics, language commodification

  1. S2-2025-513223-abstract.pdf  
  2. S2-2025-513223-bibliography.pdf  
  3. S2-2025-513223-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2025-513223-title.pdf