Evaluasi Implementasi Penemuan Kasus Diabetes Melitus Pada Usia Produktif 15 s.d 59 tahun di Wilayah Kerja Dinas Kesehatan Kota Magelang Tahun 2024
Erica Yunita Trisnawati, Dr. dr. Citra Indriani, MPH; dr. Vina Yanti S. M.Sc., PhD., SpPD-KEMD
2025 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat
Latar Belakang: PTM menjadi beban di
Indonesia yang berdampak pada 74% kematian. Selain itu, PTM diabetes melitus juga
turut menyumbang 10,5% kecacatan. Menurut Dinas Kesehatan Kota Magelang, kasus
diabetes mellitus meningkat setiap tahun lebih dari 50% per tahun. Sebagian
besar kasus berusia 45 - 65 tahun dengan persentase 50,73%. Pada kelompok usia
15 - 44 tahun cenderung meningkat dalam kurun waktu lima tahun terakhir.
Sebaliknya, pencapaian program skrining belum sesuai dengan target yang
ditetapkan. Belum terdapat studi yang berfokus pada masalah ini khususnya di
wilayah Kota Magelang. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk
mengevaluasi hambatan pelaksanaan program skrining diabetes melitus pada
kelompok usia produktif (19 s.d 59 tahun) di Kota Magelang 2024.
Metode: Evaluasi hambatan untuk program dan surveilans menggunakan metode mixed method parallel convergent, dengan variabel dependen capaian skrining. Sementara itu, studi analitik menerapkan desain studi cross-sectional. Untuk program dan surveilans, jumlah responden penelitian adalah 25 orang dengan metode purposive sampling. Studi analitik melibatkan 600 orang dengan metode pengambilan multistage cluster sampling. Data dari evaluasi program dan surveilans dianalisis dengan metode univariat. Sementara itu, multilecvel logistic regression diterapkan untuk studi analitik dengan hasil Odds Ratio 95% p-value <0>
Hasil: Pencapaian skrining masih lebih rendah dari target
yang ditetapkan kurang dari 90%. Hambatan dari program dan surveilans terdiri
dari sub-optimal keterlibatan jejaring potensial, kompetensi kader yang tidak
merata, kurangnya peralatan skrining, dan tidak tersedianya interkoneksi antara
sistem informasi manajemen Puskesmas (SIMPUS) dan sistem pengawasan nasional
(ASIK). Sebanyak 600 orang diwawancarai dalam studi analitik dan diperoleh
proporsi pemanfaatan program skrining sebesar 52,33%. Hambatan pemanfaatan
layanan terdiri dari usia 19 – 35 tahun [aOR: 0,36; 95% CI 0,18 – 0,71],
pendapatan bulanan rendah [aOR: 0,51; 95% CI: 0,28 – 0,93] dan kurangnya ketersediaan
peralatan [aOR: 0,28; 95% CI: 0,11 – 0,70].
Kesimpulan: Hambatan-hambatan ini harus menjadi agenda strategi
prioritas untuk meningkatkan target skrining tahun berikutnya.
Background:
NCD becomes a burden in Indonesia
impacting 74% mortalities. Moreover, diabetes mellitus contributed to 10.5%
disabilities. According to Magelang City Health Office, diabetes mellitus cases
increase annually more than 50% per year. Majority cases are age 45 - 65 years
old with percentage 50,73%. Among the age group 15 - 44 years old has tended to increase in the last
five years. In Contrast, the achievement screening program isn't matched to the
target. There are none-study focused on these issues particullarly in Magelang
city area. Hence, this study aims to evaluate barrier of diabetes melitus screening
program implementation among productive age (19 s.d 59 years old) in Magelang
City 2024.
Methods: The evaluation of programme and surveillance barriers used a mixed method parallel convergent method, with screening outcomes as the dependent variable. Meanwhile, the analytical study applied a cross-sectional study design. For the programme and surveillance, the number of respondents was 25 using purposive sampling. The analytical study involved 600 people using multistage cluster sampling method. Data from the programme evaluation and surveillance were analysed using univariate methods. In the mean time, multilevel logistic regression was applied for the analytic study with a 95% Odds Ratio p-value <0>
Results:
Achievement of screening is still
lower than target setting less than 90%. Barriers of this program and
surveillance consist of sub-optimal involving potential networking, unequal
cadre’s competencies, lack of screening equipment, unavailable interconnection
among Puskesmas electronic medical healthcare (SIMPUS) and national
surveillance system (ASIK). A total 600 people was interview in this analytic
study. This study was obtained proportion utilized screening program 52.33%. The
barriers consist of age 19 – 35 years old [OR: 0.36; 95% CI 0.18 – 0.71], lack
of monthly income [OR: 0.51; 95% CI: 0.28 – 0.93] and limited availability of
equipment [OR: 0.28; 95% CI: 0.11 – 0.70].
Conclusion:
The barrier has to be a priority
strategy agenda to improve screening targets next year.
Kata Kunci : diabetes, barrier, screening program, surveillance, Magelang city