Laporkan Masalah

PENENTUAN BATAS JUVENIL – DEWASA DAN VARIASI ANATOMI PADA ARAH AKSIAL KAYU JATI KLON UMUR 20 TAHUN DARI TEGAKAN DENGAN PENJARANGAN

Alfigo Meysta Ciptaperdana Talubun, Bapak Prof. Dr. Ir. Widyanto Dwi Nugroho, S. Hut., M. Agr., Sc., Ph. D., IPM

2025 | Skripsi | KEHUTANAN

Jati (Tectona grandis L.f.) adalah pohon bernilai ekonomi tinggi, dikenal karena kualitas, keawetan, dan manfaat kayunya untuk bangunan, rel, kapal, dan furnitur. Melalui pemuliaan, dikembangkan Jati Plus Perhutani (JPP) yang dapat dipanen pada umur 20 tahun. Pertumbuhan cepat JPP memerlukan penjarangan agar pohon tumbuh optimal. Kayu jati klon memiliki variasi sifat akibat perbedaan kayu juvenil dan dewasa, namun informasi batasnya masih terbatas. Penelitian ini penting untuk menentukan batas tersebut serta variasi anatominya guna mendukung pemanfaatan kayu jati klon secara optimal. 

Sampel jati klon umur 20 tahun dari tegakan yang telah dijarangi pada Petak 7 RPH Gendingan, KPH Ngawi. Sampel berupa disk kayu diambil dari pangkal, tengah, dan ujung batang tiga pohon, lalu dibuat preparat maserasi dan irisan. Analisis dilakukan untuk menentukan batas kayu juvenil dan dewasa dengan pengukuran panjang serat dan pembuluh, serta variasi sifat anatomi kayu dengan beberapa parameter (serat, lumen, tebal dinding serat, pembuluh, dan parenkim) menggunakan mikroskop dan software analisis gambar. Data dianalisis dengan ANOVA satu arah dan dua arah, dilanjut uji Tukey HSD.

Batas kayu juvenil-dewasa jati klon berada 47–54 mm dari empulur, dengan panjang serat meningkat lalu konstan mendekati kulit, sedangkan panjang elemen pembuluh cenderung stabil. Kayu juvenil memiliki diameter serat, tebal dinding, dan proporsi serat lebih rendah, tetapi diameter lumen, frekuensi pembuluh, dan proporsi pembuluh lebih tinggi dibanding kayu dewasa, yang berpengaruh pada kekuatan kayu. Secara aksial, diameter serat dan tebal dinding menurun dari pangkal ke ujung, sedangkan frekuensi pembuluh meningkat. Faktor kategori kayu dan aksial berpengaruh signifikan terhadap beberapa sifat anatomi kayu.


Teak (Tectona grandis L.f.) is a high economic value tropical tree known for its wood quality, durability, and uses in construction, railway sleepers, ships, and furniture. Through breeding, Jati Plus Perhutani (JPP) was developed, which can be harvested at 20 years old. The rapid growth of JPP requires thinning to optimize tree development. Clonal teak wood shows property variations between juvenile and mature wood, but information on their boundary is still limited. This study aims to determine the boundary and anatomical variation to support optimal utilization of clonal teak wood.

Samples of 20-year-old clonal teak from thinned stands at Plot 7 RPH Gendingan, KPH Ngawi were used. Wood disks were collected from the base, middle, and top of three trees, and maceration and section preparations were made. The analysis aimed to determine the juvenile-mature wood boundary by measuring fiber and vessel element lengths, and anatomical variation using parameters (fiber, lumen, fiber wall thickness, vessels, and parenchyma) with a microscope and image analysis software. Data were analyzed using one-way and two-way ANOVA, followed by Tukey HSD test.

The juvenile-mature wood boundary was found at 47–54 mm from the pith, with fiber length increasing then stabilizing near the bark, while vessel element length remained stable. Juvenile wood had smaller fiber diameter, wall thickness, and fiber proportion but larger lumen diameter, vessel frequency, and vessel proportion compared to mature wood, influencing wood strength. Axially, fiber diameter and wall thickness decreased from base to top, while vessel frequency increased. Wood category and axial position significantly affected anatomical properties.


Kata Kunci : Mikroskop; Preparat Maserasi; Preparat Irisa; Uji ANOVA; Uji Tukey

  1. S1-2025-474108-abstract.pdf  
  2. S1-2025-474108-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-474108-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-474108-title.pdf