Laporkan Masalah

Resistensi Terhadap Kuasa Hegemoni Amerika Di Dunia Akademik Di Indonesia: Studi Kasus Jurnal-Jurnal Terakreditasi Sinta

Amin Basuki, Prof. Dr. Ida Rochani Adi, S.U.; Dr. Aris Munandar, M.Hum.

2025 | Disertasi | DOKTOR PENGKAJIAN AMERIKA

 Disertasi ini meneliti bagaimana hegemoni epistemik Amerika Serikat beroperasi dan direproduksi dalam sistem publikasi ilmiah di, dengan menjadikan author guidelines dari jurnal-jurnal terakreditasi SINTA sebagai titik masuk analisis. Penelitian ini menjawab tiga pertanyaan utama: (1) bagaimana instrumen dan standar akademik Amerika diadopsi dan dilembagakan dalam kebijakan serta praktik editorial jurnal ilmiah Indonesia; (2) bagaimana bentuk-bentuk adaptasi, internalisasi, dan resistensi terhadap hegemoni epistemik dimanifestasikan dalam praktik akademik dan wacana lokal; dan (3) bagaimana proses kontestasi berlangsung melalui strategi negosiasi struktural, artikulasi lokal, dan resistensi simbolik dalam ranah publikasi ilmiah. Dengan menganalisis 319 dokumen author guidelines dari jurnal SINTA 1 dan SINTA 6, disertasi ini menemukan bahwa gaya penulisan IMRaD, sistem sitasi APA, penggunaan bahasa Inggris, serta perangkat teknologi seperti Turnitin, Grammarly, dan Mendeley telah diadopsi secara luas dan dilembagakan melalui sistem akreditasi nasional, evaluasi dosen, serta insentif publikasi. Adopsi ini tidak hanya bersifat teknis, melainkan juga mencerminkan internalisasi nilai dan logika epistemik Global North yang diterima sebagai tolok ukur keilmuan universal. Namun dominasi ini tidak berjalan secara mutlak. Di dalam struktur yang hegemonik tersebut, muncul retakan-retakan yang memungkinkan artikulasi ulang oleh aktor-aktor lokal. Praktik resistensi dan negosiasi terlihat dalam penggunaan bahasa Indonesia, penerapan gaya penulisan alternatif, dan kebijakan editorial yang memberi ruang pada nilai-nilai lokal. Diskursus dekolonisasi pengetahuan dan keadilan epistemik mulai mengemuka sebagai respons terhadap tekanan global, membuka peluang bagi redefinisi sistem publikasi yang lebih kontekstual dan berkeadilan. Disertasi ini berkontribusi pada upaya memahami dinamika kuasa dalam dunia akademik Indonesia, serta menekankan pentingnya membangun kedaulatan epistemik melalui kebijakan publikasi ilmiah yang tidak hanya responsif terhadap standar internasional, tetapi juga proaktif dalam memperkuat nilai, bahasa, dan realitas keilmuan lokal.

This dissertation investigates how the epistemic hegemony of the United States operates and is reproduced within the Indonesian scientific publication system, using the author guidelines of SINTA-accredited journals as a primary analytical entry point. It addresses three main research questions: (1) how American academic instruments and standards are adopted and institutionalized in editorial policies and practices of Indonesian scholarly journals; (2) how adaptation, internalization, and resistance toward epistemic hegemony are manifested in local academic practices and discourses; and (3) how epistemic contestation unfolds through structural negotiation, local articulation, and symbolic resistance in the domain of scientific publishing. Based on an analysis of 319 author guidelines from SINTA 1 and SINTA 6 journals, the study reveals that the IMRaD structure, APA citation style, English language dominance, and the widespread use of tools such as Turnitin, Grammarly, and Mendeley have been systematically adopted and institutionalized through national accreditation schemes, academic performance metrics, and publication incentives. These instruments function not merely as technical supports but as symbolic tools of epistemic legitimation that embody the normative frameworks of the Global North. Nevertheless, this hegemony is not absolute. Within the seemingly coherent and standardized structure of Indonesia’s academic publishing ecosystem, cracks in the hegemonic order have emerged—manifested in selective adaptation, the continued use of Indonesian as an academic language, alternative editorial policies, and critical discourses that challenge dominant epistemologies. These “hegemony cracks” serve as symbolic and strategic spaces for negotiation, enabling local actors to rearticulate scholarly norms and values. This dissertation contributes to the broader discourse on knowledge decolonization by showing that while Indonesia’s academic publishing practices remain entangled in global hegemonic structures, opportunities exist for constructing a more contextual, inclusive, and epistemically sovereign system. It calls for policy reforms that not only respond to global academic standards but also strengthen Indonesia’s intellectual agency and its capacity to define scholarly excellence on its own terms.

Kata Kunci : hegemoni epistemik, publikasi ilmiah, gaya IMRaD, gaya APA, Turnitin, Grammarly, Mendeley, resistensi simbolik, artikulasi lokal, author guidelines, SINTA, dekolonisasi pengetahuan, Indonesia.

  1. S3-2025-435478-abstract.pdf  
  2. S3-2025-435478-bibliography.pdf  
  3. S3-2025-435478-tableofcontent.pdf  
  4. S3-2025-435478-title.pdf