Gerakan Sosial dalam Jerat Ilusi Kapitalisme: Analisis Kritik Pendekatan Slow Food Movement Yogyakarta melalui Teori Realisme Kapitalis
Ade Zahra Putri Aribowo, Dr. Diah Kusumaningrum, S.IP., M.A.
2025 | Skripsi | Ilmu Hubungan Internasional
ABSTRAK
Penelitian ini mengkaji kritik terhadap pendekatan Gerakan Slow Food Movement Yogyakarta, yang dalam praktiknya justru mempertahankan elemen-elemen neoliberalisme seperti estetisasi pangan, komodifikasi lokalitas, dan konsumerisme politik. Dengan menggunakan kerangka teoretis Realisme Kapitalis dari Mark Fisher, penelitian ini menganalisis bagaimana gerakan yang tampak alternatif ini tetap beroperasi dalam logika kapitalisme yang ingin dilawannya. Kasus Slow Food Yogyakarta dipilih karena konteks sosial-budaya Yogyakarta yang khas—berbasis komunitas namun rawan kooptasi nilai pasar. Sebagai pembanding kritis, penelitian ini menyoroti Sekolah Pagesangan, sebuah komunitas belajar non-formal di Gunungkidul, yang mengedepankan repolitisasi pangan, kedaulatan komunitas, serta pelestarian praktik agraria lokal. Melalui pendekatan kualitatif dan studi kasus, penelitian ini berupaya mengevaluasi keterbatasan pendekatan gerakan pangan berbasis konsumsi sadar dan menyodorkan alternatif model resistansi yang lebih struktural dan berakar pada solidaritas serta pendidikan kritis. Hasil penelitian ini diharapkan dapat memperluas pemahaman terhadap tantangan politik pangan di era kapitalisme lanjut dan pentingnya membangun sistem pangan yang lebih adil, demokratis, dan berkelanjutan.
ABSTRACT
This study examines the critique of the Yogyakarta Slow Food Movement's approach, which in practice maintains elements of neoliberalism such as the aestheticization of food, the commodification of locality, and political consumerism. Using the framework theoretical Capitalist Realism by Mark Fisher, this study analyzes how this seemingly alternative movement continues to operate within the logic of the capitalism it seeks to counter. The case of Slow Food Yogyakarta was chosen because of its unique socio-cultural context—community-based yet vulnerable to co-optation by market values. As a critical contrast, this study highlights Pagesangan School, a non-formal learning community in Gunungkidul, which prioritizes the repoliticization of food, community sovereignty, and the preservation of local agrarian practices. Through a qualitative approach and case studies, this research seeks to evaluate the limitations of the conscious consumption-based food movement approach and proposes an alternative, more structural model of resistance rooted in solidarity and critical education. The results of this study are expected to broaden understanding of the challenges of food politics in the era of advanced capitalism and the importance of building a more just, democratic, and sustainable food system.
Kata Kunci : Slow Food Movement Yogyakarta, Realisme Kapitalis, neoliberalisme pangan, consumer responsibility