Competing Hegemonic Projects: Populism, Youth and Politics in Indonesia’s 2024 Presidential Election
Indira Fikri Amalia, Luqman Nul Hakim, SIP, MA, Ph.D.
2025 | Skripsi | Ilmu Hubungan Internasional
Pemilihan presiden Indonesia 2024, di tengah tren populisme global yang meningkat, menjadi arena penting bagi keterlibatan politik kaum muda, yang merupakan lebih dari setengah pemilih. Menggunakan analisis wacana politik, seperti yang dikembangkan oleh Laclau, Mouffe, dan Rancière, penelitian ini mengkaji bagaimana berbagai strategi populis untuk melibatkan pemuda oleh para kandidat presiden telah membangun bentuk-bentuk subjektivitas politik pemuda yang bersaing. Analisis ini mengungkapkan dua proyek hegemoni yang bersaing. Kampanye Prabowo-Gibran mendorong subjektivitas yang depolitisasi dengan membingkai partisipasi pemuda melalui branding afektif dan inklusi tokenistik, sehingga memperkuat status quo. Sebaliknya, kampanye Anies-Imin berusaha untuk membudayakan subyektivitas repolitisasi dengan mengundang kaum muda ke dalam dialog konfrontatif dan memposisikan mereka sebagai agen kritis yang mampu mengganggu status quo. Studi ini menyimpulkan bahwa tidak ada proyek diskursif yang mencapai penutupan hegemonik penuh. Kemenangan elektoral salah satu kubu tidak menghapus subjektivitas kritis yang hidup dan dinamis yang dimobilisasi melawan mereka, sementara ketergantungan gerakan "Perubahan" pada politik berbasis fandom yang dipersonalisasi membatasi daya tariknya yang lebih luas. Oleh karena itu, pemilu 2024 tidak menyelesaikan pertanyaan tentang identitas politik kaum muda; melainkan mengukuhkan statusnya sebagai situs kontestasi yang sentral dan belum terselesaikan dalam demokrasi Indonesia, dengan implikasi signifikan bagi masa depan bangsa.
Indonesia's 2024 presidential election, amidst the rising trend of global populism, served as a critical arena for the political engagement of youth, who constitute over half of the electorate. Using a political discourse analysis, as developed by Laclau, Mouffe, and Rancière, this research examines how different populist strategies of engaging youth by the presidential candidates have constructed competing forms of youth political subjectivities. The analysis reveals two competing hegemonic projects. The Prabowo-Gibran campaign fostered a depoliticised subjectivity by framing youth participation through affective branding and tokenistic inclusion, thereby reinforcing the status quo. In opposition, the Anies-Imin campaign sought to cultivate a repoliticised subjectivity by inviting youth into confrontational dialogue and positioning them as critical agents capable of disrupting the establishment. This study concludes that neither discursive project achieved full hegemonic closure. The electoral victory of one camp did not erase the vibrant, critical subjectivity mobilized against it, while the "Change" movement's reliance on personalised, fandom-based politics limited its broader appeal. The 2024 election, therefore, did not resolve the question of youth's political identity; it cemented its status as a central and unsettled site of contestation in Indonesian democracy, with significant implications for the nation's future.
Kata Kunci : Hegemony, Youth, Populism, Political subjectivities, Depoliticisation, Indonesian election