Potensi perempuan Amerika dalam novel penulis perempuan Amerika :: Tinjauan strukturalisme genetik
KUSHARYANTO, Juliasih, Promotor Prof.Dr. Siti Chamamah Soeratno
2004 | Disertasi | S3 Ilmu SastraPendidikan terhadap perempuan yang semula bertujuan untuk membuatnya menjadi ibu yang baik dalam mendidik anak-anak, terutama untuk memberikan pendidikan agama bagi anak-anak, menjadi bumerang. Agama dan pendidikan menjadikan perempuan sebagai sosok yang religius dan intelektual. Mereka menjadi sadar dan mulai berpikir akan eksistensi diri mereka. Mereka berbeda dengan laki-laki secara fisik, tetapi bukan berarti bahwa mereka berbeda secara intelektual. Mereka menjadi perempuan intelektual, yaitu perempuan yang berpikir, percaya diri, berani dan mandiri. Peran dan aktivitas mereka dalam masyarakat, antara lain, sebagai kepala keluarga, dan manajer perkebunan yang secara tradisional dialokasikan kepada laki-laki mengungkapkan bahwa perempuan sadar akan potensi mereka. Mereka membangun citra diri melalui pekerjaan dan aktivitas mereka, tidak menunggu didefinisi orang lain, khususnya laki-laki. Manusia memiliki beragam potensi, yaitu antara lain, potensi spiritual, potensi berpikir, potensi emosi, potensi fisik, dan potensi sosial. Potensi tersebut berkembang atau gagal karena beberapa faktor, antara lain, orang yang berkuasa, misalnya ayah, hukum, kebijakan pemerintah, dan individu. Di sisi lain faktor-faktor tersebut merupakan faktor penyebab ketidakadilan yang dihadapi perempuan. Empat penulis tersebut menunjukkan bagaimana perempuan menyikapi ketidakadilan tersebut. Mereka menolak dengan cara mereka masing-masing seperti yang ditunjukkan oleh keempat tokoh perempuan. Ketidakadilan tersebut mereka rasakan pada waktu mereka berada dalam dua dunia yang berbeda, yaitu dunia domestik dan publik. Mereka harus menentukan pilihan dengan risiko yang harus mereka hadapi. Mereka sadar bahwa ketergantungan secara ekonomi dan psikologis membuat mereka tidak dapat menentukan nasib mereka sendiri. Artinya, mereka akan tetap mendapat perlakuan tidak adil. Kesadaran tersebut mereka peroleh karena keintelektualan yang mereka miliki. Dalam menyikapi ketidakadilan terlihat bahwa keempat tokoh melanggar konvensi masyarakat. Perempuan berdasarkan pemahaman siapa dirinya memilih peran dan gaya hidup yang paling cocok. Mereka tidak peduli apakah hal itu tradisional, modern atau beremansipasi, seperti yang dikatakan oleh Barnhouse (1988:88) bahwa arti emansipasi sesungguhnya ialah adanya pilihan. Kata pilihan dalam arti kata sebenarnya adalah tidak dapat dilakukan oleh orang yang tidak mengenal dirinya sebagai pemilih. Perempuan harus berani menggunakan pandangannya sendiri, mempercayai kebenaran penglihatannya, mengemukakan dan mempertahankannya seperti yang dilakukan oleh para tokoh utama. Mereka menyadari posisi dan status mereka, dan mengetahui apa yang dikehendaki dalam hidup mereka. Kualitas mereka sebagai manusia ditentukan oleh kapasitas daya pikir dan kapasitas mental yang mereka miliki untuk mengubah dan memperbaiki keadaan diri mereka dan sekitarnya. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa emosional, kejelian, ketekunan, dan perhitungan yang diyakini sebagai sifat khas perempuan, juga terdapat pada diri laki-laki. Sifat-sifat tersebut dianggap lemah karena menghambat pekerjaan dan memboroskan waktu dan tenaga. Oleh karena itu, sifat-sifat tersebut direferensikan kepada perempuan sebagai pembeda dengan laki-laki dengan memosisikan perempuan sebagai makhluk inferior. Sekelompok perempuan menerima posisi tersebut, dan kelompok lain menolak. Dalam penelitian ini keempat tokoh perempuan menolak posisi inferior dengan cara mereka masing-masing, antara lain, meredifinisi karakter negatif menjadi positif, membandingkan dirinya dengan perempuan lain, mengasimilasikan diri, menciptakan dimensi baru karakter perempuan yang terefleksi dalam empat karya penulis perempuan. Untuk menjawab kesejajaran perempuan dan laki-laki, keempat penulis berpendapat bahwa perempuan harus bekerja. Hanya melalui pekerjaan, perempuan dapat menentukan diri sendiri. Selain itu, perempuan perlu menjadi kaum intelektual sebab aktivitas intelektual lebih bersifat aktif dan menjadinya lebih sebagai subjek daripada objek. Dalam empat karya tersebut terlihat bahwa hubungan antara tokoh utama yang semuanya perempuan dan tokoh lain, khususnya laki-laki, adalah suatu perjalanan mencari bentuk kerja sama antara perempuan dan laki-laki. Hubungan antara perempuan dan laki-laki dapat terjalin karena keduanya santun, bersahabat, bekerja sama, berprestasi bersama, dan saling mengasihi yang bersifat hubungan subjek-subjek. Tindakan dan perbuatan para tokoh utama menunjukkan sifat-sifat yang dimiliki feminis. Mereka aktif, berani, mandiri, dan percaya diri. Namun, mereka tidak berpihak pada salah satu aliran feminis. Mereka percaya bahwa tidak ada perbedaan intelejensia antara laki-laki dan perempuan. Oleh karena itu, perempuan dan laki-laki harus diberikan hak yang sama untuk mendapatkan pendidikan, karena pendidikan merupakan cara terbaik untuk mengangkat harkat perempuan seperti yang ditunjukkan oleh para tokoh. Di sisi lain, mereka percaya bahwa pengaruh biologi tetap berperan pada terbentuknya perbedaan peran gender, yaitu peran maskulin dan peran feminin. Pengalaman psikologis yang intens dalam proses kehamilan, melahirkan, dan memelihara anak-anaknya membuat perempuan terikat secara emosional. Dengan menerima argumen nature atau alamiah, yaitu mengedepan - kan kelebihan sifat khas perempuan, antara lain, memelihara, mengasuh, dan menolong, perempuan tidak hanya mengejar impian Amerika, tetapi juga menyimpan dan memelihara mimpi untuk diwariskan ke pada anak keturunannya. Hal ini membuat mereka terjebak dalam pola berpikir stereotipe, yaitu perempuan itu pasif, lemah, emosional, dan tegantung. Dalam menggambarkan perempuan Amerika, keempat penulis merefleksikan mereka sesuai dengan persepsi mereka masing-masing. Mereka menggambarkan sosok perempuan lewat tokoh mereka masing-masing, tidak hanya secara fisik juga pergulatan batin mereka. Lewat tokoh-tokohnya, para penulis tersebut menawarkan beberapa alternatif bentuk pemikiran lain. Di dalam karyanya, penulis berargumentasi dan merefleksikan persepsinya tentang kehidupan. Mereka mengungkapkan sejarah intelektual bangsa Amerika yang dibangun oleh karya-karya besar mereka melalui perenungannya. Empat karya yang ditulis oleh empat novelis perempuan tersebutmembentuk mosaik Amerika atau patchwork yang ditenun oleh para perempuan yang terlibat dalam celebration of ethnic, religious, regional differences (perayaan perbedaan etnis, religius, dan regional) karena jiwa Amerika menekankan kekhasan individualisme dan kemandirian. Secara esensial terbukti bahwa sastra merupakan perenungan, argumentasi, refleksi, dan model intelektualitas.
Education for women, which is at first intended to transform them to be good mothers in raising their children, especially in providing basic education of religion for them, has become a boomerang. Religion and education transform women into religious and intellectual figures. They start to realize and think of their existence. They are different from men only physically, but not necessarily mean that they are also intellectually different. They become intellectual women, those are women who are thinking, confident, brave, and selfsufficient. Their role and activities in public, as seen in four novels by four American female writers, show that they are aware of their potency. They play their roles, such as, head of family and manager of farming taditionally given to men. Man possesses some potencies. Those are spiritual potency, intelectual potency, social potency, physical potency, and emotional potency. These potencies develop because of several factors, such as the contribution of the ruling men like father, law, government policy, and individual herself. They define and construct their image by working and doing some activities. In other side, those factors contribute inequality women receive. Those four female writers reveal how women deal with inequality. They reject against it in their own different ways as shown by the heroines. They perceive inequality in two different worlds: domestic and public spheres. They have to decide their choice with imminent risks to bear. They realize that economic and psychological dependence has put them in a position of being unable to control their own life, preventing them from unequal treatment. Such awareness comes from their intellectual mind. In their response to inequality, the characters seem to violate the convention. Women, based on the notion of who they are, assume the most appropriate role and life style. They do not mind whether it is traditional, modern, or emancipating, as Barnhouse (1988:88) states that the emancipation truly means the opportunity to choose. To choose suggests that it is impossible to be conducted by any one who does not recognize him/herself as an able-person to choose. Women must be confident, trust, maintain, and able to express their own view, as demonstrated by the main characters. They are aware of their position and status and know what they actually want in life. Their quality as human being is determined by their intellectual and mental capacity to change and to improve their own condition and surrounding. The above description shows that emotion, wit, keenness, and carefulness presumed as women’s characteristics are, in fact, found in men. These characteristics are considered weaknesses as they inhibit working and waste time and energy. Consequently, these qualities are referred to women as distinctive from men, defining women as inferior to men. Some women accept such a position while the rest reject it. This research finds that the main characters reject inferiority in their own different ways, such as redefining negative into positive characters, comparing herself to other women, assimilating themselves, creating a new dimension of woman’s characters as reflected in four novels of the female writers. In responding to equality between men and women, the four female writers argue that women must work. Only through work are they able to control their own life. In addition, they must be intellectual, for the nature of intellectuality is active, independent, and be a subject rather than an object. The novels reveal that the relation of the main characters--all women--with other characters, especially men, is a journey to seek for woman - man cooperation. Man-women relationship requires both to be decent, friendly, and cooperative. They seek achievement and care which emphasize subject-subject relation. The attitude and behaviour of the characters show the characteristics of feminist. They are active, courageous, independent, and self confident. Nevertheless, they do not belong to a certain school of feminism. They believe that there is no difference in terms of intellectuality between men and women. Consequently, men and women must be given equal opportunity for education. Education is the best means to lift up women’s self esteem, as shown by the characters. On the other side, they believe that biological influence does play an important role to shape gender-based role difference, i.e., masculine role and feminine role. Intense psychological experiences in the process of pregnancy, delivery, and child rearing make them emotionally bound. By accepting the argument of nature, i.e., highlighting the strength of women’s specific qualities, such as caring, educating, and helping, women do not only pursue American dream but also keeping and maintaining the dream to be passed on to their descendents. They were trapped by this stereotype argument that women are pasif, weak, emosional, and dependent. In picturing American women, the four writers depict women according to their own perception. They depict woman characters through their main character, about not only their physic but also their inner struggle. Through these characters, the writers offer several other alternative forms of idea. The writers, in their works, present argument and reflection of their perception on life. They reveal the history of American intellectual, established by their great literary works from their reflections. The four novels of four American female writers create American mosaic or patchwork, woven by women involved in the celebration of ethnic, religious, regional differences since American spirit emphasizes individual difference and inde - pendence. Essentially, it proves that literature is an in-depth thought, an argument, and a reflection and model of intellectuality.
Kata Kunci : Sastra Inggris,Amerika,Novel,Strukturalisme Genetik