Laporkan Masalah

Evaluasi Tata Air sebagai Indikator Hidrologis untuk Menilai Daya Dukung DAS Tirtomoyo

Theresia Puan Bertiana Wardoyo, Dr. Lintang Nur Fadlillah, S.Si., M.Sc.

2025 | Skripsi | GEOGRAFI DAN ILMU LINGKUNGAN

Daerah Aliran Sungai (DAS) Tirtomoyo yang dialiri oleh Sungai Bengawan Solo merupakan salah satu daerah tangkapan air utama bagi Waduk Gajah Mungkur, dengan luas lahan kritis yang cukup signifikan. Perubahan ketersediaan air permukaan antara musim hujan dan kemarau menjadi indikasi terjadinya degradasi lahan, yang secara langsung memengaruhi daya dukung DAS dalam memenuhi kebutuhan air bagi kehidupan manusia maupun keberlanjutan lingkungan. Daya dukung DAS dapat dianalisis dengan berbagai indikator, salah satunya melalui indikator hidrologis yang merujuk pada kriteria tata air.

Berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan Republik Indonesia Nomor P.61/Menhut-II/2014, analisis kriteria tata air dilakukan dengan menghitung lima parameter utama, yaitu: koefisien rezim aliran (KRA), koefisien aliran tahunan (KAT), muatan sedimen (MS), frekuensi banjir, dan indeks penggunaan air (IPA). Nilai KRA, KAT, dan MS diperoleh melalui model SWAT+ karena adanya keterbatasan data pengukuran lapangan, sedangkan nilai frekuensi banjir dan IPA dihitung berdasarkan data sekunder yang tersedia. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) Mengetahui nilai variabel koefisien rezim aliran, koefisien aliran tahunan, dan muatan sedimen yang diperoleh dari pemodelan SWAT+, (2) Mengetahui kondisi variabel banjir dan indeks penggunaan air untuk evaluasi tata air di DAS Tirtomoyo, serta (3) Mengevaluasi karakteristik spasial tata air sebagai indikator hidrologis untuk menilai daya dukung DAS Tirtomoyo.

Hasil penelitian menunjukkan sebagian besar sub-DAS memiliki nilai KRA tinggi hingga sangat tinggi, yang mencerminkan fluktuasi debit musiman yang tajam. Nilai KAT didominasi oleh kelas sangat rendah hingga rendah, menandakan bahwa hanya sebagian kecil curah hujan yang menjadi limpasan permukaan. Muatan sedimen (MS) tergolong sangat tinggi, terutama pada wilayah dengan kemiringan lereng yang curam dan tutupan lahan terbuka. Analisis frekuensi banjir menunjukkan sebagian besar sub-DAS mengalami banjir tahunan, dengan intensitas tertinggi di bagian hilir. Sementara nilai IPA berada pada kelas sangat rendah hingga sedang, yang menunjukkan adanya tekanan pemanfaatan air cukup tinggi pada wilayah dengan kebutuhan air domestik dan pertanian yang besar, namun tidak diimbangi dengan ketersediaan debit air yang mencukupi. Secara spasial, sebagian besar wilayah DAS Tirtomoyo berada dalam kategori daya dukung sedang. Namun demikian, Sub-DAS 3 dan 5 tergolong memiliki daya dukung rendah akibat tekanan hidrologis yang tinggi. Sebaliknya, Sub-DAS 9 dan 10 menunjukkan kondisi daya dukung yang baik, ditandai dengan ketersediaan air yang relatif stabil, tingkat infiltrasi yang tinggi, sedimentasi dan frekuensi banjir yang rendah, serta kebutuhan air yang relatif kecil.

The Tirtomoyo Watershed, which is flowed by the Bengawan Solo River, is one of the main water catchment areas for the Gajah Mungkur Reservoir, with a significant amount of critical land area. Changes in surface water availability between the rainy and dry seasons indicate land degradation, which directly affects the watershed's capacity to supply water for human life and environmental sustainability. The watershed's carrying capacity can be analyzed using various indicators, one of which is the hydrological indicator, which refers to water management criteria.

Based on the Regulation of the Minister of Forestry of the Republic of Indonesia Number P.61/Menhut-II/2014, the analysis of water management criteria is carried out by calculating five main parameters, namely: flow regime coefficient (KRA), annual flow coefficient (KAT), sediment load (MS), flood frequency, and water use index (IPA). The values of KRA, KAT, and MS are determined using the SWAT+ model due to limitations in field measurement data, while flood frequency and IPA values are calculated based on available secondary data. This study aims to: (1) Determine the values of the flow regime coefficient, annual flow coefficient, and sediment load obtained from SWAT+ modeling, (2) Determine the conditions of flood variables and water use index for water management evaluation in the Tirtomoyo watershed, and (3) Evaluate the spatial characteristics of water management as a hydrological criterion for assessing the carrying capacity of the Tirtomoyo watershed.

The results show that most sub-watersheds have high to very high KRA values, reflecting significant seasonal flow fluctuations. KAT values are dominated by very low to low classes, indicating that only a small part of rainfall becomes surface runoff. Sediment load (MS) is very high, especially in areas with steep slopes and open land cover. Flood frequency analysis shows that most sub-watersheds experience annual flooding, with the highest intensity in the downstream section. Meanwhile, the IPA values are in the very low to moderate class, indicating that there is quite high water demand pressure in areas with high domestic and agricultural water needs, but this is not balanced by enough water discharge. Spatially, most of the Tirtomoyo watershed is in the moderate carrying capacity category. However, sub-watersheds 3 and 5 are classified as having low carrying capacity due to high hydrological pressure. Conversely, sub-watersheds 9 and 10 show good carrying capacity conditions, characterized by relatively stable water availability, high infiltration rates, low sedimentation and flood frequency, and relatively small water demand.

Kata Kunci : Daya Dukung DAS, SWAT+, Tata Air

  1. S1-2025-478445-abstract.pdf  
  2. S1-2025-478445-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-478445-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-478445-title.pdf