Keanekaragaman tumbuhan obat atau pangan mencerminkan kekayaan budaya dan pengetahuan tradisional yang telah diwariskan turun-temurun. Berbagai spesies tumbuhan digunakan oleh masyarakat lokal untuk pengobatan dan sebagai sumber pangan. Penelitian tentang keanekaragaman tumbuhan obat dan pangan di Situ Mustika, Jawa Barat, dipilih karena wilayah ini memiliki potensi sumber daya hayati yang sangat besar dan belum sepenuhnya tergali. Keanekaragaman tumbuhan dan pengetahuan tradisional tersebut menghasilkan pola pemanfaatan yang beragam yang dikaji melalui pendekatan etnobotani. Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan etnobotani dengan metode kualitatif (observasi, wawancara, dan identifikasi tumbuhan) serta kuantitatif melalui perhitungan Index of Cultural Significance (ICS). Data dikumpulkan melalui kuesioner dan wawancara secara langsung terhadap 80 informan, termasuk ketua adat dan empat informan terpilih yang memahami pemanfaatan, konsumsi, dan pelestarian tumbuhan lokal. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 58 spesies tumbuhan yang dimanfaatkan masyarakat, terdiri atas 28 spesies obat dari 17 famili dan 30 spesies pangan dari 24 famili, dengan 14 spesies memiliki fungsi sebagai obat dan pangan. Famili Zingiberaceae paling banyak digunakan sebagai obat, sedangkan Asteraceae paling banyak digunakan sebagai pangan. Daun merupakan bagian tumbuhan yang paling umum dimanfaatkan sebagai obat, sedangkan buah sebagai pangan. Sebagian besar tumbuhan telah dibudidayakan di kebun dan pekarangan. Tumbuhan dengan nilai ICS tertinggi adalah kunyit (129), yang digunakan sebagai bumbu, jamu, dan obat tradisional.
The diversity of medicinal or food plants reflects the richness of culture and traditional knowledge that has been passed down for generations. Various plant species are used by local communities for medicinal purposes and as food sources. Research on the diversity of medicinal and food plants in Situ Mustika, West Java, was chosen because this area has enormous biological resource potential and has not been fully explored. The diversity of plants and traditional knowledge results in diverse utilization patterns that are studied through an ethnobotanical approach. The research was conducted using an ethnobotanical approach with qualitative methods (observation, interviews, and plant identification) and quantitative through the calculation of the Index of Cultural Significance (ICS). Data were collected through questionnaires and direct interviews with 80 informants, including the customary leader and four selected informants who understand the utilization, consumption, and preservation of local plants. The results showed that there were 58 plant species utilized by the community, consisting of 28 medicinal species from 17 families and 30 food species from 24 families, with 14 species having both medicinal and food functions. The Zingiberaceae family is most widely used as medicine, while Asteraceae is most widely used as food. Leaves are the most common part of the plant used as medicine, while fruits are used as food. Most plants have been cultivated in gardens and yards. The plant with the highest ICS value is turmeric (129), which is used as a spice, herbal medicine, and traditional medicine.
Kata Kunci : Etnobotani, Keanekaragaman hayati, Kearifan lokal, Situ Mustika