Populisme dalam Matriks Neoliberal: Studi Kasus Pilpres 2024 Indonesia
Dihasfian Dio Aryanta, Dr. Atin Prabandari, SIP., M.A.(IR)
2025 | Skripsi | Ilmu Hubungan Internasional
Munculnya varian-varian populisme di tengah dominasi neoliberalisme menegaskan pentingnya kajian yang menyelidiki interaksi antara keduanya. Riset ini menginvestigasi hubungan antara neoliberalisme dan populisme melalui pendekatan Gramscian, dengan fokus pada struktur material dan diskursus. Dengan mengintegrasikan teori political capture dan neoliberal othering, riset ini mengidentifikasi fitur-fitur neoliberalisme yang menciptakan ekosistem politik bagi kemunculan sekaligus reproduksi populisme. Studi kasus Indonesia menunjukkan bagaimana neoliberalisme mengakselerasi prekarisasi pekerja dan pembajakan politik oleh oligarki serta investor. Hegemoni neoliberalisme, yang bersinergi dengan budaya dan warisan sejarah, juga mengakibatkan depolitisasi sistem demokrasi, mengganti logika representasi politik menjadi sebatas logika pasar. Konsekuensinya, politik pencitraan dan politik identitas yang mengesampingkan perjuangan kelas menjadi semakin dominan. Fitur-fitur neoliberalisme inilah yang melahirkan varian-varian populisme di Indonesia. Dalam konteks Pilpres 2024, riset ini mengidentifikasi kemunculan populisme liberalis yang dipersepsikan heroik, padahal memperkuat status-quo neoliberal; melestarikan ketidakadilan sistemik dan mendorong reproduksi populisme. Temuan ini menggarisbawahi kompleksitas relasi antara neoliberalisme dan berbagai varian populisme.
The emergence of various populisms amidst the dominance of neoliberalism signals the importance of exploring their interrelation. This research investigates the nexus between neoliberalism and populism through a Gramscian lens, focusing on material structures and discourse. By integrating the theories of political capture and neoliberal othering, it identifies neoliberalism’s key features that create a fertile ecosystem for the emergence and reproduction of populism. Indonesia offers a compelling case, where neoliberalism intensifies labour precarization and enables political capture by oligarchs and investors. Moreover, neoliberal hegemony – interwoven with cultural and historical legacy – depoliticized democracy, replacing political representation with market-driven rationality. Consequently, image-based and identity politics have eclipsed class-oriented struggles. These mechanisms underlie the formation of Indonesia’s populist variants. In the context of the 2024 presidential election, this research identifies the rise of a liberal populism perceived as heroic, yet reinforcing the neoliberal status-quo, perpetuating systemic injustice and enabling the continued reproduction of populism. These findings emphasize the complex interplay between neoliberalism and contemporary populisms.
Kata Kunci : neoliberalisme; populisme; pembajakan politik; depolitisasi; politik identitas