Laporkan Masalah

Perencanaan Pengembangan Integrasi Jogja Heritage Track dan Trans Jogja di Kawasan Heritage Yogyakarta

Muhammad Hawi Qabus Abiyyi, Prof. Ir. Siti Malkhamah, M.Sc., Ph.D., IPU., ASEAN Eng.

2025 | Skripsi | TEKNIK SIPIL

Kota Yogyakarta sebagai kota tujuan destinasi wisata di Indonesia menghadapi tantangan untuk terus mengembangkan inovasi dalam bidang pariwisata, salah satu program inovatif dari Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta melalui bus Jogja Heritage Track. Bus Jogja Heritage Track (JHT) adalah program dari Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta yang berkonsep city tour dan educational tourism dengan tujuan memperkenalkan objek sumbu filosofi Yogyakarta. Setelah 2 tahun penyelenggaraan program, terdapat permasalahan seperti kurangnya lokasi meeting point peserta, jumlah armada, dan penjadwalan. Demikian halnya perlu dilakukan pengembangan lebih lanjut untuk meningkatkan potensi penumpang. Dipilih metode integrasi angkutan umum untuk perencanaan pengembangan bus JHT dengan angkutan Trans Jogja yang memiliki cakupan layanan luas di Yogyakarta. Integrasi dilakukan dengan cara memindahkan lokasi meeting point yang semula di Jogja Tourism Training Center (JTTC) menjadi di halte-halte Trans Jogja terpilih. Penelitian dilakukan dengan merencanakan lokasi transit, penentuan rute, headway, jumlah armada, tarif, dan rekomendasi. Perencanaan didasarkan pada hasil survei wawancara, data sekunder yang tersedia, dan standar teknis yang berlaku. Potensi penumpang dihitung dengan data pergerakan penumpang Trans Jogja dan data wawancara penumpang Trans Jogja. Berdasarkan hasil perencanaan pengembangan bus Jogja Heritage Track, lokasi meeting point terpilih dari halte Trans Jogja adalah halte Ngabean, Condongcatur, Jogja Expo Center, dan Giwangan dengan total 14 rute yang direncanakan beroperasi mulai 08.30 hingga 17.30. Pada 14 rute diperlukan total 24 bus dengan headway yang digunakan bervariasi pada tiap trayek nya dengan headway terkecil 11 menit dan headway terbesar 600 menit. Tarif yang digunakan seragam pada suluruh trayek sebesar Rp 7.500,00 dan masih bisa ditingkatkan lagi sebesar Rp 1002,42 tanpa adanya peningkatan kualiatas layanan berdasarkan analisis Willingness To Pay (WTP). Terdapat headway dan load factor yang kurang ideal pada beberapa trayek, sehingga diperlukan beberapa rekomendasi pada aspek regulator, operator, dan masyarakat seperti pembentukan UPT, integrasi sistem pembayaran dengan Trans Jogja, promosi pada setiap rute, dan pemberian kritik dan saran dalam penggunaan layanan

Yogyakarta City, as a prominent tourist destination in Indonesia, faces ongoing challenges in developing innovations within the tourism sector. One innovative program initiated by the Government of the Special Region of Yogyakarta is the Jogja Heritage Track (JHT) bus service. JHT, managed by the Yogyakarta Cultural Office, is a city tour and educational tourism program designed to introduce the city's philosophical axissites. After two years of operation, the program has encountered several issues, including limited meeting point locations, insufficient fleet size, and inefficient scheduling. Therefore, further development is necessary to enhance passenger potential. This study proposes a development plan for JHT by integrating it with Trans Jogja, Yogyakarta’s extensive public transport system. The integration includes relocating meeting points from the Jogja Tourism Training Center (JTTC) to selected Trans Jogja bus stops. The planning process involves the determination of transit locations, routes, headways, fleet size, fare, and recommendations. Data were collected through interviews, available secondary data, and applicable technical standards. Passenger potential was estimated based on Trans Jogja passenger movement data and interview results. The proposed plan identifies four selected Trans Jogja stops as meeting points: Ngabean, Condongcatur, Jogja Expo Center, and Giwangan, with a total of 14 planned routes operating from 08:30 to 17:30. These routes require 24 buses, with headways ranging from 11 minutes to 600 minutes. A flat fare of Rp 7,500.00 is applied across all routes, with the possibility of an increase up to Rp 8,199.93 based on the Willingness To Pay (WTP) analysis, without requiring service quality improvements. Several routes show less-than-ideal headways and load factors, thus recommendations are provided for regulators, operators, and the public. These include the establishment of a dedicated operational unit (UPT), payment system integration with Trans Jogja, promotional efforts for each route, and encouraging public feedback for service improvement.

Kata Kunci : Sumbu Filosofi, Angkutan Wisata, Perencanaan Transportasi, Integrasi Angkutan, Trans Jogja

  1. S1-2025-481734-abstract.pdf  
  2. S1-2025-481734-bibliography.pdf  
  3. S1-2025-481734-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2025-481734-title.pdf