Laporkan Masalah

RICHARD WRIGHT’S IMPORTANT CONTRIBUTION IN COLOR CURTAIN (1956) ON CULTURAL COLD WAR

Ferry Hidayat, Achmad Munjid, M.A., Ph.D.

2025 | Tesis | MAGISTER PENGKAJIAN AMERIKA

Tesis ini menelaah peran penting karya Richard Wright The Color Curtain: A Report on the Bandung Conference (1956) dalam konteks yang lebih luas dari Perang Dingin Kebudayaan (Cultural Cold War). Penelitian ini berpijak pada latar belakang sejarah Perang Dingin, khususnya konflik ideologis antara Amerika Serikat dan Uni Soviet yang tidak hanya berlangsung melalui jalur militer dan politik, tetapi juga melalui media kultural dan intelektual. Meski karya The Color Curtain telah banyak dikaji dari sudut pandang pascakolonial, sastra, dan transnasional, signifikansinya sebagai artefak Perang Dingin Kebudayaan masih jarang diteliti. Kekosongan kajian inilah yang berusaha diisi oleh penelitian ini.

Untuk mengisi kekosongan riset mengenai hal itu, studi ini menggunakan kerangka teoritis Kajian Amerika Perang Dingin (Cold War American Studies) dan teori hegemoni Marxis dari Antonio Gramsci. Konsep-konsep seperti "Perang Dingin Global", "Perang Dingin Kebudayaan", "Red Scare", "McCarthyisme", dan "McCarthyisme Global" digunakan untuk membaca bagaimana narasi dalam The Color Curtain mencerminkan sekaligus mendukung agenda ideologis Amerika Serikat pada masa Perang Dingin. Teori Gramsci tentang hegemoni, intelektual organik, perang kultural (war of position), ideologi, dan kontra-hegemoni (counterposing) digunakan untuk mengevaluasi posisi intelektual Wright dan implikasi ideologis dari narasi-narasinya.

Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan pembacaan teks secara mendalam terhadap The Color Curtain, dikombinasikan dengan sumber primer dan sekunder yang meliputi literatur Perang Dingin, biografi Wright, dan dokumen resmi Konferensi Asia-Afrika. Data dianalisis secara induktif untuk membangun pola-pola tematik terkait keterlibatan Wright dalam strategi kebudayaan Perang Dingin Amerika.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa The Color Curtain bukan sekadar catatan perjalanan sastrawi. Wright, yang mendapat dana dari Congress for Cultural Freedom (CCF) yang berafiliasi dengan CIA, secara strategis membingkai Konferensi Bandung dalam narasi yang sejalan dengan kepentingan Amerika: menyebarkan ketakutan terhadap komunisme (Red Scare) ke tingkat global, mengidentifikasi potensi ancaman komunis, memberikan saran strategis untuk menghadapi komunis Cina, dan mempromosikan figur-figur intelektual Indonesia yang pro-Barat. Karya ini menjadi intervensi kultural dan intelektual yang efektif dalam upaya hegemoni ideologis Amerika Serikat di tengah gelombang dekolonisasi dan perebutan pengaruh di Dunia Ketiga. Dengan demikian, kontribusi Wright tidak hanya sebagai saksi sejarah, tetapi juga sebagai pelaku aktif dalam perang ide global yang tersembunyi (covert war).

This thesis investigates the critical role of Richard Wright’s The Color Curtain: A Report on the Bandung Conference (1956) within the larger framework of the Cultural Cold War. The study is grounded in the historical context of the Cold War, particularly the ideological conflict between the United States and the Soviet Union, which was waged through not only military and political channels but also cultural and intellectual instruments. While The Color Curtain has previously been explored through postcolonial, literary, and transnational lenses, its significance as a Cultural Cold War artifact has received little scholarly attention, creating a research gap this thesis aims to fill.

To address this lacuna, the study adopts the theoretical frameworks of Cold War American Studies and Antonio Gramsci’s Marxist theory of hegemony. Concepts such as "Cultural Cold War," "Global Cold War," "Red Scare," "McCarthyism," and "Global McCarthyism" are applied to interpret how Wright’s reportage both reflects and advances U.S. Cold War objectives. Gramsci’s ideas—especially those on hegemony, organic intellectuals, war of position, ideology, and counterposing—are employed to critically examine Wright’s intellectual position and the ideological implications of his narratives.

The research employs a qualitative method, using close textual analysis of Wright’s The Color Curtain alongside a wide array of primary and secondary sources, including Cold War literature, Wright’s biographies, and official Bandung Conference documents. The data is analyzed inductively to build thematic patterns regarding Wright’s embeddedness in Cold War cultural strategies.

The findings reveal that The Color Curtain functioned as more than just a literary travelogue. Wright, funded by the CIA-linked Congress for Cultural Freedom, strategically framed the Bandung Conference in ways that supported U.S. anti-communist narratives: spreading the Red Scare internationally, identifying communist threats, advising Western engagement in Asia and Africa, and promoting pro-Western Indonesian intellectuals. His work served as a cultural-intellectual intervention that aligned with U.S. hegemony during a critical moment of decolonization and ideological contestation. Thus, Wright’s contribution is significant not merely as a witness to history but as a participant in a covert war of ideas.

Kata Kunci : Richard Wright, The Color Curtain, Congress for Cultural Freedom, Bandung Conference, Cultural Cold War

  1. S2-2025-486789-abstract.pdf  
  2. S2-2025-486789-bibliography.pdf  
  3. S2-2025-486789-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2025-486789-title.pdf