Analisis Pengaruh Steel Slag Sebagai Pengganti Agregat Halus Pada Campuran AC-WC Terhadap Ketahanan Rutting, Skid, dan Moisture Damage
Iqbal Rizqi Kurnia, Ir. Taqia Rahman, S.T., M.Sc., Ph.D.
2025 | Skripsi | TEKNIK SIPIL
Perkerasan lentur merupakan jenis perkerasan jalan yang paling
banyak digunakan di dunia dengan persentase mencapai 95%, menyebabkan konsumsi
tajam dan penurunan jumlah agregat alam seperti kerikil dan pasir secara
drastis. Penambangan agregat alam tak terbarukan menyebabkan konsumsi energi
yang tinggi dan kerusakan lingkungan ekologi disekitarnya.
Di sisi lain, limbah samping dari industri baja berupa steel slag terus
meningkat, menimbulkan permasalahan lingkungan akibat pelindian logam berat.
Oleh karena itu, pemanfaatan steel slag sebagai material alternatif
dalam konstruksi perkerasan jalan dinilai potensial karena memiliki
karakteristik fisik dan kimia yang mendukung kekuatan dan durabilitas
perkerasan.
Penelitian ini
menganalisis pengaruh substitusi agregat halus dengan steel slag
terhadap performa campuran Asphalt Concrete-Wearing Course (AC-WC),
difokuskan pada ketahanan terhadap rutting, skid, dan kerusakan
akibat air (moisture damage). Tujuan utamanya adalah mengevaluasi
performa campuran AC-WC dengan variasi kadar steel slag (0%, 20%, dan
40%) pada Kadar Aspal Optimum (KAO), serta mengidentifikasi kadar steel slag
yang paling optimal berdasarkan hasil pengujian. Pengujian yang dilakukan
meliputi Wheel Tracking (WT), British Pendulum Test (BPT), Indirect
Tensile Strength (ITS), dan stabilitas Marshall sisa.
Digunakan sampel berbentuk slab yang dipadatkan menggunakan slab roller
compactor untuk merepresentasikan hasil pemadatan lapangan, sementara
sampel silinder diperoleh melalui core drilling.
Hasil pengujian
menunjukkan bahwa substitusi agregat halus dengan steel slag secara
signifikan meningkatkan performa campuran AC-WC. Campuran dengan kadar steel
slag 40% menunjukkan ketahanan rutting terbaik, dengan nilai rut
depth 5.31 mm, kecepatan deformasi permanen 0.013 mm/menit, dan stabilitas
dinamis 3327.54 lintasan/mm pada lintasan ke-5040. Skid resistance juga
meningkat seiring bertambahnya kadar steel slag (0%, 20%, 40%), dengan
nilai BPN berturut-turut 71.65, 78.85, dan 89. Ketahanan campuran terhadap
kerusakan akibat air menunjukkan peningkatan, dengan kadar steel slag
20% memberikan performa paling optimal, dibuktikan dengan nilai Tensile
Strength Ratio (TSR) sebesar 86.94?n Retained Marshall Stability (RMS)
sebesar 95.07%.
Flexible pavement is the most widely used
pavement type in road construction worldwide, accounting for approximately 95%
of total usage. This high dependency has resulted in excessive exploitation of
natural aggregates such as gravel and sand, leading to significant
environmental degradation and high energy consumption due to non-renewable
resource extraction. Concurrently, the steel industry generates substantial
amounts of steel slag, a by-product that poses environmental concerns related
to the leaching of heavy metals. Consequently, steel slag has emerged as a
potential alternative material in pavement construction, owing to its favorable
physical and chemical properties that enhance pavement strength and durability.
This study aims to evaluate the
performance of Asphalt Concrete-Wearing Course (AC-WC) mixtures incorporating
steel slag as a partial replacement for fine aggregate. The research focuses on
assessing rutting resistance, skid resistance, and moisture susceptibility.
Asphalt mixtures were prepared with steel slag contents of 0%, 20%, and 40% at
the optimum asphalt content. Laboratory tests included the Wheel Tracking Test,
British Pendulum Test (BPT), Indirect Tensile Strength (ITS), and Retained
Marshall Stability. Slab specimens were compacted using a slab roller compactor
to simulate field conditions, while cylindrical specimens were obtained through
core drilling for further testing.
The results indicate that substituting
fine aggregate with steel slag significantly enhances mixture performance. The
mixture with 40% steel slag exhibited superior rutting resistance, with a rut
depth of 5.31 mm, a deformation rate of 0.013 mm/min, and a dynamic stability
of 3327.54 passes/mm. Skid resistance increased progressively with steel slag
content, as reflected by British Pendulum Number (BPN) values of 71.65, 78.85,
and 89. The mixture containing 20% steel slag demonstrated the highest resistance
to moisture damage, with a Tensile Strength Ratio (TSR) of 86.94% and a Retained
Marshall Stability (RMS) of 95.07%.
Kata Kunci : Steel slag, Wheel Tracking, Skid Resistance, Indirect Tensile Strength, stabilitas Marshall sisa