EVALUASI ERGONOMI DAN KESELAMATAN & KESEHATAN KERJA (K3) PADA PEKERJAAN PRODUKSI KAYU BAGI PENYANDANG DISABILITAS DI SEKOLAH LUAR BIASA (SLB) BANTUL 1 YOGYAKARTA
Ellen Hardianti, Ir. Rini Dharmastiti, M.Sc., Ph.D., IPM., ASEAN Eng.
2025 | Skripsi | TEKNIK INDUSTRI
Pekerja penyandang disabilitas di lingkungan
pendidikan vokasional seperti Sekolah Luar Biasa (SLB) memiliki tantangan
tersendiri dalam proses produksi kriya kayu, khususnya dari sisi ergonomi dan
keselamatan kerja (K3). Minimnya
penelitian yang mengevaluasi kondisi kerja mereka menimbulkan potensi risiko
cedera dan ketidaknyamanan dalam aktivitas kerja. Oleh karena itu, penelitian
ini bertujuan untuk mengevaluasi kondisi ergonomi, lingkungan kerja, serta
risiko keselamatan kerja pada aktivitas produksi kayu di SLB Negeri 1 Bantul
Yogyakarta, serta memberikan rekomendasi perbaikan berbasis hasil temuan.
Metode yang digunakan mencakup pendekatan
observasional deskriptif dengan teknik penilaian ergonomi melalui metode REBA
dan QEC, penilaian risiko kerja menggunakan HIRARC, evaluasi kondisi lingkungan
(kebisingan, pencahayaan, dan iklim kerja), serta analisis penerapan prinsip 5S
(Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, Shitsuke). Data dikumpulkan melalui observasi
langsung terhadap aktivitas kerja siswa disabilitas dan pengukuran lingkungan
kerja menggunakan instrumen standar.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 11 aktivitas kerja kriya kayu, dua aktivitas berisiko tinggi terutama pada pemotongan menggunakan table saw dan pemotongan dengan skor REBA mencapai 10 dan skor QEC sebesar 62 serta skor HIRARC 20 dalam kategori tinggi. Evaluasi lingkungan kerja mengungkapkan bahwa intensitas pencahayaan di area pemasangan pola, penghalusan dan pembuatan lubang hanya sebesar 248,4 lux, 151,2 lux dan 156,5 lux, jauh di bawah standar 300 lux untuk pekerjaan permesinan. Selain itu, tingkat kebisingan di area pemotongan dan penghalusan mencapai 110,7 dB(A) dan 112 dB(A) dengan durasi lebih dari ambang batas paparan 110 dB(A) dengan durasi maksimum hanya 0,94 menit berdasarkan aturan Permenaker. Penerapan prinsip 5S juga masih rendah, terutama pada aspek standarisasi (20%) dan kedisiplinan (33%). Rekomendasi perbaikan meliputi penggunaan alat pelindung diri (APD) yang sesuai seperti earmuff dengan kemampuan reduksi kebisingan hingga 50 dB(A), spectacles, masker KN95, serta sarung tangan berbahan canvas atau kulit untuk melindungi tangan dari luka dan panas. Penataan ulang tata letak kerja, penambahan pencahayaan buatan seperti lampu LED 16 watt, dan penyediaan meja untuk workstation pembuatan lubang diusulkan untuk menurunkan risiko cedera serta menciptakan lingkungan kerja yang lebih aman bagi siswa.
Workers with disabilities in
vocational education settings, such as Special Schools (Sekolah Luar Biasa
or SLB), face unique challenges in woodcraft production, particularly
concerning ergonomics and occupational health and safety (OHS). The limited
number of studies evaluating their working conditions poses potential risks of
injury and discomfort during work activities. Therefore, this study aims to
evaluate ergonomic conditions, the work environment, and occupational safety
risks in wood production activities at SLB Negeri 1 Bantul, Yogyakarta, as well
as to provide recommendations for improvement based on the findings.
The method used is a
descriptive observational approach with ergonomic assessment techniques through
the REBA and QEC methods, risk evaluation using HIRARC, environmental condition
assessments (noise, lighting, and thermal comfort), and analysis of 5S implementation
(Seiri, Seiton, Seiso, Seiketsu, Shitsuke). Data were collected through direct
observation of work activities conducted by students with disabilities and
environmental measurements using standard instruments.
The results show that out of 11 woodcraft activities, two were categorized as high risk, particularly those involving the use of a table saw, with a REBA score of 10, QEC score of 62, and a HIRARC score of 20 (high category). Environmental evaluations revealed that lighting intensity in the pattern assembly sanding and drilling areas was only 248,4 lux, 151.2 lux and 156.5 lux, far below the 300 lux standard for machine work. Additionally, noise levels in the cutting and sanding areas reached 110.7 dB(A) and 112 dB(A), exceeding the 110 dB(A) exposure threshold with a maximum permissible duration of just 0.94 minutes according to Ministry of Manpower regulations. The application of the 5S principles also remained low, particularly in standardization (20%) and discipline (33%). Recommended improvements include the use of appropriate personal protective equipment (PPE) such as earmuffs with a noise reduction capability of up to 50 dB(A), safety spectacles, KN95 masks, and gloves made of canvas or leather to protect hands from injury and heat. Reorganizing the workspace layout, adding artificial lighting such as 16-watt LED lamps, and providing tables for drilling workstations are proposed to reduce injury risks and create a safer and more ergonomic work environment for students.
Kata Kunci : Ergonomi, Disabilitas, Keselamatan Kerja, REBA, QEC, HIRARC, SLB, Kriya Kayu, Metode 5S