Prarancangan Pabrik Pupuk NPK via Green Ammonia Kapasitas 200.000 Ton/Tahun
Galan Adiwidya Putra, Maulana Gilar Nugraha, S.T., M.Eng., Ph.D.
2025 | Skripsi | TEKNIK KIMIA
Pupuk NPK 15-15-15
merupakan salah satu jenis pupuk majemuk yang mengandung nitrogen (N), fosfor
(P), dan kalium (K) seimbang, yang sangat dibutuhkan untuk meningkatkan
produktivitas pertanian. Dalam upaya mendukung keberlanjutan dan mengurangi
emisi karbon, pabrik ini dirancang menggunakan green ammonia sebagai
salah satu bahan baku utama. Green ammonia adalah amonia yang diproduksi
menggunakan sumber energi terbarukan, yaitu nitrogen dan hidrogen yang
bersumber dari air, sehingga tidak menghasilkan emisi karbon. Pabrik green
ammonia ini dirancang untuk beroperasi selama 24 jam per hari dan 330 hari
per tahun.
Bahan baku yang digunakan
adalah air sebanyak 4665,63650 kg/jam dan udara sebanyak 3236,7015 kg/jam.
Bahan baku nitrogen didapatkan dari memproses udara di Pressure Swing
Adsorption melalui packed bed bertekanan tinggi dengan adsorben CMS untuk
memisahkan O2 yang terkandung di dalam udara. Bahan baku hidrogen
didapatkan dari elektrolisis air di Electrolyzer (R-101) untuk pemisahan
molekul hidrogen dan oksigen. Gas hidrogen dan nitrogen disintesis menjadi
amonia di dalam Ammonia Converter (R-102) dengan suhu 325 oC
dan tekanan 155 atm. Uap amonia sebesar 2244,9875 kg/jam direaksikan dengan
asam sulfat 90% sebanyak 6982,0391 kg/jam dalam Bubble Reactor (R-201)
dengan suhu 95 oC dan tekanan atmosferis. Hasil reaksi berupa slurry
yang akan dialirkan ke Centrifuge (CF-201) dan dikeringkan di Rotary
Dryer (RD-201) agar kandungan airnya seuai dengan spesifikasi bahan baku
NPK. Pabrik ini direncanakan berkapasitas 200.000 ton/tahun dengan
proses pembuatan NPK melalui metode granulasi. Tahapan proses pembuatan
NPK meliputi pencampuran bahan baku (amonium sulfat, diamonium fosfat, kalium
klorida, urea, dan clay), granulasi, pengeringan, pendinginan,
pengayakan, dan pengemasan. Kebutuhan air pabrik sebanyak 37.445,4210 kg/jam
disuplai dari Sungai Kayan. Kebutuhan listrik akan disuplai dari PLTA Kayan sebesar
29.928,9285 kW.
Seluruh proses pembangunan
dan produksi pada pabrik ini memerlukan fixed capital sebesar $
59.967.170,18 + Rp 1.429.304.314.964,53; working capital sebesar $
50.937.942,07 + Rp 34.507.610.813,95; dan manufacturing cost sebesar $
76.283.031,24 + Rp 321.908.454.236,10. Produk NPK akan dijual dengan harga $
630,4/ton. Berdasarkan tekanan dan suhu operasional pabrik, serta teknologi
yang masih baru, pabrik ini masuk ke dalam kategori industri high risk.
Nilai POT sebelum pajak sebesar 4,08 tahun, POT setelah pajak 4,84 tahun, ROI
sebelum pajak sebesar 17,59%, ROI setelah pajak sebesar 13,72%, BEP sebesar
52,76%, dan SDP sebesar 27,36%. Nilai POT menunjukkan waktu yang dibutuhkan
untuk mengembalikan modal awal dari keuntungan proyek. Nilai POT yang ideal
untuk industri dengan kategori high risk adalah sebesar 2 tahun. Nilai
POT yang singkat menunjukkan bahwa investasi dapat balik modal dalam waktu
relatif cepat, mengurangi risiko finansial dan meningkatkan minat investor.
Oleh karena itu, berdasarkan hasil evaluasi pada parameter ekonomi di atas,
dapat disimpulkan bahwa pabrik ini menguntungkan tetapi kurang menarik dari
sisi investasi.
NPK 15-15-15 fertilizer is
a type of compound fertilizer containing balanced nitrogen (N), phosphorus (P),
and potassium (K), which is highly needed to enhance agricultural productivity.
In an effort to support sustainability and reduce carbon emissions, this plant
is designed to use green ammonia as one of its main raw materials. Green
ammonia is ammonia produced using renewable energy sources, where nitrogen and
hydrogen are sourced from water, thus producing no carbon emissions. This green
ammonia plant is designed to operate 24 hours per day for 330 days per year.
The raw materials used are
water at 4,665.63650 kg/h and air at 3,236.7015 kg/h. The nitrogen feedstock is
obtained by processing air in a Pressure Swing Adsorption unit through a
high-pressure packed bed with Carbon Molecular Sieve (CMS) adsorbent to separate
the oxygen contained in the air. The hydrogen feedstock is obtained from water
electrolysis in an Electrolyzer (R-101) to separate hydrogen and oxygen
molecules. The hydrogen and nitrogen gases are synthesized into ammonia in an
Ammonia Converter (R-102) at 325°C and 155 atm. Ammonia vapor at 2,244.9875
kg/h is reacted with 90% sulfuric acid at 6,982.0391 kg/h in a Bubble Reactor
(R-201) at 95°C and atmospheric pressure. The reaction produces a slurry that
will be fed into a Centrifuge (CF-201) and dried in a Rotary Dryer (RD-201) to
achieve the moisture content according to NPK raw material specifications. This
plant is planned with a production capacity of 200,000 tons/year using the
granulation method for NPK production. The NPK production stages include raw
material mixing (ammonium sulfate, diammonium phosphate, potassium chloride,
urea, and clay), granulation, drying, cooling, screening, and packaging. The
plant’s water demand of 37,445.4210 kg/h is supplied from the Kayan River. The
electricity demand of 29,928.9285 kW is supplied from a hydroelectric power
plant (PLTA).
The entire construction and
production process of this plant requires a fixed capital of $59,967,170.18 +
IDR 1,429,304,314,964.53; working capital of $50,937,942.07 + IDR
34,507,610,813.95; and manufacturing cost of $76,283,031.24 + IDR
321,908,454,236.10. The NPK product will be sold at $630.4/tonne. Based on the
plant’s operational pressure and temperature, as well as the relatively new
technology, this plant falls into the high-risk industry category. The pre-tax
POT is 4.08 years, post-tax POT is 4.84 years, pre-tax ROI is 17.59%, post-tax
ROI is 13.72%, BEP is 52.76%, and SDP is 27.36%. The POT value indicates the
time required to recover the initial investment from project profits. The ideal
POT value for high-risk industries is 2 years. A short POT value indicates that
the investment can break even relatively quickly, reducing financial risk and
increasing investor interest. Therefore, based on the evaluation of the
economic parameters above, it can be concluded that this plant is profitable
but less attractive from an investment perspective.
Kata Kunci : Amonia hijau, elektrolisis air, granulasi, pupuk NPK