Perdagangan Buah di Perkotaan Jawa Pada Akhir Abad ke-19 Hingga Awal Abad ke-20
Lenna Aurelia Amalia, Dr. Widya Fitria Ningsih, M.A.
2025 | Skripsi | ILMU SEJARAH
Penelitian
ini mengkaji aktivitas perdagangan buah-buahan di perkotaan Jawa sejak akhir
abad ke-19 hingga awal abad ke-20 dengan menelusuri interaksi antara faktor
produksi, distribusi, hingga konsumsi melalui pendekatan sejarah
sosial-ekonomi. Sebagian besar penelitian sejarah sosial-ekonomi yang telah ada
serta yang membahas tanaman sebagai komoditas, kebanyakan hanya membahas
tentang tanaman pokok atau pun tanaman yang diperuntukkan sebagai komoditas
global saja. Adapun buah-buahan sebagai makanan non-pokok cenderung masih
jarang dibahas, khususnya yang ditujukan untuk praktik konsumsi lokal. Padahal,
terdapat konsepsi “ekonomi-pekarangan” dalam rumah tangga penduduk di Jawa yang
mana buah-buahan memiliki posisi yang penting di dalamnya.
Berdasarkan
metode penelitian sejarah yang dilakukan melalui penelusuran terhadap sumber
primer serta sekunder, dapat disimpulkan bahwa ketika itu, buah-buahan sudah
diposisikan menjadi salah satu komoditas yang penting, khususnya di wilayah
perkotaan Jawa. Hal ini dilatarbelakangi oleh proses modernisasi yang telah
mengubah lanskap demografi perkotaan, perubahan gaya hidup modern dan munculnya
kesadaran kesehatan, serta program khusus dari pemerintah kolonial. Penelitian
ini juga menyoroti tentang peranan penting perempuan dan kanak-kanak dalam
aktivitas perdagangan buah hingga peristiwa krisis Malaise yang mengindikasikan
semakin meningkatnya pekerjaan informal sebagai pedagang buah. Lebih lanjut,
penelitian ini juga menemukan bahwa dalam kehidupan di Jawa, mengonsumsi buah
tidak terbatas pada praktik memakan buah-buahan saja, melainkan juga
pemanfaatan buah-buahan dalam berbagai praktik sosial lainnya. Hal ini meliputi
penyertaan buah-buahan dalam budaya visual serta pameran kolonial, penyertaan
buah-buahan dalam ritual berbagai ritus kepercayaan, penyertaan buah-buahan
sebagai media tali kasih, hingga penyertaan buah-buahan dalam pemikiran
imajinatif dan konseptual yang diwujudukan melalui berbagai toponimi,
peribahasa serta metafora.
This
research examines fruit trading activities in urban Java from the late 19th
century to the early 20th century by tracing the interaction between
production, distribution and consumption factors through a socio-economic
history approach. Most of the existing socio-economic history research that
discusses crops as commodities, mostly only discusses staple crops or crops
designated as global commodities. Fruits as non-staple foods tend to be rarely
discussed, especially those intended for local consumption practices. In fact,
there is a conception of “house-gardens economy” in Javanese households where
fruits have an important position in it.
Based
on historical research methods conducted through tracing primary and secondary
sources, it can be concluded that at that time, fruits were positioned as an
important commodity, especially in urban Java. This was due to the process of
modernization that had changed the urban demographic landscape, changes in
modern lifestyles and the emergence of health awareness, as well as special
programs from the colonial government. The research also highlighted the
important role of women and children in fruit trading activities until the
Malaise crisis, which indicated an increase in informal employment as fruit
traders. Furthermore, the study found that in Javanese life, fruit consumption
was not limited to the practice of eating fruits, but also the use of fruits in
various other social practices. This includes the inclusion of fruits in visual
culture and colonial exhibitions, the inclusion of fruits in rituals of various
belief rites, the inclusion of fruits as a medium of intimacy, and the
inclusion of fruits in imaginative and conceptual thinking manifested through
various toponyms, proverbs and metaphors.
Kata Kunci : Perdagangan buah, Hortikultura, Modernisasi, Perempuan dan kanak-kanak, Krisis Malaise, Pameran buah-buahan, Toponimi.