Analisis Stabilitas Lereng Batuan dengan Perkuatan Dinding Penahan Tanah (Studi Kasus: Sisi Barat Laut Gunung Gedang, Seyegan, Sleman, D.I. Yogyakarta)
ALEXANDER PARAMBAN, Dr. Eng. Fikri Faris, S.T., M.Eng.
2025 | Skripsi | TEKNIK SIPIL
Lereng pada sisi barat laut Gunung Gedang dengan tinjauan bore hole 2 (BH-2) memiliki kondisi litologi yang didominasi oleh lapisan batuan yang terbentuk dari material vulkanik yang mengalami pemadatan yaitu batuan tuf dan batuan dasit, namun telah mengalami pelapukan yaitu dengan tingkat pelapukan sedang sampai sangat tinggi. Pada umumnya, batuan tuf memiliki kekuatan yang lebih rendah dan dengan permeabilitas yang lebih tinggi dibandingkan batuan dasit. Dengan adanya rencana pembangunan perumahan, maka dilakukan penggalian lereng hingga diperoleh ketinggian lereng rencana 7 meter dan kemiringan lereng rencana yang curam dengan sudut 80°. Kondisi – kondisi tersebut mengindikasikan bahwa terdapat kecenderungan terjadinya kelongsoran yang dapat membahayakan bangunan di atasnya. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian untuk menganalisis stabilitas lereng setelah penggalian dan mengevaluasi hasil analisis tersebut.
Kondisi eksisting lereng yang ditinjau memiliki ketinggian 42 meter dan data yang digunakan untuk analisis merupakan data bor log dan laboratorium. Data lapisan tanah dan batuan diinterpretasi lalu parameter propertis material dihitung menggunakan metode kriteria keruntuhan Hoek-Brown. Analisis stabilitas lereng dilakukan dengan metode elemen hingga menggunakan software PLAXIS 2D v24 yang diawali dengan analisis stabilitas lereng setelah penggalian pada kondisi tanpa perkuatan untuk mengetahui nilai safety factor. Setelah itu dilakukan trial perencanaan perkuatan dinding penahan tanah untuk berbagai variasi dimensi hingga didapatkan perkuatan dinding penahan tanah yang paling optimal.
Analisis stabilitas lereng pada kondisi tanpa perkuatan menghasilkan nilai safety factor sebesar 1,308 yang menunjukkan bahwa lereng dalam kondisi tidak aman (SF<1> trial untuk beberapa variasi dimensi dinding penahan tanah hingga diperoleh dimensi yang paling optimal yaitu dengan tinggi 4 meter. Analisis stabilitas lereng untuk dinding penahan tanah dengan tinggi 4 meter menghasilkan nilai safety factor untuk beban statis sebesar 1,953 dengan displacement arah x maksimum sebesar 0,0066 meter pada ketinggian 7 meter dan nilai safety factor untuk beban pseudostatik sebesar 1,205 dengan displacement arah x maksimum sebesar 0,0236 meter pada ketinggian 7 meter yang menunjukkan bahwa perkuatan tersebut sudah mampu menahan beban statis maupun gempa (pseudostatik) sesuai dengan persyaratan SNI 8460:2017. Dengan menggunakan perancangan dinding penahan tanah tipe gravitasi paling optimal yang dipilih yaitu dengan tinggi 4 meter, dilakukan perbandingan analisis stabilitas dinding penahan tanah untuk perhitungan analitis dengan numeris PLAXIS 2D v24 yang menghasilkan nilai safety factor dengan selisih yang kecil, sehingga hasil analisis stabilitas lereng sudah akurat.
The slope on the northwest side of Mount Gedang with a bore hole 2 (BH-2) review has a lithological condition dominated by a layer of rock formed from volcanic material that has compactionated, namely tuff rock and dacite rock, but has experienced weathering, namely with moderate to very high levels of weathering. In general, tuff rocks have lower strength and with higher permeability than dacite rocks. With the housing development plan, slope excavation was carried out until the height of the planned slope was 7 meters and the slope of the plan slope was steep with an angle of 80°. These conditions indicate that there is a tendency for landslides that can endanger the buildings on them. Therefore, it is necessary to conduct research to analyze the stability of the slope after excavation and evaluate the results of the analysis.
The existing condition of the slope reviewed has a height of 42 meters and the data used for analysis is drill log and laboratory data. The soil and rock layer data were interpreted and then the material property parameters were calculated using the Hoek-Brown collapse criteria method. Slope stability analysis was carried out using the element method to use PLAXIS 2D v24 software which began with slope stability analysis after excavation in conditions without reinforcement to determine the value of safety factors. After that, a trial of planning the reinforcement of the retaining wall was carried out for various dimensional variations until the most optimal retaining wall reinforcement was obtained.
Slope stability analysis in unreinforced conditions yielded a safety factor value of 1,308 which indicates that the slope is in an unsafe condition (SF<1>pseudostatic loads of 1,205 with a maximum x-direction displacement of 0,0236 meters at an altitude of 7 meters which shows that the reinforcement is able to withstand static and earthquake loads (pseudostatic) in accordance with the requirements of SNI 8460:2017. Using the design of the most optimal gravity retaining wall that was chosen, which is with a height of 4 meters, a comparison of the stability analysis of the retaining wall was carried out for analytical calculation with the PLAXIS 2D v24 numerical which produced a safety factor value with a small difference, so that the results of the slope stability analysis were accurate.
Kata Kunci : stabilitas lereng, dinding penahan tanah, nilai safety factor (SF), displacement, PLAXIS 2D v24