Redesain Jembatan Pandansimo Dengan Penambahan Lapisan Beton Bertulang Sebagai Struktur Komposit Baja Gelombang (Corrugated Steel Plate)
Hanif Abiyyu Ali Rafif, Dr. Ir. Inggar Septhia Irawati, S.T., M.T., IPM
2025 | Skripsi | TEKNIK SIPIL
Jembatan Pandansimo merupakan salah satu infrastruktur penting di Daerah Istimewa Yogyakarta. Jembatan ini dirancang dengan struktur utama berupa pelengkung baja bergelombang (Corrugated Steel Plate atau CSP) yang ditimbun dengan material mortar busa ringan. Teknologi ini dikenal sebagai Corrugated Steel Mortar Busa Pusjatan (CMP). Selain itu, jembatan ini juga dilengkapi dengan sistem base isolation berupa Lead Rubber Bearing (LRB) untuk mereduksi gaya gempa yang diteruskan ke struktur atas jembatan. Sistem isolasi ini berfungsi untuk meningkatkan ketahanan seismik jembatan dengan cara memperpanjang periode getar struktur, sehingga respon dinamik terhadap gempa menjadi lebih kecil. Seiring dengan berkembangnya penerapan teknologi CMP, muncul inovasi dalam bentuk struktur komposit antara CSP dan lapisan beton bertulang. Penambahan lapisan beton ini berfungsi sebagai perkuatan tambahan pada baja gelombang. Akan tetapi, pendekatan inovasi tersebut belum diterapkan pada Jembatan Pandansimo. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk merancang ulang struktur Jembatan Pandansimo dengan menambahkan lapisan beton bertulang pada baja gelombang, sehingga membentuk sistem struktur komposit yang juga tetap mengintegrasikan sistem isolasi seismik. Kemudian, juga akan dilakukan analisis perbandingan terhadap struktur eksisting (struktur non-komposit) dari berbagai aspek teknis. Perancangan serta analisis dilakukan pada segmen bentang tengah jembatan yaitu P12-P17, dengan panjang setiap bentang 25 meter dan menggunakan perangkat lunak MIDAS Civil. Desain lapisan beton bertulang mencakup ketebalan beton, tulangan utama, tulangan susut, dan shear connector. Hasil perancangan menghasilkan dua alternatif desain lapisan beton bertulang setebal 25 cm dan 30 cm. Kemudian hasil analisis menunjukkan bahwa struktur komposit mampu mereduksi tegangan, lendutan, serta gaya dalam pada CSP dibandingkan dengan struktur non-komposit. Tegangan tekan dan tarik pada dinding tepi serta potensi kegagalan mortar busa juga bisa tereduksi. Namun, pada elemen balok pedestal, struktur komposit menunjukkan peningkatan tegangan dibandingkan struktur non-komposit. Penambahan massa akibat lapisan beton juga menyebabkan periode struktur menjadi lebih besar dan peningkatan gaya aksial pada LRB, disertai juga dengan peningkatan perpindahan dan gaya geser isolator.
Pandansimo Bridge is
one of the important infrastructures in the Special Region of Yogyakarta. The
bridge is designed with a main structure in the form of a corrugated steel
plate (CSP) arch, which is filled with lightweight foam mortar material. This
technology is known as Corrugated Steel Mortar Busa Pusjatan (CMP). In
addition, the bridge is also equipped with a base isolation system using Lead
Rubber Bearings (LRB) to reduce earthquake forces transmitted to the
superstructure. This isolation system functions to improve the seismic
resistance of the bridge by extending the natural period of the structure,
thereby reducing its dynamic response to earthquakes. Along with the
development of CMP technology, innovations have emerged in the form of
composite structures between CSP and reinforced concrete layers. The addition
of the concrete layer serves as additional protection against potential
corrosion that may accelerate structural failure. However, this innovative
approach has not yet been applied to the Pandansimo Bridge.
Kata Kunci : Jembatan Pandansimo, Corrugated Steel Plate (CSP), Lead Rubber Bearing (LRB), lapisan beton, struktur komposit.