Analisis Pengaruh Gross Domestic Product, Inflasi, dan Ekspor pada Volatilitas Nilai Tukar Rupiah Terhadap US Dollar Dalam Jangka Pendek dan Jangka Panjang
Muhammad Adam Siregar, Laksmi Yustika Devi, S.P., M.Si., Ph.D.
2025 | Tugas Akhir | D4 PEMBANGUNAN EKONOMI KEWILAYAHAN
Dalam beberapa waktu belakangan ini, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) menunjukkan fluktuasi yang cukup signifikan, yang dapat dilihat dari data bulan Desember 2024 yang mencatat angka Rp15.856,57 per dolar AS. Dengan demikian, penulis dalam penelitian ini memiliki tiga tujuan utama. Yang pertama adalah untuk mengidentifikasi dampak GDP, inflasi, dan ekspor terhadap fluktuasi nilai tukar dalam waktu pendek. Tujuan kedua adalah untuk memahami pengaruh GDP, inflasi, dan ekspor terhadap fluktuasi nilai tukar dalam jangka waktu panjang. Tujuan ketiga adalah menganalisis tren nilai tukar rupiah dalam periode lima tahun mendatang (2025-2030). Metodologi yang digunakan oleh penulis meliputi ARDL dan ARIMA. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa dalam jangka pendek dan panjang, GDP dan inflasi berdampak pada nilai tukar. Selain itu, dari hasil metode ARIMA dengan model (1,1,0), ditemukan bahwa dalam lima tahun ke depan, yaitu dari 2025 hingga 2030, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS cenderung menunjukkan tren depresiasi di setiap triwulannya.
Lately, the value of the Indonesian rupiah compared to the United States dollar (USD) has changed a lot. Data from December 2024 shows the exchange rate was IDR 15,856.57 per USD. So, this study has three goals. First, it will look at how GDP, inflation, and exports quickly affect how much the exchange rate changes. Second, it will study how GDP, inflation, and exports affect exchange rate changes over a long period. Third, it will predict how the rupiah's value will likely change over the next five years (2025–2030). This research uses the Autoregressive Distributed Lag (ARDL) model and the Autoregressive Integrated Moving Average (ARIMA) model. The findings show that GDP and inflation greatly affect the exchange rate, both in the short term and the long term. Also, the ARIMA model (1,1,0) suggests that the rupiah will likely lose value against the USD each quarter from 2025 to 2030.
Kata Kunci : Nilai Tukar, GDP, Inflasi, Ekspor