Gaya Bahasa Eufemisme dalam QS. Yusuf dan QS. An-Nur: Analisis Sosiopragmatik
Muh. Asrul Baharuddin, Dr. Arief Ma`nawi, S.S., M.Hum.
2025 | Tesis | S2 Linguistik
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji penggunaan eufemisme dalam Surah Yusuf dan Surah An-Nur melalui pendekatan sosiopragmatik. Fokus penelitian mencakup identifikasi bentuk-bentuk eufemisme, analisis komponen tindak tutur, serta penelusuran latar belakang sosial dan budaya yang melatarbelakangi pemilihan strategi bahasa tersebut. Kajian ini menyoroti bagaimana Al-Qur’an mengangkat tema-tema sensitif dengan cara yang santun dan penuh kehati-hatian, mencerminkan etika komunikasi yang tinggi. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan teknik studi kepustakaan (library research). Data primer diperoleh dari Al-Qur’an, khususnya Surah Yusuf dan Surah An-Nur, sedangkan data sekunder mencakup kitab tafsir, literatur linguistik, jurnal akademik, dan sumber ilmiah lain yang relevan. Analisis data dilakukan dengan menerapkan teori sosiopragmatik dan model SPEAKING dari Dell Hymes, yang memungkinkan peneliti memahami dinamika komunikasi dalam konteks wahyu secara lebih mendalam dan terstruktur.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa eufemisme dalam Surah Yusuf digunakan untuk menggambarkan godaan seksual, penderitaan, dan konflik batin dengan cara yang simbolik dan halus. Dalam Surah An-Nur, eufemisme tampak dalam penyampaian ajaran moral dan pembelaan terhadap martabat perempuan, terutama dalam peristiwa fitnah terhadap Aisyah r.a. Pemilihan diksi yang tidak vulgar dalam kedua surah tersebut menunjukkan upaya Al-Qur’an dalam menjaga kehormatan tokoh, memperkuat nilai-nilai etika, dan mengarahkan perilaku umat dengan cara yang santun.
Argumen utama dari penelitian ini adalah bahwa penggunaan eufemisme dalam Al-Qur’an tidak sekadar bersifat estetis, tetapi juga memiliki fungsi pragmatis dan sosial. Strategi ini mencerminkan kesadaran Al-Qur’an terhadap norma kesopanan dan sensitivitas budaya masyarakat Arab pada masa pewahyuan. Melalui eufemisme, Al-Qur’an mampu menyampaikan pesan-pesan teologis dan moral secara efektif tanpa menyinggung perasaan audiens atau menurunkan nilai etis dalam komunikasi.
This study aims to examine the use of euphemism in Surah Yusuf and Surah An-Nur through a sociopragmatic approach. The research focuses on identifying forms of euphemism, analyzing the components of speech acts, and exploring the socio-cultural background underlying the selection of such linguistic strategies. This study highlights how the Qur’an addresses sensitive themes in a polite and cautious manner, reflecting a high standard of communicative ethics. The method employed in this study is qualitative, utilizing library research techniques. Primary data were drawn from the Qur’an, specifically Surah Yusuf and Surah An-Nur, while secondary data comprised classical and modern tafsir (exegesis), linguistic literature, academic journals, and other relevant scholarly sources. Data analysis was conducted using sociopragmatic theory and Dell Hymes’ SPEAKING model, enabling the researcher to gain a deeper and more structured understanding of communicative dynamics within the context of divine revelation.
The findings reveal that euphemism in Surah Yusuf is employed to depict sexual temptation, suffering, and internal conflict in a symbolic and subtle manner. In Surah An-Nur, euphemism is evident in the articulation of moral teachings and the defense of women’s dignity, particularly in the context of the false accusation against Aisha (may Allah be pleased with her). The careful and non-explicit choice of diction in both surahs illustrates the Qur’an’s effort to preserve the honor of its characters, uphold ethical values, and guide the behavior of its audience with refined language.
The main argument of this study is that the use of euphemism in the Qur’an is not merely aesthetic but also serves pragmatic and social functions. This strategy reflects the Qur’an’s awareness of the norms of politeness and the cultural sensitivities of Arab society during the period of revelation. Through euphemism, the Qur’an effectively conveys theological and moral messages without offending its audience or compromising ethical standards in communication.
Kata Kunci : eufemisme, sosiopragmatik, tindak tutur, kesantunan berbahasa.