Laporkan Masalah

Keanekaragaman Tumbuhan dalam Ritual Adat Masyarakat Suku Biak, Kabupaten Biak Numfor, Papua Serta Upaya Konservasi

Oktafiani Lamatokan, Prof.Dr.Ratna Susandarini, M.Sc.

2025 | Tesis | S2 Biologi

Tumbuhan berperan penting dalam ritual adat masyarakat Suku Biak, sebagai perlengkapan upacara, simbol spiritual, dan identitas budaya yang diwariskan turun-temurun. Setiap tumbuhan memiliki makna khusus dan biasanya hanya digunakan oleh orang yang memahami aturan dan tradisinya. Penelitian ini bertujuan untuk mendokumentasikan keanekaragaman tumbuhan yang dimanfaatkan dalam ritual adat masyarakat Suku Biak di Kabupaten Biak Numfor, Papua, serta upaya konservasinya. Studi dilakukan di tiga distrik dan tujuh kampung, yaitu Distrik Andey (Kampung Wouna), Distrik Biak Utara (Kampung Korem), dan Distrik Napa Swandiwe (Kampung Napdori, Maudori, Swaipak, Ampumbukor), menggunakan metode wawancara mendalam dengan 17 informan, observasi partisipatif, dan eksplorasi lapangan. Analisis kuantitatif menggunakan Indeks Nilai Guna   ( Use Value , UV), Indeks Signifikansi Budaya  ( Index of Cultural Significance , ICS), dan Relative Frekwensi Citation (RFC). Hasil penelitian menunjukkan terdapat 101 spesies tumbuhan dari 57 famili yang digunakan dalam berbagai ritual adat, meliputi Ritual Wor , Apen bayeren , Wafwofer, Fannangki, ritual pencarian, pengobatan magis, dan Ararem . Spesies Areca catechu (pinang) dan Piper betle (sirih) memiliki nilai tertinggi pada indeks ketiga, dengan nilai UV untuk P. betle (sirih) adalah 2,41 dan A. catechu 2,24; nilai ICS tertinggi A.catechu mencapai 75; serta nilai RFC kedua spesies tersebut adalah 1,00, yang berarti seluruh informan menyebutkan dan memanfaatkan keduanya. Selain fungsi ritual, beberapa tumbuhan juga dimanfaatkan sebagai pangan, obat tradisional, serta tumbuhan juga berperan dalam menjaga keseimbangan lingkungan dan menjadi tempat hidup berbagai makhluk hidup. Upaya konservasi dilakukan melalui praktik kearifan lokal seperti sasi (sasisen) dan kalar, serta budidaya tumbuhan di pekarangan rumah. Penelitian ini memastikan pentingnya pelestarian pengetahuan tradisional dan konservasi tumbuhan ritual sebagai bagian upaya menjaga keanekaragaman hayati dan budaya lokal di tengah ancaman deforestasi dan perubahan sosial.   


Plants have an important role in the traditional rituals of the Biak people in Papua, both as ceremonial equipment, spiritual symbols, and cultural identity that has been passed down from generation to generation. Each type of plant has a special meaning and its use is only carried out by people who understand the rules and customary traditions. This study aims to document the diversity of plants used in the traditional rituals of the Biak Tribe community in Biak Numfor Regency, as well as conservation efforts made by the local community. The research was conducted in three districts and 6 villages, namely Andey District (Wouna Village), North Biak District (Korem Village), and Napa Swandiwe District (Napdori, Maudori, Swaipak, and Ampumbukor Villages). The methods used included in-depth interviews with 17 key informants, participatory observation, and field exploration. Data analysis was conducted quantitatively using Use Value (UV), Index of Cultural Significance (ICS), and Relative Frequency of Citation (RFC). The results showed that there were 101 plant species from 57 families used in various traditional rituals, such as wor, apen bayeren, wafwofer, fannangki, search rituals (hunting, making snares, fishing at sea), traditional medicine, and ararem. The two main species, Areca catechu (areca nut) and Piper betle (betel nut), scored the highest on all three indices: betel UV of 2.41 and areca nut 2.24; the highest ICS value for areca nut of 75; and the RFC value of both species of 1.00, which means that all informants mentioned and used them. In addition to ritual functions, some plants are also used as food sources, traditional medicines, and play a role in maintaining environmental balance. Conservation efforts are carried out through the application of local wisdom such as sasi (sasisen), kalar, and cultivation of plants in the yard. This research emphasizes the importance of preserving traditional knowledge and conserving ritual plants as part of efforts to maintain biodiversity and local culture, especially amid the threat of deforestation and social change.

Kata Kunci : Etnobotani, Tumbuhan ritual, Indeks Etnobotani, Suku Biak, Konservasi

  1. S2-2025-527567-abstract.pdf  
  2. S2-2025-527567-bibliography.pdf  
  3. S2-2025-527567-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2025-527567-title.pdf