PERUBAHAN LANSKAP MUARA SUNGAI BENGAWAN SOLO DI AFDELING GRESIK TAHUN 1882-1898
Ahmad Sholehuddin Suryanullah, Dr. Sri Margana, M.Hum., M.Phil.
2025 | Tesis | S2 Sejarah
Penelitian ini membahas sejarah perubahan lanskap di muara Sungai Bengawan Solo tahun 1882 sampai 1898. Penelitian ini mendiskusikan perubahan lanskap yang disebabkan oleh imajinasi dan ambisi kolonial guna membuka lahan perkebunan tebu beserta industri gula. Sistem kanal digunakan untuk mengendalikan masalah lingkungan di wilayah yang ekstrem. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah yang memanfaatkan beberapa sumber primer seperti laporan kolonial, laporan B.O.W, catatan perjalanan pegawai kolonial, surat kabar, foto, dan peta sezaman. Konsep yang digunakan untuk menganalisis penelitian ini yaitu “perubahan lanskap”, konsep tersebut dipakai untuk melihat faktor-faktor yang memengaruhi perubahan lanskap dan dampaknya terhadap masyarakat setempat. Penelitian ini menunjukkan bahwa upaya kolonial untuk mengendalikan lingkungan yang ekstrem dengan menerapkan sistem kanal berakibat pada berubahnya lanskap di wilayah muara Sungai Bengawan Solo pada paruh kedua abad ke-19, yakni dari rawa-rawa menjadi kanal di Ujung Pangkah, dari muara lama menjadi bendungan, dan dari kawasan perbukitan kapur menjadi kanal di Sidayu Lawas. Namun upaya tersebut mengalami kegagalan karena salah perhitungan dan kehabisan anggaran, akibatnya berdampak pada siklus banjir yang makin panjang dan siklus pertanian yang makin pendek. Kondisi tersebut memicu kriminalitas di wilayah Lembah Solo. Kegagalan sistem kanal juga berakibat pada pendapatan masyarakat Bumiputera yang makin menurun, akibatnya masyarakat memakan tumbuhan dan hewan sungai, bahkan memakan makanan dari bahan tanah liat yakni ampo. Masyarakat Bumiputera juga membangun bale-bale (rumah panggung) dan mengungsi di atas rakit ketika banjir melanda. Penelitian ini menyimpulkan bahwa perubahan lanskap di muara Sungai Bengawan pada paruh kedua abad ke-19 tidak mampu mengendalikan lingkungan, justru memperparah masalah lingkungan.
This study examines the history of landscape change at the mouth of the Bengawan Solo River from 1882 to 1898. This study discusses landscape changes caused by colonial imagination and ambition to open up land for sugarcane plantations and the sugar industry. The canal system was used to control environmental problems in extreme areas. This study uses a historical research method that utilizes several primary sources such as colonial reports, B.O.W. reports, travel notes of colonial officials, newspapers, photographs, and contemporary maps. The concept used to analyze this study is "landscape change." This concept is used to examine the factors that influence landscape change and its impact on local communities. This study shows that colonial efforts to control extreme environmental conditions by implementing a canal system resulted in changes in the landscape of the Bengawan Solo River estuary in the second half of the 19th century, namely from swamps to canals in Ujung Pangkah, from the old estuary to a dam, and from limestone hills to canals in Sidayu Lawas. However, these efforts failed due to miscalculations and budget constraints, resulting in longer flood cycles and shorter agricultural cycles. This condition triggered crime in the Solo Valley area. The failure of the canal system also resulted in a decrease in the income of the indigenous people, resulting in people consuming river plants and animals, even consuming food made from clay, namely ampo. Indigenous people also built bale-bale (stilt houses) and took refuge on rafts when floods struck. This study concludes that changes in the landscape of the Bengawan River estuary in the second half of the 19th century were unable to control the environment, but instead exacerbated environmental problems.
Kata Kunci : perubahan lanskap, lanskap, muara, sungai, Bengawan Solo.